Menjadi guru sebenarnya
bukanlah “mimpi” masa kecil. Sejak kecil saya memang tidak memiliki cita-cita
yang pasti. Begitulah tabiat anak kecil pada umumnya. Ketika melihat seorang
pedagang yang sukses, kaya raya, tiba-tiba dalam hati ingin menjadi pedagang.
Di saat yang lain, ketika melihat petani yang memiliki sawah yang luas dan
hewan ternak yang banyak, seketika dalam pikiran terbersit keinginan menjadi
petani. Dan pada akhirnya, garis hidup yang harus dijalani “memaksa” harus
menjadi guru.
Semua tentu sudah sependapat,
guru adalah profesi yang mulia. Terlepas apa statusnya, pegawai negeri,
honorer, guru bantu maupun guru yayasan, atau guru apalah namanya. Seluruhnya
tetap posisi yang penting dalam dunia pendidikan. Semua status tadi adalah
atribut dunia semata yang kelak di akhirat hakikatnya tidak akan memiliki
perbedaan. Meski pada awalnya, menjadi guru di kampung yang kecil yang jauh
dari keramaian bukanlah posisi yang menyenangkan. Perjalanan waktu yang
akhirnya menumbuhkan kesadaran saya, bahwa semua harus dijalani dengan sepenuh
hati dan ikhlas.
Madrasah Ibtidaiyah
Miftahul Huda tempat saya mengajar selama ini, lokasinya berada di sebuah desa
kecil. Desa Pakisaji Kecamatan Kalidawir, Tulungagung bagian Selatan. Desa yang
menyimpan banyak kenangan masa kecil saya. Kampung halaman yang yang sangat
saya rindukan ketika dulu masih jauh dalam perantauan. Meski sekarang desa kami
banyak yang telah berubah, namun kenangan indah tentang desaku tidak akan
pernah hilang.
Madrasah kami telah melalui
sejarah panjangnya. Hanya sedikit jejak kisahnya yang kami ketahui, dan itupun
hanya sebatas kisah dari para sesepuh dan guru kami. Bermula untuk memenuhi kebutuhan
pendidikan agama masyarakat Nahdlatul Ulama Desa Pakisaji dan sekitarnya, pada tahun
1941 sepulang dari nyantri di Pondok Pesantren Sidosermo Surabaya Haji Mundzir beserta
tokoh Jigang yang lain mendirikan sebuah Madrasah Diniyah.
Pada awalnya Madrasah
Diniyah berlokasi di rumah Mbah Haji Mukasim di Dusun Jigang bagian utara. Mbah
Mukasim adalah ayahanda Haji Mundzir, dan beliau adalah tokoh yang membawa
organisasi NU pertama kali masuk ke Kecamatan Kalidawir. Pada tahun 1958
madrasah sempat dipindahkan di rumah Haji Solihin (sekarang masjid Darussolihin).
Namun tidak lama kemudian pada tahun 1959 madrasah dipindah lagi di dekat rumah
Haji Mundzir (lokasi sekarang). Pada waktu itu madrasah sudah memiliki banyak
murid meskipun ruang kelasnya hanya terbuat dari anyaman bambu (gedek).
Madrasah Diniyah inilah yang kemudian pada perkembangannya berubah menjadi
Madrasah formal sampai sekarang ini.
Menjadi guru di Madrasah
Ibtidaiyah Miftahul Huda sebenarnya seperti kembali lagi ke tempat bermain masa
kecil. Karena halaman dan setiap sudut gedung dan ruang kelasnya adalah “taman
bermain” saya dan teman-teman waktu kecil tempo dulu. Dan setiap waktu akan
selalu muncul bayangan masa lalu yang memang tak akan mungkin bisa dihapus.
Mengenang kembali memori
indah masa kecil dahulu. Di dekat madrasah kami terhampar sawah yang luas.
Ketika musim kemarau sawah tadi akan menjadi “lapangan” bermain kami. Bermain
sepak bola, layang-layang sampai angon “Wedhus Gibas”. Memang hanya itu pilihan
tempat bermain yang ada. Desa kami tidak memiliki tanah lapang seperti
desa-desa yang lain. Sawah benar-benar menjadi medan segala aktivitas bermain
yang sangat menyenangkan.
Di pinggir sawah berjajar
pohon-pohon kelapa. Dulu memang amat mudah menemukan pohon kelapa di desa kami.
Bukan cuma di “tegalan” (kebun) saja, di pekarangan rumah juga banyak pohon kelapa
ditanam. Namun sekarang, sudah sangat jarang kita melihat pohon kelapa, bisa
dikatakan hampir punah karena serangan hama kumbang kelapa (Kwawung) yang tidak
bisa dibasmi. Di pohon-pohon kelapa di pinggir sawah itulah banyak bersarang burung
manyar. Sarangnya yang berbentuk unik bergelantungan di ujung daun kelapa.
Sering dulu bersama-sama teman mengambil anak burung manyar dari sarangnya
untuk dipelihara.
Sore hari menjadi waktu
yang menyenangkan. Selepas Ashar datanglah kawanan burung jalak di pohon-pohon
kelapa tadi. Kicauan burung yang merdu sahut-menyahut menjadi hiburan yang menentramkan.
Itu adalah suasana indah yang sudah tinggal cerita. Kisah burung manyar yang
bersarang di ujung-ujung daun kelapa dan kawanan burung jalak yang datang setiap
senja sudah lama tidak kami jumpai lagi. Semua telah punah karena tangan-tangan
jahat manusia yang tidak bertanggungjawab.
Ketika malam menjelang,
kampungku menjadi sunyi. Rumah-rumah kami hanya menggunakan lampu minyak
sebagai penerangnya. Dan suasana akan tambah sepi bila musim hujan. Hanya suara
kodok yang begitu riangnya di kubangan air dan sawah menjadi simponi indah pengantar
tidur.
*****
Kisah menjadi guru madrasah dimulai pada tahun 2003 akhir.
Pada waktu itu Ketua Yayasan (Bapak Haji Kusnan) datang ke rumah meminta saya
masuk membantu mengajar. Padahal, latar belakang pendidikan formal saya bukan
jurusan pendidikan (guru). Tentu pada waktu itu ijazah tidak menjadi masalah,
namanya juga guru bantu, apalagi di lembaga pendidikan swasta di bawah yayasan.
Prinsipnya yang penting mau mengajar, urusan linier tidaknya ijazah itu bukan
hal penting.
Sejak awal, kepala sekolah kami dulu selalu menyampaikan,
menjadi guru harus dengan niat berjuang dan semata-mata sarana mengamalkan
ilmu. Karena kalau memiliki niat mencari
uang pasti akan kecewa. Pada waktu itu sepenuhnya anggaran pendidikan
menjadi tanggunng jawab yayasan sebagai penyelenggara pendidikan. Belum ada
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) seperti saat ini. Tentu sekolah hanya
bergantung dari SPP siswa yang nominalnya tidak seberapa besar.
Praktis keuangan sekolah yang kecil itulah yang harus dibagi
untuk seluruh kebutuhan sekolah termasuk memberi honor guru swasta. Masih ingat
apa yang diucapkan Bapak Mastur (Kepala Sekolah) pada saat memberi honor, “iki
mung nggo tuku sabun dudu gaji..” (ini cuma untuk beli sabun bukan gaji).
Sebenarnya menjadi pendidik (guru), bagi saya bukan hal yang
baru. Sejak di bangku madrasah aliyah kelas dua saya sudah mengajar mengaji
anak-anak di TPQ. Hal yang sama ketika masih kuliah, saya juga aktif mengajar
di TPQ. Pengalaman itulah yang membuat saya tidak kaget ketika masuk ke
Madrasah Ibtidaiyah. Sudah terbiasa dengan "iklim perjuangan" pada
masa itu.
Mungkin sekitar satu atau dua tahun mengajar, perubahan
besar terjadi pada sistem pendidikan kita. Seluruh lembaga pendidikan formal
mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. Sebuah titik
perubahan yang menjadikan sistem pendidikan kita mengalami progres yang
menggembirakan.