Rabu, 30 September 2020

RAPID TEST…? TIDAK PERLU KHAWATIR

 


Bila mendengar istilah rapid test, kebanyakan orang akan takut. Khawatir jangan-jangan ketika di test hasilnya reaktif. Seperti banyak cerita, katanya hasil rapid test sering tidak akurat. Ketika menggunakan rapid tes hasilnya positif, namun begitu pemeriksaan swab hasil yang keluar negatif.

Sabtu, tanggal 26 September 2020, kami menerima pemberitahuan untuk rapid test di PUSKESMAS Kalidawir. Hal ini dikarenakan lembaga kami pernah melaksanakan pembelajaran luring (luar jaringan) selama beberapa minggu di bulan Agustus dan September. Kami diminta mengirimkan 3 orang guru dan 3 siswa sebagai sampel tes. Wah, sempat horor juga mendapat pemberitahuan harus melakukan rapid test. Namun pihak yang menghubungi (Bidan Desa Pakisaji) meyakinkan tidak perlu khawatir, rapid test itu cuma diambil darahnya dengan menusuk ujung jari menggunakan jarum kecil. Kemudian darah diperiksa, dan hasilnya akan keluar dalam waktu sekitar lima menit saja.

Malam hari saya sampaikan informasi itu melalui Grup WhatsApp madrsah kami. Tentu harus menyiapkan siapa saja yang harus menjadi sukarelawan, baik dari pihak guru dan siswa. Reaksinya, sesuai dugaan saya. Hampir semua menyatakan ketidaksiapannya, ada saja, alasan yang disampaikan. Semua seakan merasa sedang tidak enak badan, ada yang takut jarum suntik, kurang fit atau bahkan alasan punya keluhan asam urat. Padahal asam urat tidak ada kaitannya dengan rapid test, hadeuh…. Persoalan belum selesai, kami harus mencari sampel siswa. Rupanya hampir sama, beberapa wali murid yang dihubungi ternyata ketakutan dan tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti rapid test. Malam itu urusan rencana rapid test belum selesai. Tidak ada satu nama pun yang siap mengikuti rapid test baik dari guru maupun siswa.

Ahad, 27 September 2020 pukul 10.00. Saya lanjutkan diskusi di grup WA untuk memastikan nama-nama yang harus ikut rapid test. He..he, masih alot rupanya. Belum ada yang mengajukan diri menjadi sukarelawan. Saya sebenarnya bisa memahami situasi itu. Pasti semua guru takut seandainya nanti hasilnya reaktif, maka tindak lanjutnya harus dikarantina. Belum lagi dampak yang lain, pasti akan menjadi khabar “besar” yang menambah beban psikologis. Akhirnya, saya harus maju menawarkan diri. Sebenarnya yang diminta adalah guru yang terlibat program luring, padahal saya tidak memenuhi kriteria itu. Namun karena tetap belum ada yang bersedia akhirnya harus ada yang maju terlebih dahulu. Dan ternyata, meskipun saya sudah menyatakan siap, teman-teman guru yang lain belum juga ada yang mengikuti. Jalan terakhir, harus “dipaksa” dengan menunjuk dua orang guru untuk memenuhi kuota sampel yang diperlukan.

Senin, tanggal 28 September 2020. Sekitar pukul 08.00 kami bertiga dengan 3 siswa berangkat ke PUSKESMAS Kalidawir. Sesuai pemberitahuan yang diterima, rapid test dijadwalkan antara 07.30 s.d 10.00. Baru sekitar pukul 09.00 tes dilakukan. Sebatas yang saya ketahui pemeriksaan rapid test dilakukan menggunakan sampel darah. Sedangkan pemeriksaan swab menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan. Rupanya rapid test yang dilaksanakan tidak mengambil sampel darah, naumun lendir dalam hidung. Satu persatu kami menjalani proses test yang dilakukan oleh tim dokter yang menggunakan baju APD lengkap. Ternyata prosesnya cepat. Kami diminta duduk di kursi, dengan posisi badan condong ke belakang bersandar di dinding dan wajah menengadah ke atas. Selanjutnya sebuah alat khusus dimasukkan ke dalam lubang hidung sampai ke dalam untuk diambil sampel cairannya, selesai.

Setelah semua melaksanakan pemeriksaan swab, tidak lama berselang hasilnya sudah kami terima. Alhamdulillah, semua pemeriksaan sampel hasilnya negatif. Lega sudah rasa di hati. Semua tes yang dilakukan berjalan dengan lancar dan prosesnya tidak menyakitkan. Hanya sedikit geli dan menahan mau bersin. Bagi yang akan menjalani rapid test , tidak perlu khawatir….

Selasa, 29 September 2020

SERATUS LANGKAH


SERATUS LANGKAH

Bila diibaratkan dengan langkah-langkah kaki, aktivitas nge-blog saat ini sudah langkah yang ke-100. Seratus judul dalam 146 hari. Beberapa teman di grup “Maarif Menulis” sudah terlebih dahulu sampai di angka ke-100. Kenapa tidak dari dulu memulai menulis? Rasanya tidak perlu menyesali mengapa baru sekarang mulai belajar menulis. Kalaupun dikatakan agak terlambat memulai belajar, setidaknya sampai hari ini masih tetap terus berjalan, biar pelan namun tidak surut ke belakang lagi.

Hari demi hari senantiasa berusaha menulis. Dan, banyak hal yang telah dirasa. Pengalaman belajar menulis dan nge-blog dinamikanya selalu saya nikmati. Ada masanya banyak anggota di grup aktif menulis, saya sangat senang dan menikmatinya. Dan itu menambah motivasi untuk terus menulis. Namun juga ada waktunya semangat menulis menurun, tinggal sedikit anggota grup yang aktif, saya juga masih menikmatinya. Yang penting tetap saja berusaha menulis. Bahkan ketika tulisan yang dipublikasikan di blog semakin sepi pembaca, kadang cuma dua, lima, atau sering kurang dari sepuluh pembaca pun tidak masalah. Saya tidak pernah menganggap semua itu sia-sia, dan saya tetap senang menulis, karena menulis bagi saya tidak ada ruginya.

Semua butuh waktu untuk berproses. Semangat tetap tak boleh pudar meski dalam belajar menulis sampai saat ini banyak mengalami tantangan. Karena setiap tantangan sebenarnya akan semakin meneguhkan tekad dan menguatkan langkah.Terkadang teori menulis harus berhadapan dengan realitas yang beda. Menulis itu idenya tidak terbatas, namun pada kenyataannya saya sendiri sering juga menghadapi kesulitan mencari ide. Sudah sering buka buku, membaca, kemudian mencoba melanjutkan mengetik, dan harus berhenti lagi. Nyatanya masih sulit juga menyelesaikan sebuah konsep. Untuk satu judul terkadang harus sampai beberapa kali mondar-mandir ke depan laptop. Harus berlama-lama kontak dengan laptop dan baru berhenti ketika sudah tengah malam. Tapi saya tetap yakin bukan teori menulis yang salah, namun memang ada masanya gagasan sulit berkembang.

 ............................

Mumpung masih ada kesempatan buat kita

Mengumpulkan bekal perjalanan abadi

Kita mesti besyukur bahwa kita masih diberi waktu

Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung

...........................

Itu adalah sebuah penggalan syair lagu “Masih Ada Waktu” dari Ebit G Ade, yang sedang saya dengarkan sembari mengetik naskah ini. Rupanya ada kesesuaian dengan apa yang saya tulis. Mungkin inilah esensi dari ikhtiar terus menulis. Memanfaatkan waktu yang diberikan pada kita untuk mengisinya dengan kegiatan yang berguna. Kiranya ketika niat sudah benar, tinggal mengukuhkan keyakinan dan tetap terus melangkah sampai masa dimana semua harus berhenti.  

 

Senin, 28 September 2020

BUAH KETEKUNAN


Kita tentu pernah melihat orang yang menenun kain?. Bisa dibayangkan, sehelai demi sehelai benang disulam dengan teliti dan sabar hingga menjadi sebuah kain. Sungguh proses yang mencerminkan ketekunan luar biasa. Sehelai benang saja memiliki arti, karena tanpa sehelai demi sehelai benang kain tidak akan pernah jadi.

Teringat pada masa kecil dulu. Di sawah kampung kami banyak burung Manyar yang bersarang di pohon kelapa. Ternyata semesta alam telah mengajarkan pada kita, bagaimana burung manyar (weaver bird) membuat sarang. Burung Manyar adalah contoh konkret perilaku tekun. Burung ini di kenal sebagai burung penenun yang handal karena sangat cekatan dalam menenun daun, ranting, serat tumbuhan, ranting dan rumput-rumput kering menjadi sarang yang sangat indah.  Dalam waktu yang singkat burung ini bisa merangkai tangkai rumput dengan rajutan yang sangat kecil. Padahal burung ini membutuhkan ratusan atau bahkan ribuan tangkai rumput untuk dijalin. Bukan hanya bentuk sarang yang indah, desain sarang burung Manyar juga sangat rumit dan unik. Konstruksi atau arsitektur sarangnya sangat estetik. 

Sebuah refleksi. Belajar menulis pun mirip dengan orang yang menenun baju atau burung Manyar membangun sarangnya. Seorang penenun tadinya tidak punya kain sama sekali. Yang dia miliki hanyalah benang. Namun dengan dorongan hati yang kuat dan tekun, benangnya telah menjadi kain yang berharga. Penulis tadinya juga hanya punya ide yang terlintas. Namun begitu ide dituangkan, disalurkan, dirakit dalam untaian kata dan kalimat, maka dia kemudian memiliki hasil karya tulis.

Ada yang mengatakan, lebih baik memiliki konsep naskah yang jelek, karena masih bisa diperbaiki daripada hanya sebatas gagasan yang masih dalam angan-angan. Proses memperbaiki adalah jalan ketekunan dan kesabaran. Dengan ketekunan kita akan memiliki ilmu dan pengetahuan baru, dan dengan ilmu kita mampu mencari resolusi dari setiap kesulitan yang kita hadapi.

Apapun yang kita lakukan, jangan sampai kehilangan ketekunan. Karena ketekunan kita adalah daya tahan dan garansi keberhasilan. Serupa musafir. Selangkah dua langkah pun memiliki arti penting dalam mencapai tujuan yang dia capai. Selangkah yang dia ayunkan semakin mendekati tujuan yang hendak dia capai. Pikirkan, andai saja kemarin dia berhenti melangkah, maka hari ini dia tidak berada di sini sekarang. Setiap langkah akan menaikkan nilai diri. Untuk melengkapi kemampuan yang biasa-biasa saja kita butuh ketekunan dan sabar. Semua akan berbuah indah, akan indah seperti mekarnya kuntum bunga yang wangi dan menakjubkan seperti metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu.

 

 

 

Minggu, 27 September 2020

JATI DIRI

 

Alkisah, ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud ada cerita sarat hikmah di balik peristiwa tersebut. Setelah Nabi Ibrahim dilemparkan dengan alat pelontar (seperti manjanik) ke dalam api unggun menggunung yang membara, berlarilah seekor semut membawa setitik air dalam mulutnya menuju api. Ketika melihat hal itu konon cicak bertanya:

 “Wahai semut kecil, apa yang akan kamu lakukan?” Semut tidak berhenti dan terus menuju api unggun. Sesaat dia kembali lagi dan cicak bertanya untuk kedua kalinya, kali ini semut menjawab.

“Saya akan memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim dengan air yang yang saya bawa”. Mendengar jawaban semut sang cicak tertawa mengejek semut. “Bagaimana mungkin kamu bisa memadamkan api unggun sebesar itu dengan hanya setitik air yang kamu bawa?”

“Setidaknya saya telah berusaha dan posisi saya jelas di pihak Ibrahim”.

Cerita ini sebenarnya sudah sangat mashur, namun sebagian mengatakan sumber cerita tersebut tidak jelas, pendapat lain mengatakan mungkin kisah ini bagian dari  Israilliyat (cerita dari Bani Israel). Tapi sebenarnya yang kita bahas bukan cerita tersebut namun pesan moral dari kisahnya.

Semut adalah sosok yang heroik, dia memiliki kegigihan dan jati diri. Baginya tidak penting usahanya berhasil atau tidak, namun yang penting adalah berbuat sekuat tenaga, mengerahkan segenap kemampuan. Dia tidak peduli dibully oleh cicak, baginya ikhtiar wajib, sedangkan keberhasilan itu urusan-Nya. Baginya usaha hanya sebatas kemampuannya. Dan memang Allah tidak membebani hamba-Nya melebihi kapasitas yang dimiliki.

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Al-Baqarah 286)

 

Sementara cicak sosok yang berlawanan dengan karakter semut, dia justru meniup api yang membakar Nabi Ibrahim supaya api semakin besar. Sebagian orang mengatakan, mungkin ini alasan kenapa kita dianjurkan membunuh cicak. Meskipun sebenarnya cicak sekarang bisa protes, mengapa dosa nenek moyang mereka 3000 tahun yang lalu harus ditanggung oleh mereka. (he..he)

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...