Jumat, 27 Maret 2026

“Lebaran dan Uang Saku: Seru, Tapi Perlu Diingat Maknanya”

 



Setiap momen Hari Raya Idulfitri selalu punya cerita khas di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling ditunggu anak-anak tentu saja adalah tradisi menerima uang saku atau “THR” dari orang tua, saudara, hingga tetangga. Suasana kumpul keluarga, saling bermaafan, ditambah dengan amplop kecil berisi uang, jadi kombinasi yang bikin Lebaran terasa makin meriah. Buat banyak orang, kebiasaan ini sudah seperti budaya turun-temurun yang sulit dipisahkan.

Di sisi positifnya, memberi uang saku saat Lebaran bisa jadi bentuk kasih sayang sekaligus berbagi rezeki. Anak-anak belajar bahwa momen ini adalah waktu untuk saling memberi dan peduli. Bahkan, kalau diarahkan dengan baik, uang tersebut bisa jadi sarana edukasi keuangan sederhana misalnya belajar menabung, mengatur pengeluaran, atau menghargai nilai uang. Selain itu, tradisi ini juga sering jadi cara orang dewasa membangun kedekatan dengan anak-anak dalam suasana yang hangat.

Tapi di balik keseruannya, ada juga sisi yang perlu dipikirkan. Tidak sedikit anak yang akhirnya lebih fokus pada “dapat uang berapa” dibandingkan makna sebenarnya dari silaturahmi. Mereka jadi semangat keliling bukan karena ingin bertemu keluarga atau meminta maaf, tapi karena berharap amplop. Lama-lama, kebiasaan ini bisa menggeser nilai utama Lebaran itu sendiri, dari yang awalnya tentang kebersamaan dan keikhlasan, menjadi lebih condong ke hal yang bersifat materi.

Kalau dibiarkan terus, anak-anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang kurang utuh tentang arti silaturahmi. Mereka mungkin melihat kunjungan ke rumah saudara sebagai “kesempatan mendapatkan uang” bukan sebagai momen mempererat hubungan. Padahal, inti dari Lebaran adalah memperbaiki hubungan, saling memaafkan, dan menjaga ikatan kekeluargaan. Di sinilah peran orang tua jadi penting untuk memberi pemahaman yang seimbang.

Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah dengan memberi uang saku saat Lebaran, selama tetap pada porsinya. Yang perlu dijaga adalah bagaimana kita menjelaskan maknanya kepada anak-anak. Tradisi boleh terus berjalan, tapi nilai silaturahmi jangan sampai hilang. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya senang karena mendapat uang, tapi juga memahami bahwa kebersamaan dan hubungan antar manusia jauh lebih berharga daripada sekadar isi amplop.

 

“Lebaran dan Uang Saku: Seru, Tapi Perlu Diingat Maknanya”

  Setiap momen Hari Raya Idulfitri selalu punya cerita khas di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling ditunggu anak-anak tent...