Minggu, 14 Februari 2021

KAUM FILANTROPI



“Kesabaran adalah kebajikan, dan saya belajar kesabaran. Ini adalah pelajaran yang sulit”. Begitu quote Elon Musk pendiri Tesla (mantan) orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Elon Musk sempat beberapa kali merasakan jadi orang terkaya dunia berkat saham Tesla yang meroket. Hari ini, kekayaan bersih Musk mencapai USD179,2 miliar atau setara dengan Rp2.535 triliun.

Saat ini posisi orang terkaya di dunia kembali dipegang oleh Jeff Bezos. Dilansir dari Forbes Real Time Net Worth di Jakarta, Senin (18/1/2021) bos Amazon, Jeff Bezos kekayaannya tercatat mencapai USD181,5 miliar atau setara dengan Rp2.551 triliun (kurs Rp 14.060).

Ada kesamaan yang bisa kita lihat dari kebiasaan para “triliuner” dunia. Mereka memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah-masalah sosial dan rajin berdonasi. Kita menyebut kebiasaan ini sebagai filantropi. Istilah “filantropi”, yang dalam bahasa Indonesia dimaknai “kedermawanan” dan “cinta kasih” terhadap sesama belum terlalu dikenal oleh khalayak luas, meski secara praktis kegiatan filantropi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.

Tampaknya kita harus belajar dari kaum filantropi. Mereka memiliki empati yang besar terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Harta yang berlimpah tidak semata digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri-sendiri. Mereka “beramal” tentu landasannya hanya alasan kemanusian, membantu kaum lemah, miskin dan termarjinal di seluruh pelosok dunia. Setidaknya itu ungkapan Elon Musk "mewakili" kaum filantropi tentang alasan kedermawanannya, masalah kebajikan.

Sebenarnya dalam ajaran agama Islam, komitmen terhadap kaum miskin dan lemah secara simbolis direpresentasikan oleh kewajiban membayar zakat. Zakat bermakna “membersihan” atau “menambah” harta. Pembayaran zakat dapat diartikan sebagai sebuah proses membersihkan harta benda, dan mewujudkan ketetapan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh orang-orang kaya terdapat hak untuk orang-orang miskin. Zakat adalah bentuk “ibadah harta” yang bisa secara langsung berdampak pada peningkatan kemampuan ekonomi umat. Dan seandainya kesadaran berzakat umat Islam sudah tinggi (optimal), niscaya akan terbangun keharmonisan umat, tidak terlalu jauh kesenjangan antara kaum lemah dan berada.

 

Sabtu, 13 Februari 2021

“EMPAN PAPAN”



Kata peribahasa, “Mulutmu harimaumu”. Kurang lebih maksud ringkasnya, kita harus menjaga perkataan. Karena banyak orang celaka karena urusan perkataan yang salah.  Peribahasa ini juga punya makna bahwa setiap perkataan memiliki kekuatan yang sangat besar efeknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Bisa jadi akibat baik atau sebaliknya. Akibat kaki yang terpeleset mungkin akan menyebabkan luka fisik yang tidak seberapa. Tapi bila lidah yang “terpeleset” akibatnya bisa sangat fatal.

Kita seharusnya prihatin dengan keadaan hari ini. Orang dengan mudahnya berkata kasar, menghina, membully maupun memfitnah. Gambaran semua itu dapat kita lihat dengan sangat jelas, nyata dan semakin menjadi “budaya” baru di media sosial. Dengan alasan kebebasan berpendapat orang bisa berbicara semaunya. Tidak lagi menimbang rasa lawan bicaranya. Katanya kritik tapi bahasanya seperti menghujat dan merendahkan. Bukankah kita bisa memilih bahasa yang layak dan elegan dalam berkomunikasi.

Ketika Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam menemui Fir’aun Allah berfirman: "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q. S. Thoha Ayat 43-44). Bahkan kepada Fir’aun yang begitu bengis dan kejam Nabi Musa masih harus berkata lemah-lembut. Allah mengajarkan kepada Nabi Musa untuk tetap menggunakan bahasa dakwah yang humanis. Inilah pentingnya adab.

Dalam pandangan budaya Jawa, orang sekarang sudah tidak mengenal “Empan Papan”. Empan papan adalah istilah dalam bahasa dan budaya orang Jawa, yang memiliki makna menempatkan diri sesuai dengan tempat atau situasi (kondisi yang tepat). Istilah lain dari empan papan ini dalam Bahasa Jawa adalah: “ngerti kahanan”, artinya mengetahui situasi yang terjadi dan bereaksi tepat.

Semua memiliki tempatnya. Seorang pimpinan kantor tentu memiliki cara berkomunikasi yang berbeda antara bawahannya dengan istrinya di rumah. Seorang anak harus memilih bahasa yang bagus ketika berbicara dengan orang tuanya, di waktu yang lain lebih lepas ketika berbincang dengan saudara-saudaranya. Atau, sebagian masyarakat kita (Surabaya) karena senangnya bertemu dengan teman lamanya justru “misuh-misuh”, tentu ini bahasa budaya dan keakraban, bukan perkataan kotor untuk memaki.

 

Jumat, 12 Februari 2021

TANGGAL UNIK 12022021



Apa yang istimewa dengan hari ini?. Katanya hari ini tanggalnya cantik. Jumat tanggal 12 Bulan Februari 2021. Kalau ditulis dalam format angka menjadi 12022021. Kombinasi unik angka 0, 1 dan 2. Dan bila dibaca dari depan maupun belakang, susunan angkanya tetap sama. Tentu keunikan yang biasa, yang pasti saat ini kita berada di depan bulan Rajab yang akan menjelang. Ketika matahari terbenam sore tadi kita sudah masuk pada penanggalan awal Bulan Rajab 1442 Hijriyah.

Sudah menjadi tabiat orang Indonesia suka mengulik hal-hal yang unik. Biasanya akan banyak yang menjadikan momen tanggal unik untuk diabadikan sebagai hari penting seperti untuk tanggal (melaksanakan) aqad pernikahan. Tidak sebatas memilih tanggal yang istimewa, biasanya jumlah mahar uang pun nominalnya dicari yang tidak lazim pula. Itu kebiasaan orang-orang "populer" di negeri kita yang biasa melabeli merek pribadi sebagai "makhluk selebritis".

Bukankah setiap hari itu unik. Tak sekalipun kita mengulang hari, bulan dan tahun yang sama. Hakikatnya setiap hari yang kita lalui adalah hari yang terakhir, karena dia tak akan berputar kembali. Setiap hari merupakan langkah yang membawa kita pada satu titik yang sudah pasti, akhir dari  kehidupan.

Banyak keagungan ayat-ayat Allah yang setiap hari kita saksikan. Terbit dan tenggelamnya matahari yang membawa perubahan siang dan malam adalah kejadian luar biasa. Namun jarang kita "melihat" itu sesuatu yang besar. Atau karena setiap hari kita menyaksikannya sehingga menjadi hal yang lumrah. Kita juga juga jarang merenung dengan semesta alam yang terbentang di mata kita. Dari gugusan planet dan bintang yang besarnya kadang ribuan kali dari bumi yang kita pijak, sampai makhluk kecil yang sering kita abaikan, semut. Bagaimana anatomi semut, sel-sel syarafnya sampai sistem artikulasinya pada waktu ia berbicara. Lho, jangan salah. Semut juga berbicara, sebagaimana di abadikan dalam surat "an-Naml".

Tak ada yang Allah ciptakan di bumi ini sia-sia. Semua telah menjadi "skenario besar" sang sutradara kehidupan. Tidak ada ilmu kecuali apa-apa yang telah diberi pengetahuan tentang semua itu oleh Allah. Dan sangat mungkin umur kita tak akan cukup untuk menggali kandungan ilmu dalam satu ciptaan-Nya yang kecil seperti semut.

 

Kamis, 11 Februari 2021

“MENGIKAT” HATI DI MASJID #2



Masih melanjutkan “uneg-uneg” kemarin. Sebagai bagian dari kepengurusan masjid, kadang merasa gagal menjadikan masjid “ramai” dengan kegiatan ibadah. Apa perlu diumumkan kepada jamaah. "Diberitahukan kepada seluruh jamaah, bahwa mulai besok setiap jamaah mendapat tunjungan ibadah sholat berjamaah sebesar Rp.100.000  setiap satu kali shalat fardhu. Tunjungan akan diberikan setiap bulan sekali”.

Pembangunan fisik masjid tidak sejalan dengan kemakmurannya. Masjid tampak megah dengan lampu terang benderang, sementara kenyataan yang lain hanya satu shaf jamaah yang ada di belakang imam. Itupun sering tidak penuh. Dan ini sudah menjadi lanskap yang umum. Tidak di desa tidak pula hanya di kota. Sering kali kita dipertontonkan “show tunggal”. Dia yang azan, pujian sampai iqomat. Belum berhenti hanya di situ, sekaligus menjadi imam.

Di benua eropa sudah sejak satu dasawarsa yang lalu, banyak tempat ibadah (gereja) yang sudah tidak memiliki jemaah lagi. Gereja-gereja “bongkor” itu akhirnya dilelang. Dan kebanyakan yang membeli adalah komunitas imigran muslim. Kemudian gereja yang sudah nganggur tadi disulap menjadi masjid. Begitu perjuangan saudara-saudara kita di negeri-negeri yang masih jarang kita jumpai masjid di sana. Sebagai sentral ibadah umat peran masjid begitu besar. Menyatukan umat dalam satu jalinan yang kokoh, jalinan ukhuwah Islamiyah.

Berbeda dengan mereka yang berjuang untuk memiliki masjid. Kita saat ini sedang berjuang mengisi masjid. Jumlah masjid sudah amat banyak. Tiap desa, kampung, bahkan tiap RT maupun RW sudah berdiri masjid (musholla). Entahlah, apakah itu sebuah prestasi yang membanggakan. Mampu membangun masjid dengan jumlah yang banyak. Tapi dari sudut pandang fungsinya, mestinya kita harus prihatin.

Eh, siapa bilang masjid dan musholla sepi. Bukankah setiap Ramadhan akan banyak jamaah yang sholat ke masjid atau musholla. Meskipun itu sering hanya di awal dan akhirnya. Bahkan ketika shalat Idulfitri maupun Iduladha, takmir harus menggelar tikar tambahan karena jamaah membludak hingga tidak muat lagi. Setidaknya ini juga masih menggembirakan kita. Sebenarnya umat tidak lupa dengan masjid. Hanya tidak kangen dengan masjid. Kalau pun memiliki rindu, tidak sebesar dengan rindunya pada tempat-tempat wisata, kampung halaman maupun tempat favoritnya yang lain.

 

Rabu, 10 Februari 2021

ALAH BISA KARENA BIASA



Sebuah pesan pendek masuk di ponsel sore ini. “Kamu kalau menulis sehari berapa menit, atau sehari berapa halaman?. Sebuah pertanyaan dari teman “dunia maya” yang sama-sama memiliki ketertarikan tentang menulis. “Saya berusaha menulis sehari lima paragraf, sekitar tiga ratus kata”. Jawaban saya untuk teman pegiat literasi tadi. Tentu, ada kalanya karena alasan tertentu alokasi sehari lima paragraf tidak bisa tercapai.

Mungkin bagi sahabat-sahabat yang sedang “kemaruk” belajar menulis, lima paragraf setiap adalah target yang relatif berat. Saya pun sebenarnya sering kesulitan untuk menuntaskan target harian itu. Sering ketika membuka laptop hendak menulis, ide masih gelap, tak tahu harus menulis apa. Tapi lanjut saja masuk ke Microsoft Word, ketik apa saja, satu kata kemudian kata berikutnya, satu kalimat selanjutnya kalimat berikutnya, dan seterusnya…dan seterusnya. Dalam tempo tiga puluh menit sampai enam puluh menit biasanya satu artikel kelar dibuat.

Katanya kata mengundang kata yang lain, kalimat akan membawa kalimat yang berikutnya. Dan sepertinya teori itu sejauh ini memang benar. Menerapkan “wejangan” Prof.Naim, pokoknya menulis saja. Tidak perlu repot-repot mencari ide yang bagus untuk menulis. Karena pada dasarnya setiap yang ditulis dan menjadi sebuah karya itu bagus, bila dibandingkan dengan gagasan yang masih disimpan dalam angan-angan.

Ide itu sebenarnya tak terbatas. Hanya karena kurang terbiasa menggalinya, semua terasa rumit. Gagasan yang tadinya “hilir-mudik” dalam benak kita sering hilang ketika hendak disusun dalam rakitan kata-kata. Kebiasaan terus menulis inilah yang menjadikan proses mencetuskan gagasan menjadi lebih mudah. Tentu semua harus ditunjang pula dengan kebiasaan membaca. Karena dengan banyak membaca kita memiliki khazanah kosakata dan keluasan pandangan.

Sebuah diskusi menarik dengan teman saya. Prinsipnya semua hanya berdasar sedikit pengalaman belajar menulis. Karena sampai saat ini, saya tidak pernah merasa memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang menulis. Bukan pula orang yang tahu bagaimana menulis yang baik itu dilakukan. Andai kata sudah bisa disebut sebagai penulis, tentu masih penulis pemula.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...