Minggu, 25 Oktober 2020

BERPIKIR BESAR



Seakan mendapat semangat dan energi baru setelah membaca buku Berpikir dan Berijiwa Besar (Judul aslinya, The Magic Of Thinking Big) Karya David J.Schwartz. Buku yang menyibak berbagai problem hidup yang kita alami. Baik itu masalah ekonomi, kepribaadian maupun kecakapan sosial. Membaca buku ini menjadikan kita selalu berpikir positif tentang segala apa yang kita alami. Kita selalu diajak memandang persoalan dari sudut yang beda sehingga persoalan berat yang dihadapi terkesan sederhana saja.

Penulis jelas orang yang sangat memahami segala permasalahan serta seluk beluk kehidupan duniawi. Telah melakukan banyak riset dan sangat kaya pengalaman kisah-kisah orang sukses. Bila kita membaca buku ini maka kita akan memiliki pandangan bahwa, sejak awal kesuksesan diukur dari besar kecilnya pikiran seseorang. Semakin berani berpikir besar tentang hidup dan pencapaian kita, semakin besar pula hasil yang akan kita dapatkan. Berpikir besar adalah faktor pembeda orang yang kini tengah menikmati kesuksesannya dengan mereka yang masih menemui jalan buntu dan masih terus mencari jalan sukses.

Menurut David J.Schwartz Pada prinsipnya semua orang memiliki kemampuan untuk sukses. Sukses bukan bawaan dari lahir dan hadiah dari orang tua kita. Sukses selalu diraih dari kerja keras dan mampu membaca peluang. Masalah yang dihadapi pribadi yang belum sukses sangat mungkin karena belum mampu mengenali kemampuan dirinya sendiri. Karena manfaat mengenali diri sendiri sangat penting dan dapat mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri kita dan mengoptimalkannya untuk kesuksesan dalam karir dan kehidupan. Mengenali diri sendiri sama dengan mengenali kepribadian dan karakter diri sendiri.

Berpikir besar itu tidak sama dengan kemampuan berkata-kata (orasi). Berpikir besar tidak termanifestasikan dalam bentuk orasi menggebu-gebu atau gaya bicara yang memukau. Pada kenyataannya, wujud dari berpikir besar adalah pola pikir pemenang yang selalu optimis dan percaya diri untuk meraih hal-hal besar. Berpikir besar adalah mindset seseorang yang selalu menginginkan yang terbaik dalam kehidupannya. Dia akan selalu sibuk berpikir dan selalu belajar meningkatkan kemampuan diri sendiri.

Oleh karena itu, jangan berkecil hati jika sampai saat ini masih belum sehebat orang-orang sukses. Janganlah pikiran kita menjadi musuh kita sendiri. Bangkitkan kepercayaan diri. Jangan sampai orang percaya dengan kita, namun justru kita selalu ragu dengan apa yang bisa kita lakukan. Hindari, pikiran kita yang selalu mengerdilkan kemampuan yang kita miliki sehingga akhirnya kita benar-benar menjadi pecundang yang sesungguhnya.

 

 

Sabtu, 24 Oktober 2020

FANA



Seorang musafir menjelajah jalan berliku, terik matahari menyengat kulitnya yang kering menghitam. Bertahan tetap terus melangkah, meski kaki sedikit goyah. Matanya nanar menatap ke depan, jalan panjang masih mebentang di depan. Tujuan masih jauh dalam jangkauan. Tubuh, baju dan rambutnya berdebu jalanan. Bibir kering menahan haus yang tiada terkira. Mengaharap akan menjumpai oase yang penuh berlimpah air. Dan membayangkan betapa nikmatnya meneguk segarnya air yang bening. lalu merebahkan tubuh yang sudah letih sekali….

Demikianlah banyak orang menggambarkan kehidupan dunia ini. Ibarat sebuah persinggahan dari sebuah perjalanan yang panjang. Dunia ini bukan tujuan akhir. Seberapa panjang usia kita juga akan ada ujungnya. Kenikmatan dunia adalah fatamorgana yang semakin kita cari akan semakin menjauh. Semakin kita dekati semakin sirna dari pandangan mata kita.

Bila kita amati, ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam kehidupan ini. Yang pertama ialah kebaikan dan yang kedua ialah kebahagiaan. Dua hal tersebut yang harus dipenuhi oleh manusia yang menginginkan kehidupan yang sempurna. Meskipun pada hakikatnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua fana, semua akan rusak binasa. Jika dua hal tersebut terpenuhi dalam setiap perjalanan hidup manusia, jelas akan membuat manusia merasakan ketentraman lahir dan batin dalam kehidupan dunia yang sekilas ini.

Umumnya orang dalam mencari bahagia adalah dengan menghumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Mereka menganggap banyaknya harta adalah jaminan kebahagiaan hidup di dunia. Padahal berapa banyak orang yang mampu menimbun harta namun hidupnya semakin menderita. Hidupnya semakin banyak beban, sehingga untuk menikmati hartanya tidak pernah bisa.

Kecintaan terhadap harta menjadikan manusia menjadi kikir. Hatinya dicengkeram rasa takut yang berkepanjangan. Takut hidup dalam kemiskinan dan kekurangan materi. Padahal banyak sekali orang yang lupa. Berapa banyak pecinta harta duniawi hanya sebatas mengumpulkan dan terus menghitung hartanya tanpa dia mampu menikmatinya sekalipun. Ya, dia akan meninggalkan hartanya untuk selama-lamanya. Sungguh menyedihkan. Seperti nasihat kakek kita dahulu, “Bondo iku yen wis mati ora digowo”. Semua harta benda tidak akan kita bawa ketika kita meninggalkan dunia ini. Yang menjadi milik hakiki kita adalah harta yang kita nafkahkan dalam jalan kebaikan, karena itu akan kembali kepada kita dalam bentuk pahala yang dilipatgandakan.

Jumat, 23 Oktober 2020

MELATIH PERCAYA DIRI



Melatih percaya diri harus diawali sejak dini. Banyak anak yang sebenarnya memiliki potensi, namun karena memiliki kepercayaan diri yang rendah, akhirnya ia terlihat seperti anak yang tidak memiliki kecakapan yang baik. Individu yang sempurna memiliki percaya diri yang memadai. Percaya diri ditandai dengan sifat yakin pada diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan atau masalah.

Dalam pergaulan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah, anak harus dibiasakan yakin dengan kemampuan dirinya sendiri. Suatu misal ketika dalam kegiatan pembelajaran di kelas, pendidik harus mampu membangkitkan keyakinan peserta didik, bahwa dirinya mampu mencapai kemampuan (prestasi) yang tinggi. Pantang bagi guru atau orang tua menjatuhkan rasa kepercayaan diri anak. Setiap keberanian siswa harus mendapat apresiasi. Meskipun apa yang dilakukan siswa sebenarnya adalah hal biasa dan sederhana.

Salah satu  indikator percaya diri adalah tidak bergantung dengan orang lain. Pola memanjakan anak dalam jangka panjang akan merugikan anak itu sendiri. Anak harus diajari dengan kemandirian sejak mula ia mulai mampu melakukan tugas-tugas kecil kesehariannya. Diajari tentang tanggung jawab. Mungkin juga ada benarnya, mendidik anak harus tegas atau bahkan keras. Mungkin ini terkesan berlebihan. Namun sebenarnya ada perbedaan antara keras dengan kejam. Keras sering diartikan dengan kejam. Padahal amat jauh beda. Keras tidak berarti menafikan kasih sayang orang tua.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari cerita burung pipit dan burung elang. Sebuah cerita yang sebenarnya menggambarkan pola pendidikan anak-anak kita. Apakah kita akan mendidik anak ala elang atau mendidik anak ala burung pipit. Burung elang secara fisik tampak kuat dan garang berbeda dengan burung pipit yang kecil dan lemah. Dan, ternyata sejak kecil pola pendidikan anak-anak mereka memang jauh berbeda. Burung elang mendidik anaknya dengan keras sementara burung pipit sangat memanjakan anak-anaknya.

Burung elang membangun sarangnya di tempat yang tinggi, dengan bahan-bahan yang ekstrem. Paling dasar adalah cangkang hewan yang tajam, kemudian lapisan atasnya rating kayu yang keras. Jauh terkesan nyaman sebagai tempat tinggal calon anak mereka. Beda sekali dengan burung pipit. Sarang burung pipit amat nyaman dan lembut karena terbuat dari bahan-bahan rumput kering yang halus. Ketika anak-anak elang mulai bisa terbang, sang induk akan mencengkeramnya dan membawa ia terbang ke langit, kemudian dilepaskan. Sang elang junior akan ketakutan karena dia belum pernah terbang, apalagi setinggi itu. Namun induk elang akan membiarkan anaknya ketakutan dan dia cuma membentak dengan keras.. “Kepakkan sayapmu, kepakkan terus sayapmu….” Lama kelamaan, anak elang mulai kehilangan rasa takutnya. Kemudian mulai tumbuh kepercayaan dirinya. Hingga pada masanya dia akan mewarisi keperkasaan induknya sebagai burung pemburu yang berada di puncak piramida rantai makanan.

Itu hanya sebuah cerita ilustrasi bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Apakan kita akan mendidik dengan keras dan menempa mentalnya sehingga menjadi kuat. Atau mendidik dengan lunak namun dengan risiko di kemudian hari dia akan mudah mengeluh, tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

 

Kamis, 22 Oktober 2020

BERBICARA DAN MENDENGAR



"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR Bukhari Muslim)

Mendengar dan berbicara adalah aktivitas keseharian kita. Ada yang mengatakan kita diberi satu mulut dan dua telinga. Artinya sebaiknya sedikit bicara dan banyak mendengar. Orang yang berilmu punya kebiasaan banyak mendengar daripada berbicara. Mereka yang disebut sebagai orang besar ternyata punya kebiasaan mendengar yang baik dan pendengar yang antusias. Ketika berbicara dengan mereka, kita merasa menjadi orang penting karena apa yang kita bicarakan selalu didengar dengan penuh perhatian.

Ada profesi yang mengharuskan banyak berbicara, tentu harus berbicara. Sementara juga ada profesi yang menuntut banyak bekerja dan sedikit bicara. Ada anekdot yang menyatakan, sedikit bicara banyak bekerja itu maling. Banyak bicara sedikit kerja itu makelar. Yang baik tetap proporsional, harus seimbang, kapan waktu berbicara dan kapan harus mendengar (diam).

Diam sering dikatakan sikap yang obyektif. Namun, diam juga bisa menunjukkan keutamaan atau kebodohan seseorang. Diam bisa menjadi sesuatu yang utama tapi bisa juga menjadi tercela. Diamnya orang berilmu (saleh) dari perkataan yang sia-sia menjadi penuh kemuliaan. Diamnya orang yang memang pendiam itu biasa saja. Dan dan diamnya orang bodoh karena memang tidak mengerti apa-apa.

Berbicara itu lebih mencerminkan sikap personal yang dominan. Ketika mulut seseorang terlalu banyak bicara, ia tidak akan dapat mendengar suara hati nuraninya. Suara hatinya tertutup oleh gaduhnya suara-suara mulutnya sendiri. Sedangkan seorang pendengar lebih menunjukkan kepribadian yang terbuka dan kebesaran hati. Tipe orang yang mau menerima keluh kesah. Hati-hati banyak bicara, banyak bicara pasti banyak salahnya. Banyak salah bisa saja menjadi banyak dosa. Dengan diam, risiko tergelincir menjadi semakin kecil. Tapi harus selalu diingat, tidak berbicara di saat harus bicara juga bisa terjerumus dalam dosa.

 

 

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...