Selasa, 12 Oktober 2021

MENGEJAR “MIMPI”



Bermimpilah, karena dengan memiliki mimpi indah kau akan memiliki energi untuk meraihnya. Seperti ungkapan Bung Karno, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”. Maknanya, setiap orang harus memiliki cita-cita dan impian yang tinggi agar bisa bekerja keras untuk dapat mewujudkannya.

Dalam hidup ini banyak mimpi-mimpi yang sulit sekali diwujudkan. Tapi tidak mengapa, karena bagian terpenting dari bermimpi bukanlah tentang terwujud atau tidak, tapi tentang bagaimana kita berani untuk bermimpi, bagaimana harapan-harapan itu menjadi tangga doa kepada Allah, dan bagaimana kita berani memperjuangkan mimpi.

Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki dan sabar menanti apa yang akan menghampiri. Begitu nasihat orang-orang bijaksana.

Apa yang kita lihat dari kemajuan peradaban manusia baik masa lalu hingga kini tadinya hanyalah sebuah mimpi. Bangunan peninggalan sejarah yang megah dan gedung pembelah langit lahir (bermula) dari sebuah mimpi. Mimpi yang diperjuangkan dengan segenap kemampuan dan mencurahkan seluruh potensi.

Tidak pasti kita akan meraih semua mimpi, tapi setidaknya kita sudah berani bermimpi. Kalaupun tidak hari ini, mungkin di masa yang akan datang mimpi kita menjadi kenyatan. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk bermimpi.

 

 

 

 

Senin, 11 Oktober 2021

TAK ADA YANG SEMPURNA



Tak akan ada yang sempurna di dunia ini. Sempurna dalam arti tidak ada cacat atau kekurangan. Bangunan yang indah dalam pandangan mata pasti memiliki sisi kurangnya. Sistem yang dibuat manusia sebaik apapun, tetap juga memiliki kelemahan. Dan manusia sendiri juga pasti memiliki sisi yang kurang sempurnanya.

Secara fitrah manusia itu memiliki sifat lupa dan salah. Dan ini adalah sisi yang menunjukkan manusia berpotensi sering berbuat salah dan sering lupa. Karenanya tidak ada manusia yang memiliki sifat benar terus-menerus. Sepandai apapun dia, pasti masih bisa berbuat salah.

Di dunia ini kita tidak bisa mencari contoh yang ideal. Ada orang alim yang rajin beribadah, namun sisi sosialnya tidak baik. Sementara ada pula orang kaya yang dermawan sering membantu sesama, namun dia belum bisa beribadah dengan baik. Belum bisa melaksanakan kewajiban syariat dengan sempurna.

Jangan pernah “mimpi” pekerjaan dan ibadah kita bisa diselesaikan dengan sempurna. Karena kita adalah manusia dan kita semua pasti melakukan kesalahan, baik sedikit atau banyak, kecil atau besar, jarang atau sering. Tapi tetap saja lebih baik melakukan sesuatu dengan tidak sempurna daripada tidak melakukan apa pun dengan sempurna.

Ibadah yang kita kerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya memang bisa dikatakan telah sempurna. Tapi apakah itu memiliki nilai yang sempurna, kita tak bisa menjaminnya. Karena ada sisi-sisi yang tak terlihat yang bisa merusak nilai ibadah kita. Faktanya, bagaimana ibadah bisa memiliki arti sempurna bila niatnya tidak ikhlas.

 

 

 

Minggu, 10 Oktober 2021

MENGEMBANGKAN POTENSI SISWA



Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Bila kita analisa dengan saksama, tujun pendidikan nasional mencakup sisi lahiriah dan batiniah. Aspek yang tampak dan yang tidak tampak dari seorang peserta didik. Namun sering tujuan mulia tersebut ruang lingkupnya dipersempit. Seperti banyak yang memiliki pandangan tujuan pendidikan itu sebatas mencapai kepandaian di bidang mata pelajaran. Atau lebih mengerucut lagi pandai sains dan matematika.

Jadi anak yang sukses pendidikannya itu bila nilai matematikanya tinggi. Nilai IPA (Biologi dan Fisika) juga tinggi. Sering juara olimpiade Matematika. Itu pendapat sebagian masyarakat kita. Dan mayoritas orang tua memang menginginkan anaknya jago di bidang pelajaran eksak.

Kecenderungan yang keliru tadi menjadikan pola pendidikan kita salah langkah. Misalnya, orang tua akan berusaha memberi pelajaran tambahan pada anaknya dengan mengikutkan les privat bila nilai matematikanya rendah. Dan justru mengabaikan nilai anaknya di bidang seni dan sastra yang tinggi. Bukankah ini kesalahan yang besar.

Langkah yang tepat seharusnya memberi tambahan jam belajar bagi anak yang memiliki potensi dan ketertarikan di bidang tertentu. Bila anak suka seni semestinya didukung dengan memfasilitasi anak. Biarkan setiap anak berkembang sesuai bakat yang dimilikinya. Ilustrasinya, memaksa anak pandai matematika padahal ia ahli di bidang seni atau satra sama halnya memaksa itik belajar meanjat pohon.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...