Kemarin,
saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di
sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena saya mengira dia
hanyalah pelanggan yang kebetulan sedang menunggu seperti saya. Beberapa saat
kemudian, dia terlibat pembicaraan dengan pemilik bengkel. Saya tetap diam dan
hanya menjadi pendengar, tanpa sedikit pun menyangka bahwa orang yang duduk di
sebelah saya itu ternyata seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa kecil
saya.
Setelah
beberapa lama, orang tersebut tiba-tiba menanyakan sesuatu kepada saya. Awalnya
saya menganggap pertanyaannya hanya sekadar basa-basi. Saya pun menjawab
sewajarnya, tanpa memperhatikan serius siapa orang yang sedang berbicara dengan
saya. Namun, kemudian dia tersenyum dan bertanya, “Apakah kamu sudah lupa?”
Pertanyaan itu membuat saya mulai memperhatikannya dengan lebih saksama.
Dia
menyebut namanya. Betapa terkejutnya saya ketika akhirnya menyadari bahwa dia
adalah teman saya ketika masih duduk di bangku MI. Ternyata, sudah sekitar 35
tahun kami tidak pernah bertemu. Waktu yang begitu panjang ternyata tidak
serta-merta menghapus ingatan tentang seseorang. Yang lebih mengharukan, sejak
awal dia ternyata masih mengenali saya dan masih mengingat saya dengan baik.
Saya
menyadari bahwa beberapa saat dia sengaja menunggu. Dia tidak langsung
memperkenalkan dirinya, mungkin ingin mengetahui apakah saya masih bisa
mengenalinya. Sementara itu, saya yang sama sekali tidak menyadari siapa dia sebenarnya.
Pertemuan yang menjadi sebuah kejutan kecil yang begitu berkesan.
Dari
peristiwa sederhana itu, saya belajar bahwa kenangan masa lalu memiliki cara
tersendiri untuk tetap hidup. Tiga puluh lima tahun bukanlah waktu yang
singkat, tetapi ternyata sebuah persahabatan masa kecil dapat meninggalkan
jejak yang begitu dalam. Pertemuan tak sengaja yang mengingatkan saya bahwa
orang-orang dari masa lalu mungkin saja masih menyimpan kenangan tentang kita,
bahkan ketika kita sendiri sudah hampir melupakannya.








