Selasa, 06 Oktober 2026

Lolos dari Lubang Jarum: Drama Timnas Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

 



Timnas Indonesia akhirnya sukses meraih trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan tim gajah Perang Thailand pada partai final. Gelar tersebut menjadi trofi yang sangat ditunggu, mengingat Indonesia cukup lama menanti kesuksesan di level senior. Data terakhir timnas senior meraih juara ASEAN pada tahun 1991, even Sea Games.

Bermain di Stadion kebanggan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), Indonesia dan Thailand bermain 2-2 hingga babak tambahan waktu. Skuad Garuda akhirnya menang 4-2 melalui adu penalti untuk memastikan gelar juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup.

Ada yang menarik bila kita tengok perjalanan timnas kita sebelum merengkuh jura. Tiga kali timnas mengalami situasi yang kritis, tapi tiga kali pula timnas bisa keluar dari situasi kritis tersebut.

Yang pertama, ketika bermain dengan Malasyia. Timnas bermain dengan sepuluh orang karena Tom Haye mendapat kartu merah sebelum babak pertama berakhir, sekitar menit ke-36. Hampir-hampir timnas kalah melawan Malasyia. Namun keberuntungan masih memihak kita. Meski diserang lawan bertubi-tubi, tak satu pun gol mampu Malasyia lesakkan.

Situasi yang kedua ketika melawan Banglades. Ketika poin Indonesia dan Malasyia sama, maka tim yang masuk final harus ditentukan dari selisih banyak gol. Indonesia membutuhkan gol sebanyak-banyaknya ketika melawan Banglades. Di saat waktu tambahan babak kedua, timnas masih membutuhkan dua gol lagi. Dan, lagi-lagi Indonesia membuat “drama” mengejutkan, membuat dua gol pada penghujung laga.

Situasi kritis ketiga saat partai final semalam. Disaat babak perpanjangan waktu hanya menyisakan sepuluh menit, Indonesia justru tertinggal 2:1. Rupanya takdir juara memang milik kita. Di saat waktu pertandingan hampir habis, Baggot membuat gol penyama kedudukan. Dan kita semua tahu, saat babak adu pinalti timnas tampil elegan dan menutup pertandingan dengan status juara ASEAN. Selamat Timnas…

 

Senin, 05 Oktober 2026

Kembali Membaca, Kembali Berjaya

 



Membaca adalah perwujudan perilaku belajar. Siapa yang membaca maka ia akan mendapatkan berbagai informasi. Obyek yang dibaca tentu sesuai dengan zamannya. Bila dahulu sebatas membaca buku, kini banyak yang bisa kita berupa dokumen digital. Tapi intinya, membaca tetap salah satu jalan memeperoleh berbagai informasi dan pengetahuan.

Membaca adalah perwujudan insan terpelajar. Setiap kemampuan membaca tentu didapat dari proses panjang belajar. Sanggup atau punya kemampuan membaca bukan bawaan lahir manusia. Kebiasaan membaca merupakan salah satu ciri bila dia seorang terpelajar. Dan memang faktanya, orang yang bisa membaca tidak serta menjadi gemar membaca.

Bila kita kaitkan dengan agama, membaca merupakan perintah pertama dalam kitab suci kita. Iqro’: bacalah. Memang tidak setiap perintah dalam Quran menjadi wajib hukumnya. Tapi tentunya setiap perintah mengandung hikmah besar di baliknya. Sudah pasti, membaca memiliki manfaat yang besar bagi umat Islam, dari dahulu hingga zaman sekarang ini.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, Islam pernah mengalami masa kejayaan di bidang ilmu pengetahuan. Pada rentang tahun antara 650 –1250 M, terutama puncak Dinasti Abbasiyah dan Umayyah Andalusia. Di saat Barat belum mengenal berbagai macam pengetahuan, para ilmuwan kita telah memiliki karya-karya besar di bidang sains, filsafat, dan peradaban.

Kalau saat ini umat Islam dianggap tertinggal sangat mungkin faktornya utamanya karena kita sudah meninggalkan kebiasaan membaca. Memang kesannya sederhana, tapi bila kita kaji semua ada korelasinya. Di saat para peneliti barat sibuk dengan membaca, belajar dan terus meneliti kita umat Islam justru terlena. Dan hasilnya, pelan tapi pasti kejayaan di bidang ilmu pengetahuan bergeser ke barat. Mari kita renungkan,…

Senin, 28 September 2026

Kemenangan Tanpa Gemuruh Rasa

 



Setiap kali Tim Nasional Indonesia meraih kemenangan di lapangan hijau, hati saya senang. Mungkin rasa ini adalah bagian nasionalisme. Namun, hasil positif melawan Singapura kemarin meninggalkan sensasi yang jauh berbeda di dalam dada saya. Ada keheningan yang tak biasa saat peluit panjang dibunyikan. Kemenangan yang seharusnya disambut dengan sukacita dan kebanggaan riuh, kali ini justru hinggap dengan riak rasa yang tawar dan biasa saja.

Perasaan hambar ini bersumber dari satu kenyataan di atas lapangan: seluruh pemain yang berlaga merupakan pemain naturalisasi. Ada keterasingan yang samar ketika menyaksikan seragam merah-putih diusung oleh komposisi tim yang sepenuhnya tidak melahirkan jejak pembinaan lokal. Meski secara hukum mereka resmi berpaspor Indonesia, ada mata rantai emosional yang terasa terputus saat tak ada satu pun anak kandung kompetisi domestik yang berdiri mengumandangkan lagu kebangsaan di awal laga.

Sejak awal, gagasan naturalisasi sejatinya dipahami sebagai langkah taktis untuk menambal kekurangan dan mentransfer ilmu. Kehadiran beberapa pemain keturunan diharapkan menjadi akselerator agar kualitas tim meningkat, sekaligus memicu motivasi para pemain lokal untuk berkembang. Harapan idealnya adalah keterpaduan sebuah sintesis antara pengalaman pemain berdarah campuran dengan bakat-bakat asli hasil tempaan sepak bola tanah air.

Ketika skema keberimbangan itu bergeser menjadi dominasi total, makna kemenangan pun turut bergeser. Menang melawan Singapura terasa bukan lagi pencapaian atas proses panjang pembinaan olahraga nasional, melainkan sekadar keberhasilan instan meramu talenta luar. Kemenangan tersebut terasa asing karena tidak sepenuhnya merefleksikan daya juang dan keringat anak-anak bangsa yang tumbuh, berlatih, dan bermimpi di pelosok negeri. 

Sepak bola bagi sebuah bangsa bukan sekadar angka di papan skor, melainkan tentang identitas, kolektivitas, dan kebanggaan bersama. Kemenangan akan terasa begitu manis ketika kita melihat proses tumbuh dan berjuangnya orang-orang yang kita kenali jejak jalurnya. Ke depan, besar harapan agar kebijakan naturalisasi kembali pada porsi yang proporsional menjadi pelengkap yang menguatkan, bukan menggantikan sepenuhnya wajah sepak bola Indonesia.

 

Kamis, 17 September 2026

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

 



Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena saya mengira dia hanyalah pelanggan yang kebetulan sedang menunggu seperti saya. Beberapa saat kemudian, dia terlibat pembicaraan dengan pemilik bengkel. Saya tetap diam dan hanya menjadi pendengar, tanpa sedikit pun menyangka bahwa orang yang duduk di sebelah saya itu ternyata seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa kecil saya.

Setelah beberapa lama, orang tersebut tiba-tiba menanyakan sesuatu kepada saya. Awalnya saya menganggap pertanyaannya hanya sekadar basa-basi. Saya pun menjawab sewajarnya, tanpa memperhatikan serius siapa orang yang sedang berbicara dengan saya. Namun, kemudian dia tersenyum dan bertanya, “Apakah kamu sudah lupa?” Pertanyaan itu membuat saya mulai memperhatikannya dengan lebih saksama.

Dia menyebut namanya. Betapa terkejutnya saya ketika akhirnya menyadari bahwa dia adalah teman saya ketika masih duduk di bangku MI. Ternyata, sudah sekitar 35 tahun kami tidak pernah bertemu. Waktu yang begitu panjang ternyata tidak serta-merta menghapus ingatan tentang seseorang. Yang lebih mengharukan, sejak awal dia ternyata masih mengenali saya dan masih mengingat saya dengan baik.

Saya menyadari bahwa beberapa saat dia sengaja menunggu. Dia tidak langsung memperkenalkan dirinya, mungkin ingin mengetahui apakah saya masih bisa mengenalinya. Sementara itu, saya yang sama sekali tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Pertemuan yang menjadi sebuah kejutan kecil yang begitu berkesan.

Dari peristiwa sederhana itu, saya belajar bahwa kenangan masa lalu memiliki cara tersendiri untuk tetap hidup. Tiga puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi ternyata sebuah persahabatan masa kecil dapat meninggalkan jejak yang begitu dalam. Pertemuan tak sengaja yang mengingatkan saya bahwa orang-orang dari masa lalu mungkin saja masih menyimpan kenangan tentang kita, bahkan ketika kita sendiri sudah hampir melupakannya.

 

 

Rabu, 09 September 2026

Menanamkan Cinta, Meneladani Langkah: Pentingnya Sirah Nabi untuk Anak

 



Menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. pada diri anak-anak merupakan kewajiban utama setiap orang tua Muslim. Di tengah gempuran informasi dan derasnya arus budaya populer saat ini, anak-anak dengan mudah menemukan figur idola baru yang kerap kali jauh dari nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, mengenalkan sirah nabawiyah kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. menjadi langkah penting agar fondasi iman dan akhlak anak-anak kita terbangun dengan kokoh sejak dini.

Landasan utama dari pentingnya mengajarkan sirah adalah hadirnya rasa cinta. Tanpa mengetahui sejarah dan perjuangan Nabi Muhammad saw., bagaimana mungkin anak-anak kita bisa mencintai beliau melebihi cintanya kepada siapa pun? Rasa cinta tidak tumbuh dari kehampaan, melainkan dari pengenalan yang mendalam.

Selain menumbuhkan rasa cinta, sirah nabawiyah adalah kunci utama untuk membentuk karakter. Tidak mungkin anak-anak kita bisa meneladani Nabi Muhammad saw. tanpa mengetahui kisah hidup beliau secara utuh. Sirah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan panduan hidup nyata. Melalui kisah-kisah beliau, anak-anak belajar bagaimana bersikap jujur (al-amin), berani membela kebenaran, menghormati orang tua, hingga bagaimana menghadapi kesulitan dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.

Saat ini, anak-anak sangat rentan mengimitasi perilaku dari media sosial atau tokoh fiktif yang tidak memberikan keteladanan hakiki. Dengan menjadikan Rasulullah saw. sebagai pahlawan utama dalam imajinasi dan pikiran mereka, anak-anak memiliki standar moral yang jelas dalam memilih mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga mereka tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh negatif lingkungan.

Inilah mengapa pentingnya di lembaga pendidikan dasar selalu mengadakan peringatan maulid setiap tahun. Dalam peringatan maulid kita selalu menyampaikan sejarah Nabi. Peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan dakwah beliau juga dikisahkan meski tidak secara detail. Namun ini kiranya akan mampu memberi kesan mendalam bagi anak-anak kita yang kemudian menjadi bagian penting dari pembentukan karakternya.

 

Jumat, 28 Agustus 2026

Bayang-Bayang Kapital dalam Kontestasi Kepemimpinan Modern

 



Memilih pemimpin dalam sistem demokrasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat saat ini. Proses pemilihan tersebut dapat kita jumpai dalam pelbagai tingkatan, mulai dari lingkup terkecil seperti Ketua RT dan Kepala Desa, hingga tingkat daerah dan nasional seperti Bupati, Gubernur, serta Presiden. Kehadiran mekanisme pemilihan ini pada dasarnya bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam menentukan arah kepemimpinan secara adil dan terbuka.

Namun, dalam perjalanannya, proses pemilihan pemimpin sangat jarang dapat diselesaikan melalui jalan musyawarah mufakat. Hal ini terjadi karena jumlah kandidat yang bersaing biasanya cukup banyak. Fenomena banyaknya calon yang maju ini sering kali didorong oleh keberadaan fasilitas serta keuntungan menarik yang melekat pada jabatan tersebut. Sebaliknya, ketika sebuah posisi kepemimpinan tidak menawarkan keuntungan material atau fasilitas yang menggiurkan, minat orang untuk mencalonkan diri mendadak surut.

Tren perburuan jabatan ini tidak hanya terjadi di ranah pemerintahan, tetapi juga telah merambah ke organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan. Jabatan strategis dalam ormas besar kini dipandang sebagai posisi yang sangat bernilai dan diperebutkan oleh banyak pihak. Keuntungan immaterial maupun material, seperti pengaruh sosial, jaringan politik, dan akses modal, menjadi daya tarik utama yang membuat kepemimpinan ormas kerap dijadikan batu loncatan.

Kondisi yang berfokus pada perebutan keuntungan ini melahirkan dampak buruk bagi kualitas kepemimpinan. Ketika dorongan utama menjadi pemimpin adalah fasilitas dan posisi kekuasaan, ruang bagi orang-orang berkemampuan serta berintegritas justru makin menyempit. Akibatnya, kontestasi kepemimpinan bergeser dari ajang adu gagasan menjadi arena persaingan yang mengandalkan kekuatan sumber daya semata.

Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan tanpa perbaikan, harapan untuk mendapatkan sosok pemimpin yang ideal akan makin sulit diwujudkan. Jabatan kepemimpinan pada akhirnya hanya akan dikuasai oleh mereka yang memiliki kapital besar, tanpa memedulikan tingkat kelayakan dan kapasitasnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama untuk mengembalikan hakikat kepemimpinan sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar sarana meraih keuntungan pribadi maupun kelompok.

 

 

Jumat, 21 Agustus 2026

Memahami Celah Dosa dan Meniti Jalan Kembali

 



Secara logika manusia akan selalu berbuat salah dan dosa. Coba ketika renungkan. Larangan agama dalam hidup ini banyak. Sementara dalam diri kita ada nafsu yang terus mendorong untuk melanggar larangan tadi.  Dan kita manusia memiliki batas kemampuan, rasa alpa, dan potensi khilaf.

Dulu ketita Bapak semua manusia masih di surga, semua boleh dikerjakan kecuali satu hal. Dan ternyata karena sifat kemanusiaan yang rentan berbuat salah, satu yang dilarang tadi khilaf dilanggar. Namun itu bukan murni kesalahannya sebagai manusia, ada pula faktor luar yang berperan menjadikan kesalahan itu terjadi. Tipu daya Iblis.

Sebenarnya keterbatasan kita bukan alasan yang membenarkan kita terus berbuat salah dan dosa. Ya, kita memang bukan malaikat yang tidak memiliki nafsu, tapi kita juga bukan setan. Jadi kita tetap tidak dibenarkan sengaja berbuat dosa atau mengulangi kesalahan terus-menerus.

"Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat" (al-Hadis).  Di saat kita terjerumus dalam perbuatan dosa bersegeralah bertaubat dan memperbaiki diri. Taubat adalah solusi, dan taubat mesti kita kerjakan sepanjang hidup ini sebagai konsekuensi kemanusiaan kita.

Jadi, sebagai manusia jangan pernah mimpi hidup kita selalu bersih. Pasti sesekali kita berbuat salah dan dosa. Namun jangan berkecil hati, ada jalan kembali untuk membersihkan diri yakni taubat. Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertaubat.

 

 

Selasa, 18 Agustus 2026

Di Antara Cita-Cita Tema dan Realitas Bangsa

 



Tema resmi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur," menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan bangsa kita hingga hari ini. Di satu sisi, tema ini menyuarakan cita-cita luhur para pendiri bangsa untuk mewujudkan negara yang merdeka seutuhnya. Namun di sisi lain, narasi tersebut mengundang pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana nilai-nilai kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran benar-benar telah dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pertanyaan paling mendasar tertuju pada makna kedaulatan, khususnya dalam pengelolaan kekayaan alam yang melimpah di bumi pertiwi. Indonesia memang kaya akan hasil bumi, mulai dari tambang hingga sektor agraris. Kendati demikian, realitas di lapangan kerap menunjukkan bahwa tata kelola sumber daya tersebut belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan nasional, melainkan masih menghadapi berbagai kendala struktural dan ketergantungan luar.

Dilema terbesar dari pengelolaan kekayaan alam ini adalah kesenjangan dalam pemerataan hasil yang dinikmati oleh rakyat. Hingga kini, jerih payah dan potensi ekonomi bangsa sering kali lebih banyak dinikmati oleh segelintir kelompok elit atau korporasi tertentu, sementara masyarakat akar rumput masih harus berjuang menghadapi himpitan ekonomi.

Kesejahteraan rakyat yang merata juga masih menjadi tantangan nyata yang perlu segera diatasi bersama. Ketika fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan kestabilan harga kebutuhan pokok belum sepenuhnya dapat diakses secara adil oleh setiap warga negara, maka kemakmuran yang adil baru sebatas angan-angan. Pembangunan yang masif harus diukur dari seberapa mampu ia mengangkat taraf hidup kelompok masyarakat yang paling rentan.

Refleksi kemerdekaan tahun ini seharusnya tidak berhenti pada perayaan seremonial semata, melainkan menjadi panggilan korektif bagi seluruh elemen bangsa. Mewujudkan "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" menuntut komitmen moral yang kuat dari para pemangku kebijakan untuk membenahi tata kelola, memberantas ketimpangan, dan memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Rabu, 12 Agustus 2026

Menyempurnakan Kemerdekaan: Dari Rasa Syukur Menuju Kedaulatan Bangsa

 



Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu menjadi momen bersejarah yang disambut penuh suka cita. Kemerdekaan adalah nikmat agung dari Tuhan Yang Maha Esa yang wajib kita syukuri bersama. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini merupakan ajang refleksi mendalam mengenai makna kebebasan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dengan pertumpahan darah dan air mata. 

Rasa syukur atas kemerdekaan ini mewujud nyata dalam kehidupan sehari-hari yang kini kita nikmati. Berkat jasa para pahlawan, masyarakat Indonesia dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dengan tenang, menuntut ilmu di lembaga pendidikan tanpa rasa takut, serta beraktivitas dan berkarya secara leluasa. Kebebasan ruang gerak dan berekspresi ini adalah kemewahan hidup yang tidak dirasakan oleh generasi bangsa pada masa penjajahan dahulu. 

Namun demikian, jika kita menelaah lebih dalam, hakikat kemerdekaan yang sejati sebenarnya masih belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bangsa ini masih menghadapi tantangan besar berupa ketimpangan sosial yang nyata. Khususnya persoalan ekonomi dan pendidikan masih terus berjalan dan membutuhkan perhatian serius. 

Kondisi ini terbukti dari masih banyaknya masyarakat yang belum berdaulat secara ekonomi dan pendidikan. Banyak keluarga yang masih berjuang keras sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari di tengah keterbatasan lapangan kerja. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan berkualitas masih belum merata, sehingga banyak anak bangsa yang kesulitan memperoleh ilmu dan keterampilan memadai untuk mengubah nasib mereka.

Oleh karena itu, peringatan Hari Kemerdekaan harus dijadikan momentum untuk membakar kembali semangat gotong royong seluruh elemen bangsa. Kemerdekaan Indonesia baru akan benar-benar sempurna ketika setiap jengkal rakyat di pelosok negeri telah merasakan keadilan, kesejahteraan, dan kedaulatan yang seutuhnya.

 

Senin, 03 Agustus 2026

Ujian Kelayakan Sang Garuda di Piala AFF

 


Malam ini, perhatian publik sepak bola tanah air kembali tertuju pada laga krusial antara tim nasional Indonesia melawan Vietnam dalam ajang Piala AFF. Pertandingan ini bukan sekadar laga fase grup biasa, melainkan ujian besar bagi skuad Garuda yang sedang berjuang mengukir sejarah baru. Ambisi untuk merengkuh gelar juara tahun ini dipertaruhkan lewat penampilan sepak bola yang lugas dan berani di atas lapangan.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia kerap menyandang predikat spesialis runner-up di kompetisi ini. Berkali-kali menembus partai puncak, langkah Garuda selalu terhenti sebelum bisa mengangkat trofi utama. Rekor enam kali meraih posisi kedua tentu meninggalkan rasa penasaran yang mendalam bagi para pemain dan jutaan pendukung. Oleh karena itu, edisi Piala AFF tahun ini diusung dengan tekad kuat untuk mematahkan mitos tersebut dan membawa pulang piala pertama ke tanah air.

Pertemuan melawan Vietnam malam ini menjadi tolok ukur utama untuk menilai kesiapan Indonesia. Vietnam telah menjelma menjadi salah satu kekuatan tersengit di Asia Tenggara dengan kedisiplinan taktik dan stamina yang prima. Menghadapi tim berkarakter tangguh seperti ini akan memeras strategi, konsentrasi, serta ketahanan mental para pemain Indonesia sepanjang sembilan puluh menit.

Hasil dari laga ini akan menjadi pembuktian awal apakah Indonesia memang layak menyandang status sebagai calon juara. Kemenangan atas lawan sekelas Vietnam bukan hanya mengamankan poin penting, tetapi juga memberikan dorongan rasa percaya diri yang masif. Sebaliknya, jika belum mampu mengimbangi permainan lawan, masih ada celah evaluasi yang harus segera diperbaiki sebelum melangkah lebih jauh.

Pada akhirnya, laga nanti malam adalah ajang pembuktian bahwa Indonesia siap naik kelas dari sekadar finalis menjadi sang juara sejati. Seluruh harapan dan doa jutaan rakyat Indonesia menyatu bersama setiap derap langkah para pemain di lapangan hijau. Ini saatnya bagi Timnas Indonesia untuk membuktikan kualitasnya, menundukkan rasa ragu, dan mengawali langkah menuju tahta tertinggi piala AFF.

 


Selasa, 21 Juli 2026

Espana la Campeona..

 



Perhelatan terbesar sepak bola sejagat telah usai. Skuad Spanyol pulang ke negerinya dengan kepala tegak dan dada membusung sembari menenteng piala yang yang menjadi idaman semua pesepakbola.

Ya, Spanyol akhirnya tampil sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan juara bertahan Argentina dengan skor tipis 1-0 lewat babak perpanjangan waktu (extra time) pada final yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari kemarin.

Tak ada perdebatan siapa yang layak jadi juara di final kemarin. Semua sepakat Spanyol memang layak menjadi  juara. Statistik membuktikan mereka sangat dominan. Argentina tampil “aneh” di partai puncak. Tak ada satu pun tembakan yang mengarah ke gawang. Dan Messi seakan hilang dari pertandingan. Tak ada lagi shoot tajam dan umpan-umpan mematikan seperti pertandingan sebelumnya.

Spanyol membuktikan bahwa sepak bola adalah permainan kolektif sebuah tim. Tak ada pemain mereka yang mentereng seperti tim-tim besar lain. Hanya sosok anak 19 tahun, Yamal yang sering menjadi sorotan. Coba kita bandingkan dengan nama-nama besar semacam Hary Kane, Mbappe, Halland ataupun Messi. Tentu sangat jauh berbeda. Nama-nama tersebut masuk dalam daftar topskor piala dunia.

Sekali lagi sepak bola terkadang tidak memerlukan nama besar seorang bintang. Yang paling dibutuhkan dalam kesebelasan adalah kekompakan dan kesatuan sebagai sebuah tim. Spanyol membuktikan itu. Mereka adalah sekelompok anak-anak muda yang tampil solid. Tak ada megabintang yang menjadi pusat perhatian lawan. Dan akhirnya justru itulah keuntungan yang hakiki. Selamat untuk Spanyol dan para penggemarnya. Espana la Campeona..

 

Lolos dari Lubang Jarum: Drama Timnas Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

  Timnas Indonesia akhirnya sukses meraih trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan tim gajah Perang Thailand pada partai final. Gelar...