Selasa, 02 Juni 2020

MENGEJAR KEMULIAAN TAHAJJUD



Di dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan kepada rasul-Nya yang mulia  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan salat malam. Perintah salat malam yang diulang-ulang dalam beberapa ayat menunjukkan betapa pentingnya untuk dilaksanakan. Perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada hakikatnya adalah perintah kepada kita juga sebagai umat beliau. Di antara ayat yang berkaitan dengan perintah salat malam adalah:

 “Dan pada sebagian malam hari salat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa’/17: 79).

      Dalam surat yang lain Allah juga memerintahkan salat pada malam hari;

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insaan/76: 25-26).

Ulama sudah sepakat mengenai pengertian salat malam (qiyamul lail),  adalah salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari setelah mengerjakan salat Isya sampai terbitnya fajar. Sedangkan salat Tahajjud memiliki kriteria tambahan, salat Tahajjud merupakan salat malam yang dilakukan setelah terjaga dari tidur. Pada masa awal kenabian sebelum turun perintah salat wajib lima waktu, Rasulullah diwajibkan melaksanakan salat pada tengah malam, menurut riwayat salat yang dikerjakan Nabi Muhammad pada tengah malam tersebut adalah syariat yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Dawud Alaihi Salam. Hal ini sesuai dengan Ayat 2-6 Surat Al-Muzzammil;

“bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(2)

(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.(3)

atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.(4)

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.(5)

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”(6)


Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kekasihnya yang mulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk senatiasa bangun malam dan salat Tahajjud. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan pertolongan-Nya berupa kelapangan hati, menghilangkan beban yang berat, meninggikan derajat Nabi dan memberi kemudahan setelah masa-masa yang sulit.

Setelah perintah salat fardu lima waktu turun, salat malam yang dilakukan Nabi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tidak wajib dilaksanakan, namun Rasulullah tetap melaksanakan salat Tahajjud dan tidak pernah meninggalkannya sampai akhir hayat beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan salat Tahajjud sampai bengkak kedua kakinya atau betisnya, lalu beliau ditanya tentang itu, maka beliau menjawab: “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”. (HR. Al Bukhori, 1130)

Demikian pula para sahabat nabi, generasi tabi’in dan pengikutnya hingga ulama salaf, orang-orang sholih mengikuti jejak Rasulullah, mereka mengisi setengah atau sepertiga malam dengan salat Tahajjud dan munajat kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya bercengkerama (memanjangkan percakapan) setelah salat Isya, beliau menganjurkan segera mengistirahatkan diri dengan tidur pada awal malam lalu bangun pada tengah malam untuk melaksanakan salat Tahajjud sesuai kadar kemampuan (meskipun hanya dua rakaat). Lalu meneruskan lagi tidurnya pada malam yang tersisa sekadar untuk dapat beristirahat dari lelahnya melakukan salat Tahajjud. Tidur terakhir inilah yang dilakukan pada waktu sahur. Metode seperti ini lebih dicintai Allah karena bersikap meringankan beban jiwa yang dikhawatirkan akan merasa jenuh jika dibebani dengan beban yang berat. Menjaga istiqamah salat Tahajjud dan tidak meninggalkannya karena dilandasi alasan Allah mencintai hambanya yang seantiasa melaksanakan salat Tahajjud, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhori Muslim;

“Salat yang paling dicintai Allah adalah salat Nabi Dawud ‘alaihissallam dan puasa yang paling dicintai Allah juga puasa Nabi Dawud ‘alaihissallam. Beliau tidur setengah malam, bangun sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam serta berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Banyak keutamaan dan kemuliaan yang terdapat dalam salat Tahajjud. Salat sunah Tahajjud bukan hanya bernilai ibadah tambahan semata, Allah akan mengangkat orang yang dawam (ajeg) menjalankannya ke tempat yang terpuji. Meninggikan derajat hamba tadi dan menolongnya ketika dalam kesulitan besar. Salat Tahajjud yang didirikan dengan khusyu’ menjadi penerang hati orang beriman, menurunkan rahmat Allah dan menyibak tabir permasalahan dunia yang melilit kehidupan kita. Bahkan dari segi medis telah terbukti, orang yang rutin menjalankan salat Tahajjud memiliki imunitas yang lebih baik dibanding dengan yang tidak melakukannya. Demikian hasil riset yang dilakukan oleh Prof.Dr.Muhammad Sholeh.


Kemuliaan salat Tahajjud sebanding lurus dengan beratnya tantangan untuk melaksanakannya. Bangun di saat lelap tidur membutuhkan niat dan usaha yang keras. Tidak banyak orang yang mampu menjalankannya secara berkesinambungan. Seperti apa yang disampaikan oleh sebagian ulama, salah satu hujah kesalehan dan kemuliaan seorang hamba adalah istiqamah menjaga salat Tahajjud. Dalam sebuah riwayat hadis dari Asma binti Yazid radhiyallahu anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, ‘Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!’ Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, ‘Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur’ bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit.”(HR. Abu Ya’la).

Merupakan nikmat besar dari Allah yang harus disyukuri, ketika kita masih diizinkan oleh Allah menghadap-Nya ketika banyak orang lelap dalam tidurnya, dalam buaian mimpi yang indah, di saat suasana hening senyap sunyi, kita diberi kesempatan munajat dan mengadukan segala urusan yang membelit hidup kita…”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Senin, 01 Juni 2020

MENUJU ISTIQAMAH


Menurut bahasa kata istiqamah bermakna i’tidal atau lurus, sedangkan menurut syari’at, istiqamah adalah meniti jalan yang lurus yaitu agama yang lurus yakni agama Islam tanpa menyimpang darinya. Sementara itu menurut Imam an Nawawi menjelaskan makna istiqamah adalah luuzumu tha’atillah yaitu tetap konsisten dan konsekuen dalam ketaatan kepada Allah ta’ala.

Amal yang dicintai Allah dan bernilai di sisi-Nya adalah amal yang dilakukan secara terus menerus, meskipun sebenarnya amal tadi terlihat sepele (amal kebaikan yang kecil). Kita sudah sering mendengar sebuah hadits tentang Bilal Bin Rabah ketika ditanya Rasulullah,
“Hai Bilal, katakanlah amal yang sangat kau pentingkan selama memeluk Islam, karena aku mendengar bunyi terompahmu  di hadapanku di surga”  Bilal menjawab, “tidak satu pun amal yang lebih saya utamakan daripada mengerjakan wudhu baik malam ataupun siang. Kemudian saya mengerjakan sholat setelah wudhu semampu saya”.(HR.Bukhori)
Bilal Bin Rabah memiki amal sederhana namun dilakukan sepanjang waktu terus menerus yakni menjaga wudhu dan sholat sunah setelah wudhu. Amalan kebaikan yang dilakukan dengan istiqamah menjadikan kita layak dicintai Allah. Banyak pilihan amal sunnah yang bisa kita jadikan ladang amal untuk ‘memantaskan diri’ dicintai Allah. Kuncinya amal sunah tersebut kita laksanakan dengan istiqomah, tentu lebih baik mengaji Al-Quran setiap hari beberapa halaman daripada mengaji berapa juz namun hanya dilakukan saat bulan Ramadhan saja.
Seorang muslim hendaklah menjaga keistiqamahan dalam beramal, banyak dalil maupun as sunnah yang memerintahkan kita agar senantiasa menjaga istiqamah dalam beramal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“maka istiqamahlah (tetaplah) engkau (muhammad dijalan yang benar) sebagaimana telah  diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S Hud : 112).
Dulu di desa kami ada ‘figur’ bersahaja yang layak dijadikan teladan istiqamah. Namanya Mbah Gunung, beliau adalah muadzin masjid kami, setiap sholat lima waktu beliau istiqomah mengumandangkan adzan. Mbah Gunung sudah siap di masjid sebelum masuk waktu sholat, setengah jam sebelum masuk waktu subuh beliau sudah tiba di masjid. Setelah sholat Subuh pulang dan pasti sudah di masjid sebelum waktu Dzuhur tiba. Setelah sholat ashar beliau biasanya tidak pulang sampai malam, dan akan pulang setelah sholat Isya’ berjamaah. Kecintaannya dengan sholat berjamaah sudah mendarah daging, bertahun-tahun beliau istiqamah seperti itu. Sebenarnya ketika masih muda beliau adalah sosok pekerja keras, ketika memasuki usia tua hidupnya hanya digunakan ibadah. Beliau menjalani masa tuanya tinggal di rumah sendirian dan sebagian waktunya dihabiskan di masjid. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sudah disiapkan oleh anak-anaknya. Beliau wafat pada suatu pagi setelah sholat Subuh, tentu itu sangat mengejutkan karena sehari sebelumnya masih ke masjid berjamaah bersama kami. Teringat menjelang pemakaman beliau, hujan gerimis turun padahal sudah berbulan-bulan tidak turun hujan, apakah itu pertanda beliau husnul khotimah ? Wallahu a’lam.
Allah memberi banyak jalan hambanya untuk mendekati dan meraih cinta-Nya, jalan itu adalah amalan-amalan sunah. Bagi yang senang menjalankan ibadah puasa sunah bisa memilih sesuai kemampuan kita. Sholat sunah pun bermacam-macam pilihannya. Apapun itu pilihan kita yang terpenting adalah kita mampu mendawamkannya menjadi amalan khusus kita yang tidak pernah kita tinggalkan. Seperti dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman;
“Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang; dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi. “ (HR. Bukhari no. 6502)

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...