Rabu, 19 Januari 2022

SAHABAT TERBAIK #2

 


 

Cerita tentang teman kami yang "gila" buku. Ia selalu memburu buku setiap ada kesempatan. Dan tak tanggung-tanggung dia bisa membeli sampai lima judul ketika belanja di toko buku. Kecintaannya terhadap buku begitu luar biasa. Katanya buku dapat memperkaya batin. Yang selalu menarik perhatiannya lagi-lagi buku. Bukan baju mode terbaru atau ragam kuliner yang menggugah selera. Semua kalah dengan buku baru yang diincarnya.

Semangat membaca teman kami yang satu ini memang layak diapresiasi. Di saat banyak yang tidak tertarik membaca, dia tetap tekun melakukannya. Tatkala banyak yang melupakan buku, dia tetap saja akrab dan setia dengan koleksi buku-bukunya. Di zaman dunia gaduh dengan media sosial, ternyata tak merubah kecintaannya dengan buku.

Sebenarnya saya juga menyukai buku meski belum bisa menjadi pembaca yang baik. Tidak seperti pembaca tangguh lainnya, saya tidak mampu bertahan lama ketika membaca buku. Baru mendapat beberapa halaman rasanya mata sudah berat. Rasa kantuk mendadak datang dan konsentrasi membaca menjadi menurun. Walaupun bukan pembaca yang baik, setidaknya saya masih suka aktivitas membaca.

Tidak punya waktu adalah alasan yang klasik yang umum disampaikan mengapa tidak membaca buku. Padahal banyak orang penting yang memiliki jadwal padat tapi mereka masih sempat membaca buku. Dan umumnya mereka mengalokasikan waktu khusus untuk membaca, bukan sekadar menunggu bila ada waktu luang. Tidak main-main mereka bisa membaca buku sampai dua jam dalam sehari.

Tidak berhenti hanya membaca, tapi mereka juga sudah terbiasa menulis. Khazanah ilmu yang luas dan dalam tersalurkan dengan selalu menulis setiap harinya. Sungguh “ritme” hidup yang indah, membaca kemudian menulis. Tidak seperti kita yang masih "begini-begini saja”. Kadang-kadang membaca dan menulis. Ya, masih angin-anginan karena di kesempatan berikutnya sering malas dan berat melakukan keduanya.

Selasa, 18 Januari 2022

SAHABAT TERBAIK #1



Salah satu “kekayaan” dalam hidup ini adalah memiliki sahabat yang baik. Hidup ini penuh warna ketika kita memiliki sahabat-sahabat yang selalu memahani kita. Menukil sebuah quote, “Dalam persahabatan tidak perlu saling mengerti. Karena sahabat yang baik akan menerimamu bahkan hingga hal-hal yang tak dapat dimengerti sekalipun.

Kadang sahabat tidak selalu ada bersama kita. Dia jauh tapi selalu ada di saat-saat diperlukan. Sahabat yang baik tidak segan memberi nasihat atau bahkan menegur bila kita salah. Karena semua yang dilakukannya semata demi kebaikan.

Ada pula sahabat yang selalu setia di samping kita. Dia akan ikut ke manapun kita pergi, tak pernah sekalipun dia menolak. Dialah buku sahabat sejati kita. Buku adalah teman yang berharga. Namun katanya, sulit untuk menjelaskan hal itu kepada yang tak suka membaca.

Buku adalah lambang peradaban yang maju. Kita lihat saja, orang-orang “besar” yang memiliki keilmuan tinggi pasti banyak memiliki koleksi buku dan rajin membacanya. Buku sebenarnya tidak dibuat untuk hiasan. Tapi, tidak ada barang lain yang melengkapi perabot rumah yang begitu indah selain buku.

Sekali lagi saya mengutip sebuah nasihat, “Berpikirlah sebelum kamu berbicara. Bacalah sebelum kamu berpikir”. Maknanya, membaca sangat penting bagi mereka yang berusaha melampaui kebiasaan. Dan, membaca hanya mungkin dilakukan bagi mereka yang selalu dekat dengan buku.

 

 

Senin, 17 Januari 2022

GHOZALI, OH GHOZALI…



Seorang pemuda sedang viral menjadi bahan pembicaraan seantero negeri. Dialah Ghazali (22 tahun) alias Ghozali Everyday. Ia menarik perhatian di sosial media karena keberhasilannya menjual ratusan foto selfie dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT). Melalui platform jual beli NFT yaitu Open Sea. Ghozali berhasil meraup untung hingga puluhan juta rupiah dari hasil penjualan foto selfienya dari awalnya hanya puluhan ribu rupiah hingga saat ini senilai miliaran rupiah.

Mengutip dari portal berita online, foto selfie Ghozali dibandrol dengan harga Rp 45 ribu kini laku di angka Rp 14 Juta per foto. Seiring bertambahnya peminat harga foto selfie pun terus meroket. Dari sekian banyak foto selfienya (900 lebih) semua terjual dengan pendapatan hampir 2 miliar.

Bila sebuah karya bernilai seni tinggi seperti lukisan karya Leonardo da Vinci atau Pablo Picaso laku miliaran rupiah dalam sebuah lelang, kita tidak heran. Tapi ini hanya foto selfie dari orang biasa. Dia bukan tokoh besar atau artis terkenal dunia, wajahnya juga biasa-biasa saja seperti umumnya orang. Tapi mengapa bisa terjual dengan harga miliaran rupiah.

NFT memang sudah eksis dengan berbagai karya seni yang unik dan mempunyai nilai. Namun memang pasarnya masih sangat terbatas. Menurut pakar digital, foto selfie Ghozali sepertinya sengaja diborong untuk mendongkrak harga hingga viral dan timbul minat pada industri tersebut. Sehingga, masyarakat cenderung melihat industri NFT ini sebagai fenomena yang baru.

Efek dari foto Ghozali yang dijual dengan angka yang fantastis akan membuat minimal pencarian apa itu NFT akan meningkat. Orang akan jadi lebih mengenal NFT. NFT memiliki beberapa keungulan, salah satunya terkait tingkat keasliannya. Konsep NFT memungkinkan pembeli memiliki barang asli tanpa ada yang bisa menirunya. Tidak hanya itu, NFT juga menyertakan bukti kepemilikan dalam bentuk sertifikasi.

Fenomena Ghozali sebenarnya hampir sama dengan fenomena uang Cripto. Cryptocurrency atau uang kripto adalah mata uang yang tengah populer dalam beberapa tahun terakhir. Di dunia, ada banyak jenis uang kripto yang beredar salah satunya Bitcoin. Nilai uang Cripto dalam 10 tahun nilainya bisa meningkat menjadi puluhan ribu kali lipat. Ini menjadikan pemilik Cripto menjadi kaya mendadak, sama seperti Ghazali….

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...