Semua
tahu bila menulis menuntut ketekunan, kesabaran, dan kepekaan perasaan. Bagi
seorang penulis, proses menuangkan gagasan ke dalam kata-kata bukanlah hal yang
mudah. Ada kalanya ide terasa mengalir dengan lancar, namun tidak jarang pula
muncul rasa lelah yang mengendap perlahan.
Situasi
sulit semakin terasa ketika tulisan yang dibuat serasa tiada guna. Dalam
kondisi seperti ini, rasa jenuh kerap muncul dan membuat penulis mempertanyakan
kembali makna dari proses menulis itu sendiri. Lelah bukan hanya secara fisik,
tetapi juga secara emosional.
Kejenuhan
yang dialami penulis sebenarnya merupakan hal yang manusiawi. Setiap individu
memiliki batas ketahanan terhadap tekanan dan kekecewaan. Namun, jika rasa
jenuh dibiarkan berlarut-larut, hal tersebut dapat mematikan kreativitas dan
semangat berkarya. Oleh karena itu, penulis perlu menyadari bahwa lelah
bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam dunia
literasi.
Meskipun
menghadapi berbagai tantangan, semangat menjaga literasi harus tetap
dipertahankan. Menulis bukan semata-mata tentang mendapatkan pengakuan,
melainkan tentang menyuarakan pemikiran, menyimpan jejak peradaban, dan berbagi
makna dengan sesama. Ketika seorang penulis terus bertahan, ia sedang ikut
menjaga kehidupan literasi agar tetap bernapas di tengah perubahan zaman.
Meski
memang berat, lelah menulis bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan
untuk menata kembali semangat baru. Seorang penulis yang mampu bangkit dari
kejenuhan adalah penulis yang memahami nilai dari proses. Dengan keteguhan hati
dan komitmen terhadap literasi, setiap tantangan dapat diubah menjadi kekuatan
untuk terus berkarya dan memberi arti melalui tulisan.
