Banyaknya pejabat yang terjerat kasus korupsi belakangan ini bikin
masyarakat makin geleng-geleng kepala. Hampir tiap bulan ada saja berita baru
tentang penyalahgunaan wewenang, suap, atau penggelapan dana. Padahal, jabatan
itu seharusnya jadi amanah untuk melayani rakyat, bukan ladang mencari
keuntungan pribadi.
Kalau dipikir-pikir, salah satu penyebabnya bisa jadi karena jabatan
sering diperebutkan mati-matian. Banyak orang berlomba-lomba ingin posisi
tinggi, entah lewat kampanye modal besar, lobi politik, atau bahkan cara-cara
yang kurang sehat. Ketika jabatan sudah diperoleh dengan ambisi kuat, terkadang
fokusnya bukan lagi pelayanan, melainkan “balik modal” atau mencari keuntungan.
Menariknya, situasi ini sebenarnya sudah diingatkan dalam hadis Nabi
Muhammad SAW. Beliau pernah menolak memberikan amanah kepada orang yang secara
langsung memintanya. Pesannya sederhana tapi dalam: orang yang terlalu
berambisi mengejar jabatan justru dikhawatirkan tidak siap memikul tanggung
jawabnya. Sebaliknya, amanah seharusnya diberikan kepada mereka yang kompeten
dan tidak haus kekuasaan.
Kalau kita tarik ke konteks modern, banyak kasus korupsi terjadi karena
jabatan dipandang sebagai tujuan, bukan tanggung jawab. Padahal, ketika seseorang
tidak terlalu mengejar posisi, biasanya ia lebih fokus pada kerja dan
integritas. Orang seperti ini cenderung lebih berhati-hati karena sadar bahwa
jabatan adalah amanah yang berat.
Dari sini, kita bisa belajar bahwa memilih pemimpin bukan cuma soal
popularitas atau kemampuan kampanye, tapi juga soal karakter. Masyarakat perlu
lebih kritis melihat siapa yang layak diberi amanah. Selain itu, pejabat yang
sudah menjabat pun harus terus diingatkan bahwa kekuasaan bukan hak, melainkan
tanggung jawab. Kalau nilai amanah ini benar-benar dijalankan, semoga kasus
korupsi bisa berkurang dan kepercayaan publik perlahan pulih.









