Minggu, 12 September 2021

MENULIS MENGABADIKAN KATA



Menulis mengajarimu bahwa yang terucap bisa saja kamu lupakan. Namun, yang kamu tuliskan akan selalu ada. Menulis bagai merekam peristiwa masa demi masa. Dan pada waktunya nanti akan menjadi rangkaian cerita panjang penuh kenangan.

Mengutip hasil sebuah riset. Dalam sehari rata-rata, secara umum manusia mengucapkan kata sebanyak 16.000 kata. Dengan menggunakan perekam suara digital selama delapan tahun, para periset di Arizona University mempelajari berapa banyak kata yang telah dilontarkan ratusan mahasiswa Amerika dan Meksiko selama beberapa hari. Para siswa membawa recorder setiap harinya dengan durasi rata-rata sekira 17 jam sehari.

Ini membuktikan bahwa pikiran manusia itu selalu “berjalan” tidak pernah diam. Akan selalu ada ide yang diproduksinya dan mengalir  melalui kata-kata. Kira hanya mencoba bagaimana ide-ide tadi tidak hanya keluar melalui kata semata. Namun diabadikan dalam tulisan.

Bila kita membuat hitungan sederhana dalam sehari kata-kata yang kita ucapkan bisa menjadi lima puluh halaman lebih. Mungkin kita tidak pernah menduga bisa sebanyak itu. Karena kenyataannya bila kita hendak menulis untuk membuat satu halaman saja membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Tentu melakukan semua ini memerlukan keuletan tekad. Kita hanya perlu melihat dan belajar bagaimana orang lain mampu melakukannya dengan baik. Yang membedakan kita dengan orang-orang yang “expert” di dunia tulis-menulis adalah ketabahan. Mereka mampu menjalani proses panjang sementara kita berhenti terlalu cepat.

 

 

 

 

 

Sabtu, 11 September 2021

KEHIDUPAN “BUNGA”



Mari kita tadabbur alam sejenak, mengambil pelajaran dari sekuntum bunga. Bunga yang mekar dan harum akan mengundang banyak lebah dan kupu-kupu. Nektarnya adalah makanan kesukaan lebah maupun kupu-kupu. Jadi di mana tempatnya maka pasti akan tetap dikerumuni lebah dan kupu-kupu. Di puncak gunung maupun di celah jurang yang curam tak akan menjadi penghalang yang berarti.

Begitu pula laksana orang yang berilmu. Orang berilmu pengetahuan ibarat bunga yang mengundang banyak lebah dan kupu-kupu. Di manapun dia tinggal akan selalu ada orang yang ingin belajar dan menggali ilmunya. Tak perlu dia menawarkan diri, karena dia menjadi terang bagi diri dan sekelilingnya. Sehingga menjadi tumpuhan orang-orang yang membutuhkan cahaya ilmu.

Fakta yang kita lihat memang demikian. Banyak makam para Aulia (Waliyullah) yang berada di tempat yang terpencil. Mereka hidup dalam kesunyian, namun tetap saja banyak santri yang ngaji dan ngalap barokah kepada mereka. Ini adalah bukti akan kedalaman ilmu dan keikhlsan hati.

Demikian pula para pendiri pondok salaf zaman dahulu. Mereka adalah para alim yang ilmunya dalam bagai samudera. Tak perlu mereka mencari santri karena justru para santri akan berkumpul dan berkerumun dari segala penjuru negeri. Bagai bunga yang dikerumuni lebah dan kupu-kupu. Bahkan ketika mereka sudah wafat, keberkahan ilmunya tetap bersambung hingga kini.

Sudahkah kita menjadi bunga yang dicari para kumbang, lebah dan kupu-kupu? Atau kita hanya laksana bunga plastik. Indah dan tak pernah layu, namun tak pernah menarik minat pemburu nektar karena palsu. Penampilan yang indah namun tidak memiliki inti sari yang bermanfaat.

 

Jumat, 10 September 2021

ANTUSIAS KEMBALI KE SEKOLAH



Lega rasanya. Begitu Pembelajaran Tatap Muka (PTM) diizinkan lagi semua menyambut dengan gembira. Mesjipun dalam format yang masih terbatas namun cukup membuat orang tua, guru dan peserta didik antusia menyambut kembali masuk sekolah secara resmi.

Sejak pemberlakuan pembelajaran dalam jaringan (daring) pertengahan Maret 2020 (tanggal 16 Maret), praktis anak-anak tidak bisa lagi belajar di bangku sekolah. Itu bukan rentang waktu yang pendek, hampir delapan belas bulan berlalu atau tepatnya 541 hari.

Tentu ada kerinduan yang mendalam. Siswa rindu dengan teman-teman mereka. Rindu pula dengan Bapak dan Ibu guru yang sekian lama hanya biasa menyapa dari dunia maya. Sementara guru-guru rindu suasana sekolah yang ramai dengan anak-anak. Kangen dengan aktivitas dalam kelas, dan sudah mulai “bosan” pula belajar dengan pola daring.

Hari masuk sekolah pertama kali rasanya memang luar biasa. Selain rasa rindu ada pula rasa haru serta ada yang lucu. Terharu karena setelah sekian lama menunggu tanpa ada kepastian, kini hari yang dinanti itu telah tiba. Dan sisi lucunya dengan perubahan fisik anak-anak didik kami yang begitu “menggembirakan”.

Dengan beban belajar siswa yang berkurang dan intensitas main yang kurang pula namun asupan gizi yang bertambah menjadikan tubuh nereka semakin bongsor. Wajar banyak wali murid yang meminta izin anaknya tidak menggunakan seragam sekolah. Karena banyak yang sudah tidak muat lagi. Sementara stok di toko juga sudah langka karena banyak yang berbelanja pasca diumumkannya PTMT.

Semua tentu tetap wajib disyukuri. Kesempatan masuk sekolah meskipun masih terbatas menjadikan semangat guru, siswa dan orang tua bangkit kembali. Pelan tapi pasti anak-anak akan kembali pulih minat belajarnya. Tak dapat kita ingkari sistem daring membuat semua mengalami kejenuhan. Dan semoga semua akan berjalan lebih baik lagi.

 

 

 

Piala Dunia 2026 dan Hilangnya Netralitas Sepak Bola

Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan politik, agama, maupun ideo...