Dalam
kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai paradoks bahwa orang yang memiliki
banyak uang justru tidak memiliki cukup waktu. Kesibukan mengejar karier,
bisnis, dan ambisi materi membuat waktu mereka habis untuk bekerja. Di sisi
lain, mereka yang memiliki banyak waktu luang sering kali tidak mempunyai uang
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Orang
yang memiliki uang biasanya berada pada fase hidup yang penuh tuntutan.
Tanggung jawab pekerjaan, target pencapaian, serta tekanan sosial membuat waktu
menjadi sesuatu yang sangat mahal. Mereka rela menukar waktu bersama keluarga,
kesehatan, bahkan kebahagiaan demi stabilitas finansial. Tanpa disadari, waktu
yang terus berjalan tidak dapat dibeli kembali, seberapa pun banyaknya uang
yang dimiliki.
Sebaliknya,
orang yang memiliki banyak waktu sering kali berada pada kondisi ekonomi yang
terbatas. Waktu luang yang mereka miliki tidak selalu bisa dimanfaatkan secara
maksimal karena keterbatasan modal dan kesempatan. Akibatnya, waktu yang
seharusnya menjadi aset justru berlalu tanpa menghasilkan perubahan berarti.
Hal ini menegaskan bahwa waktu saja tidak cukup tanpa dukungan sumber daya yang
memadai.
Hidup
pada dasarnya sangat singkat, namun manusia sering menyadarinya terlambat.
Banyak orang menghabiskan masa muda untuk berjuang, bekerja keras, dan menunda
menikmati hidup. Ketika kejayaan dan kemapanan akhirnya tercapai, usia sudah
tidak lagi muda dan energi pun mulai berkurang. Pada titik ini, waktu menjadi
jauh lebih berharga daripada uang.
Oleh
karena itu, keseimbangan antara waktu dan uang menjadi hal yang penting dalam
hidup. Kejayaan yang datang di usia tua seharusnya menjadi pelajaran agar
manusia tidak hanya mengejar materi, tetapi juga menghargai waktu sejak dini.
Dengan menata prioritas hidup secara bijak, seseorang dapat menikmati proses,
bukan hanya hasil di akhir perjalanan. Hidup yang singkat akan terasa lebih
bermakna jika waktu dan kesempatan dimanfaatkan dengan seimbang.

Alhamdulillah.. Inspiratif dan mengena di sanubari
BalasHapus