Jumat, 17 Desember 2021

JANGAN LELAH, TERUS MENULIS



Apa yang diungkapkan dengan tulisan sebenarnya tidak bisa menggambarkan dengan utuh apa yang dirsakan oleh penulisnya. Isi hati itu lebih luas dari kata-kata yang bisa terucap atau tertulis.

Menulis hanyalah belajar menangkap peristiwa kehidupan dengan penghayatan yang menyeluruh yang melibatkan rasa yang dilakukan oleh seorang penulis. Sangat sering seorang penulis tidak mampu mengungkap apa yang dia rasakan dengan kata yang dipilihnya.

Satu perisriwa kadang tidak bisa digambarkan dengan puluhan halaman yang disusun. Atau sebuh perumpamaan satu gambar, kadang membutuhkan puluhan kalimat untuk menjelaskannya.

Penulis akan selalu menyusun kata dan mengungkap makna. Karena tak akan pernah cukup semua yang telah diceritakannya. Satu peristiwa akan menjadi puluhan narasi. Satu pengalaman akan menjelma puluhan prosa.

Pena akan selalu menari dan berselancar. Tidak ada kata lelah bagi penulis. Selama gagasan masih hidup selama itu pula akan lahir sebuah karya.

 

Kamis, 16 Desember 2021

WARISAN ABADI



Harta berlimpah yang dimiliki tak akan menjadikan manusia abadi, dan semua pasti tahu itu. Sedangkan kehidupan di dunia pasti ada akhirnya, namun tak banyak yang mempersiapkan dengan sungguh-sungguh meski mereka sangat meyakini semua itu. 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Kelak bila kita telah tiada tak akan ada yang peduli dengan harta warisan yang ditinggalkan. Karena harta warisan hanya menjadi urusan ahli waris.

Seorang manusia diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya saja. Orang tidak tertarik membahas berapa banyak harta yang dia miliki. Pada akhirnya budi pekerti, akhlak yang akan dikenang abadi. Kebesaran nama akan diukur dari jasanya pada kehidupan, bukan dari prestasi diri yang menjadi kebanggaan.

Tidak semua akan dikenang dan dirindukan banyak orang. Menjadi pribadi yang baik dan berakhlak baik adalah keinginan setiap orang, pribadi yang baik adalah pribadi yang membawa pengaruh kebaikan bagi keluarga, saudara, sahabat, dan orang di sekitarnya. Kehadirannya membawa berkah bagi sekelilingnya.

Dan hidup ini hanyalah sejarah singkat. Saat ini kita sedang membuat story, bisa seusatu yang baik atau sebaliknya hal yang buruk. Jika semasa hidup kita tak melakukan hal yang seharusnya kita lakukan hal yang bermanfaat yang akan membawa kita pada masa depan kita maka hidup ini tidak akan bermaka tanpa adanya keinginan dari diri sendiri untuk membuatnya lebih bermakna.

 

 


Rabu, 15 Desember 2021

STRATEGI “PARKIR BUS” GARUDA MUDA



Laga penyisihan Piala AFF antara Indonesia melawan Vietnam yang baru saja berakhir dengan skor 0-0 cukup memuaskan bagi timnas Indonesia. Namun sebaliknya bagi Vietnam tentu hasil ini sangat mengecewakan. Bagaimana tidak, sepanjang pertandingan Vietnam mengurung kita dengan penguasaan bola 70% lebih, namun gagal membuat skor berubah.

Di laga Timnas Indonesia vs Vietnam, skuad asuhan Park Hang-seo tercatat membuat 21 tembakan. Hebatnya dari 21 tembakan itu, hanya satu di antaranya yang mengarah tepat ke gawang Timnas Indonesia yang dikawal Nadeo Argawinata. Hal ini menunjukan Shin Tae-yong pelatih timnas kita cerdas dalam membentuk benteng kukuh di depan Nadeo.

Dalam laga tersebut, Shin Tae-yong mengandalkan pola 5-4-1. Dalam pola ini, ada tiga bek tengah yang turun yakni Rizky Ridho, Alfeandra Dewangga dan Fachrudin Aryanto. Jelas dari formasi yang dipilih, timnas kita memang sudah niat sejak awal untuk memilih bermain dengan cara bertahan dan melakukan serangan balik bila ada peluang.

Tidak ada salahnya dengan strategi bertahan, namun bagi penggemar sepak bola cara ini memang sangat tidak menarik. Sepak bola menjadi kurang enak ditonton. Ketika mendapat serangan hampir seluruh pemain mundur untuk bertahan. Dalam istilah pengamat bola sering disindir dengan gaya “Parkir Bus”.

Sepak bola pragmatis memang lebih mementingkan hasil akhir daripada permainan. Tak peduli apakah permainan bisa menghibur penonton atau tidak, yang terpenting strategi meraih poin bisa didapat. Sebenarnya strategi yang dipilih pelatih timnas kita sangat realistis.

Bila kita memaksakan bermain menyerang, kemungkinan yang terjadi adalah seperti yang dialami tim nasional Malasyia. Mereka babak-belur dibantai Vietnam dengan skor 3-0. Jadi, selamat untuk hasil seri yanbg diraih. Karena sebenarnya hasil seri ini seakan menjadi kemenangan strategi dan kepintaran membaca kekuatan lawan.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...