Minggu, 16 Januari 2022

HARUS BERANI BERUBAH



Dunia ini berputar terus. Waktu akan berganti dengan silih berganti sampai kelak kehidupan dunia ini berakhir. Berjalannya waktu akan selalu membawa perubahan dari masa ke masa. Tata cara kita bekerja dan jenis pekerjaan pasti berubah. Mode pakaian atau makanan juga mengalami perubahan. Dan semua yang menjadi tradisi masyarakat tak mungkin statis begitu-begitu saja, pastinya juga perlahan akan berubah.

Bertahan dari semua perubahan adalah sebuah kemustahilan. Karena secara pribadi maupun kelompok kita tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi komunikasi. Dunia kita hanya satu, dan tidak mungkin kita membuat sekat dari perubahan. Apa yang terjadi di belahan dunia sana, pasti akan berdampak pula sampai di tempat tinggal kita. Ya, karena kita bisa menyaksikan semua perubahan itu.

Bumi yang kita tempati ini milik bersama. Kita berbagi dengan miliaran orang yang memiliki adat dan cara hidup yang berbeda. Dan kita tidak bisa mencegah atau membatasi hal baru yang masuk ke tempat kita berpijak. Dan era digital semakin menjadikan bumi kita terasa kecil, semua serba cepat berubah. Apa yang terjadi di mana pun tempatnya dengan mudah akan memberi efek secara global.

Apa yang harus berubah biarlah berubah. Kita juga akan mengikuti tatanan baru selama hal yang esensial tidak kita rubah. Selama itu hanya urusan selera makan, selera berpakaian maupun urusan budaya dalam masyarakat tidak masalah berubah. Tapi urusan yang hakiki menyangkut keimanan dan syariat yang telah baku pantang untuk bergeser walau sejengkal.

Yang tidak kalah penting dari makna perubahan adalah perubahan dalam diri kita sendiri. Kita harus membuka diri dari perubahan selama itu positif dan menjadikan diri lebih baik dari pribadi sebelumnya. Sangat beruntung bila kita sudah mampu berbenah dan melakukan hal kecil yang baik kemudian dilakukan terus menerus. Karena itu bisa menutup kebiasaan buruk yang selama ini sulit dihilangkan.

 

 

Sabtu, 15 Januari 2022

FENOMENA “FLEXING” DI MEDSOS

 



Media sosial akhir-akhir ini seolah menjadi panggung untuk pamer harta. Muncul banyak anak-anak muda yang mengklaim sebagai orang kaya baru. Bahkan mereka tidak segan menyebut dirinya sebagai “sultan” atau “crazy rich”.

Untuk meyakinkan banyak orang (netizen) para “sultan baru” tadi tampil dengan gaya super mewahnya. Memkai pakaian yang serba mahal, asesoris bermerek terkenal dari luar negeri hingga memakai mobil sport yang pasti mahal harganya seperti Lamborgini, Ferrari dan Rolls Royce. Yang membuat kita heran, saldo rekening bank yang nominalnya 12 digit juga merek pamerkan.

Begitu bangganya mereka diakui sebagai orang yang sukses yang kaya raya. Rasa malu seakan tidak ada lagi. Padahal budaya luhur dan ajaran agama kita mengajarkan untuk rendah hati dan tidak sombong dengan apa yang dimiliki. Kita semua menyadari apa yang menjadi milik kita hari ini hanya sekadar titipan yang sewaktu-waktu pasti akan diambil oleh pemilik yang sebenarnya.

Umumnya mereka yang kaya mendadak adalah kalangan selebritis yang terjun di platform Youtube. Dengan modal ketenaran mereka tanpa kesulitan mendulang penonton dan subcriber di akun Youtube yang dikelola. Jadi meski konten yang “dijual” kurang bermutu tetap saja mereka mendapat penghasilan yang berlimpah.

Dunia digital merubah dengan cepat banyak hal dalam kehidupan masyarakat kita. Kalau zaman dahulu untuk menjadi kaya harus melalui kerja keras dan proses panjang, sekarang banyak orang bisa menjadi kaya dengan cara yang instan. Tidak perlu memiliki aset yang besar seperti pabrik dan perkebunan untuk menjadi kaya, karena dengan modal populer juga bisa menjadi kaya raya. Mungkin ini yang menjadikan orang pamer (flexing) kekayaan, karena secara mental mereka belum siap menjadi kaya.

 

 

 

Jumat, 14 Januari 2022

GARIS NASIB



Hidup ini penuh rahasia yang tidak bisa dicerna dengan kemampuan akal kita yang terbatas. Misalnya, bila ada yang mengatakan kunci meraih kemakmuran (kekayaan) adalah dengan kerja keras, mungkin memang benar tapi bukan kebenaran yang mutlak. Nyatanya ada banyak yang bekerja keras seumur hidupnya tapi tidak juga menjadi kaya.

Bila ada yang berkata belajar yang giat adalah jalan meraih kepandaian, itu juga benar tapi tidak menjadi jaminan orang giat belajar pasti pandai. Nyatanya banyak yang telah berusaha dengan sekuat tenaga belajar tetap saja ia tidak bisa pandai.

Ada kuasa Allah yang mengatur dan menentukan hasil apa yang kita usahakan. Kita hanyalah hamba lemah yang tidak bisa memilih kaya dan menghindari miskin dan memastikan menjadi pandai serta menolak kebodohan. Karena kita terlahir ke dunia juga tidak bisa memilih, tapi sudah dipilihkan jalan dan tinggal menjalaninya.

Allah telah menentukan dan mengatur segalanya. Bukankah Allah memberi kelebihan dan kekurangan. Ada yang dikaruniai kemampuan kecerdasan akal, sementara yang lain tidak. Ada yang diberi kekuatan fisiknya, sementara ada pula yang terlahir dengan keterbatasan tubuhnya, tidak sempurna seperti lainnya. Dan ilmu kita tidak bisa menjangkau keadilan Allah terhadap hamba-Nya yang seperti itu.

Memang berusaha dan berjuang dalam hidup ini adalah kewajiban. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa ada “garis nasib” yang telah ditulis Allah sejak zaman azali. Bila kita menyadari semua ini, kita tidak akan pernah terlalu bangga dan lupa diri bila meraih kesuksesan dalam hidup. Tidak pula putus harapan bila banyak ujian yang harus dihadapi dalam hidup di dunia ini.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...