“Kesabaran adalah kebajikan, dan saya belajar kesabaran. Ini adalah pelajaran yang sulit”. Begitu quote Elon Musk pendiri Tesla (mantan) orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Elon Musk sempat beberapa kali merasakan jadi orang terkaya dunia berkat saham Tesla yang meroket. Hari ini, kekayaan bersih Musk mencapai USD179,2 miliar atau setara dengan Rp2.535 triliun.
Saat ini posisi orang terkaya di dunia kembali dipegang oleh Jeff Bezos. Dilansir dari Forbes Real Time Net Worth di Jakarta, Senin (18/1/2021) bos Amazon, Jeff Bezos kekayaannya tercatat mencapai USD181,5 miliar atau setara dengan Rp2.551 triliun (kurs Rp 14.060).
Ada kesamaan yang bisa kita lihat dari kebiasaan para “triliuner” dunia. Mereka memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah-masalah sosial dan rajin berdonasi. Kita menyebut kebiasaan ini sebagai filantropi. Istilah “filantropi”, yang dalam bahasa Indonesia dimaknai “kedermawanan” dan “cinta kasih” terhadap sesama belum terlalu dikenal oleh khalayak luas, meski secara praktis kegiatan filantropi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.
Tampaknya
kita harus belajar dari kaum filantropi. Mereka memiliki empati yang besar
terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Harta yang berlimpah tidak semata
digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri-sendiri. Mereka “beramal” tentu
landasannya hanya alasan kemanusian, membantu kaum lemah, miskin dan
termarjinal di seluruh pelosok dunia. Setidaknya itu ungkapan Elon Musk "mewakili" kaum filantropi tentang alasan kedermawanannya, masalah kebajikan.
Sebenarnya
dalam ajaran agama Islam, komitmen terhadap kaum miskin dan lemah secara
simbolis direpresentasikan oleh kewajiban membayar zakat. Zakat bermakna
“membersihan” atau “menambah” harta. Pembayaran zakat dapat diartikan sebagai
sebuah proses membersihkan harta benda, dan mewujudkan ketetapan bahwa di dalam harta
yang dimiliki oleh orang-orang kaya terdapat hak untuk orang-orang miskin. Zakat
adalah bentuk “ibadah harta” yang bisa secara langsung berdampak pada
peningkatan kemampuan ekonomi umat. Dan seandainya kesadaran berzakat umat Islam sudah tinggi (optimal), niscaya akan terbangun keharmonisan umat, tidak terlalu jauh kesenjangan antara kaum lemah dan berada.