Kamis, 10 Juni 2021

BAHAYA LISAN




Salah satu tanda kualitas keimanan seorang Muslim adalah mampu menjaga lisannya dari perkataan yang menimbukan dosa. Lisannya tidak sembarangan bertutur-kata, karena terpeleset lisan sering menimbulkan dampak yang lebih buruk dariapada terpeleset kaki. Bahkan Rasulullah pernah bersabda;


"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Saat ini sudah menjadi kelaziman orang berinteraksi dengan individu lain menggunakan media sosial, apakah itu Facebook, Tweeter, Instagram, WA mupun yang lainnya. Apa yang ditulis dalam platfom media sosial tersebut hukumnya sama dengan apa yang dikatakan melalui lisan. Bila yang disampaikan baik, tentu akan mendapatkan balasan yang baik (pahala) dari Allah. Namun bila media sosial isinya hanya keburukan seperti; ghibah yang menyebabkan pertengkaran, membuka rahasia orang lain, banyak komentar yang akan menimbulkan permusuhan antarkelompok dan golongan, menyebar berita bohong (hoaks) bahkan fitnah, senda gurau dengan memperolok-olok orang lain maka itu semua adalah bagian dari keburukan lisan.

Jangan pernah pernah menganggap remeh dengan dosa lisan. Karena Allah memberi peringatan keras tentang lisan yang tidak terjaga. Lisan yang pekerjaannya menebar keburukan dan selalu mencela orang lain. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman;  

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Karena media sosial adalah kepanjangan dari lisan seseorang, maka setiap akibat darinya sama dengan apa yang lisan katakan. Bahkan dengan kemampuan jangkauan yang begitu luas dampak buruknya tentu lebih besar dari perkataan lisan secara langsung. Tentu kita tidak ingin celaka hanya karena tidak bisa mengendalikan lisan. Sudah banyak contoh dalam kehidupan ini, orang tergelincir karena tidak mampu mengekang lisannya. Dan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (H.R. al-Bukhari).

Yang lebih utama adalah selalu meneliti keburukan diri sendiri daripada selalu mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Karena bila kita jujur akan selalu ada kekurangan dan keburukan kita. Dengan intropeksi akan selalu ada usaha untuk membenahi kekurangan dan tidak tertarik meneliti kekurangan orang lain. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Memang lidah atau lisan kita hanya kecil, namun bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar. Seperti para falsafah leluhur kita zaman dahulu “Ajining diri saka lathi Ajining raga saka busana”,  kehormatan diri atau harga diri bergantung dari tutur kata. Sikap luhur terbentuk karena pribadi yang selalu berhati-hati dalam berkata. Seseorang yang perkataannya baik, menepati janji, memili unggah-ungguh dan menghargai orang lain akan memiliki kehormatan dalam pandangan orang, sebaliknya tutur kata yang jelek dan kasar akan menjadikan orang kurang mendapat respek. Demikian pula kehormatan badan kita terletak dari pakaian yang dikenakan. Penampilan yang baik adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tampilan fisik yang bersih dan rapi secara umum adalah gambaran kepribadian yang baik.

 

 

 

Rabu, 09 Juni 2021

Menua, Itu Pasti...



Tinggal di rumah kecil di tempat yang sejuk. Dekat mata air yang segar dan jernih. Dengan pepohonan rindang yang hijau di sekitar halaman. Jauh dari kebisingan kota, maupun jalan raya yang padat dengan kendaraan. Bila malam yang terdengar hanya suara jangkrik dan binatang malam, sehingga sujud akan lebih khusyu dan dalam. Tidak lagi tertanggu riuh-rendah media sosial yang penuh keributan. Bila pagi sinar matahari hangat menyapa. Udara segar mengisi penuh paru-paru sampai relung terdalamnya. Hemm… Itulah mimpi bila masa tua nanti, bila Allah menganugerahi usia yang panjang.

Menua itu pasti. Tidak ada yang bisa melawan sunatullah. Kita mengerti bila perjalanan hidup ini sebenarnya singkat. Kebahagiaan hidup itu singkat, kesenangan duniawi itu singkat. Dan, penderitaan hidup itu juga singkat. Meski kebanyakan orang "merasa" dia akan hidup selamanya. Mengumpulkan harta seakan-akan hendak hidup seribu tahun lagi.

Masa tua mungkin bukan masa terindah. Andai saja orang bisa menghindari masa tua, tentu saja semua akan berlari sejauh mungkin. Ya, menjauh dari masa tua dan hidup muda selamanya. Orang sering berbicara masa muda adalah fase terindah dalam hidup ini. Di saat tubuh masih kuat, semua enak dimakan dan semua bisa dilakukan. Namun justru banyak yang tergelincir di masa mudanya. Terlena, dan ketika sadar semua sudah terlambat.

Bila direnungkan, fisik memang akan mudah terlihat bila memasuki usia tua. Namun jiwa (rasa) sering tidak sadar dengan jumlah usia yang semakin banyak. Seakan-akan jiwa selamanya muda. Ini yang sering menipu kita. Menjadi lupa bila masa terus saja berputar, dan tak akan pernah bisa kembali.

Masa tua mestinya adalah puncak kebahagiaan dari seluruh fase perjalanan hidup. Masa tua bukan masa menanam tapi masa memanen. Masa tua adalah kesempatan untuk merasakan manisnya buah perjuangan di masa muda. Namun bagi mereka yang masa mudanya tidak pernah menyiapkan masa tua, maka yang sering terjadi adalah masa tua yang jauh dari kebahagiaan.

 

Selasa, 08 Juni 2021

Era Digital, Antara Peluang dan Ancaman



Menakjubkan. Mungkin satu kata ini cukup untuk menggambarkan pesatnya perkembangan teknologi di era industri 4.0. Bill Gates pernah berkata bahwa Revolusi 4.0 merupakan “opportunity for everyone”, yang artinya peluang untuk semua orang. Dalam dasawarsa yang terakhir, kita mengalami perubahan yang begitu drastis. Tiba-tiba semua berubah, dan kita seperti belum siap dengan perubahan yang begitu cepat.

Teknologi informasi begitu melaju dengan fitur-fitur canggihnya. Ini menyebabkan banyak hal mulai tersisihkan. Orang semakin sedikit yang membaca koran dan majalah karena portal news di internet lebih update dan mudah diakses. Dunia televisi yang dulu menjadi primadona kini juga mulai kalah bersaing dengan Youtube. Cepat atau lambat pola hiburan masyarakat akan bergeser dari tv ke kanal Youtube dan yang sejenisnya.

Sejalan dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0 tersebut, perusahaan membutuhkan pekerja dengan keterampilan baru, yang mungkin tidak ada sebelumnya. Beberapa bidang pekerjaan akan mengalami peluang untuk berkembang pesat, sementara bidang pekerjaan yang lain mungkin akan menurun. Dulu ketika kita bertanya pada anak-anak, apa cita-cita mereka?. Pasti jawabannya tidak jauh dari Dokter, Pilot, Pramugari atau profesi yang serupa. Tapi kini kita akan mendengar jawaban yang berbeda. Youtuber, Editor Video, Desainer Grafis dan lainnya.

Revolusi digital dari satu sisi memberikan peluang yang sangat besar bagi mereka yang menguasai teknologi informasi. Faktanya, sekarang banyak orang bekerja di rumah yang menghasilkan pundi-pundi uang berlimpah. Mereka bekerja tidak terbatas pada perusahaan-perusaan dalam negeri tetapi juga yang ada di mancanegara. Karena pekerjaannya tidak menuntut kehadiran fisiknya, tapi hasil kerjanya yang bisa dikirim secara online.

Selain sisi peluang, revolusi industri juga membawa “ancaman” yang serius. Sudah banyak perusahaan besar yang gulung tikar karena revolusi ini. Munculnya kamera digital meruntuhkan dominasi kamera film. Peralihan medium penangkap gambar kamera dari lembaran film menjadi sensor elektronik telah membawa peruntungan bagi Fujifilm yang berani berevolusi. Hal berbeda terjadi pada Kodak. Sektor pkerjaan lain juga terkena imbasnya. Sektor transportasi tergerus oleh sistem taksi dan ojek online dan usaha kuliner juga merambah dunia pemesanan online. Bagi mereka yang tidak bisa mengikuti arsu perkembangan teknologi, maka siap-siaplah terpinggirkan.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...