Merupakan sebuah kehormatan
bisa ambil bagian dari undangan menulis antologi dalam rangka apresiasi
pengukuhan guru besar Prof.Dr.Ngainun Naim dalam bidang ilmu filsafat Islam.
Terasa bangga karena bisa bergabung dalam penulisan buku yang bertopik Ngainun
Naim dan Dunia Intelektual. Anggap saja ini kesempatan untuk numpang nama
dan "Ngalap berkah".
Sebenarnya saya mengenal
Prof.Naim relatif belum lama, baru sekitar dua tahunan. Meski sebenarnya kami
sama-sama pernah sekolah di MTsN Tunggangri Kalidawir, tapi kami belum saling
mengenal karena tahun masuk dan keluar berbeda.
Lebih tepatnya saya tiga tingkat di bawah beliau. Secara usia sebenarnya
saya tidak terpaut jauh dengan beliau tapi
dari segi intelektual, tentu terlalu jauh untuk dibandingkan. Dan, gelar
Profesor yang kini disandang, sepertinya hanya "dejure" saja. Karena faktanya
sudah lama beliau dipanggil Prof (Profesor). Dalam komunitas grup menulis kami
juga sudah terbiasa memanggil beliau seperti
itu.
Berawal dari kegiatan
Bimtek Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah di awal Maret 2020, kami mengenal
beliau. Pertemuan yang membawa kesan mendalam dan merubah pandangan saya
tentang menulis. Menggugah kesadaran dalam diri bahwa menulis itu penting. Dari
apa yang beliau sampaikan waktu itu, saya bisa menyimpulkan bahwa menulis itu
mudah dan menyenangkan. Dimulai dari kegiatan Bimtek selanjutnya saya bergabung
dalam komunitas menulis yang beliau bina hingga saat ini.
Secara pribadi saya
benar-benar merasakan bimbingan beliau memberi pengaruh yang signifikan dalam
peningkatan kemampuan menulis. Saran Prof.Naim untuk “nge-blog” dan menulis
setiap hari sangat efektif. Dan saat ini terbukti banyak anggota grup yang
sudah mampu menerbitkan buku mandiri. Tidak salah beliau mendapat gelar dosen "GoBlog"
dari Rektor UIN SATU Tulungagung, maksudnya dosen yang aktif menulis dan
menyebarkan gagasan di blog. Kebiasaan yang kini telah banyak menjangkiti para pecinta
literasi.
Seperti yang kami alami
bersama di grup WhatsApp "Ma’arif Menulis", baru saya sadari selama
ini kami selalu dilatih dengan pola yang penuh respek. Proses belajar menulis yang gampang-gampang sulit memang
membutuhkan kesabaran. Dan kami
beruntung memiliki pembimbing (Prof. Naim) yang begitu sabar. Beliau
selalu merespon positif setiap ada yang mengunggah tulisan. Alih-alih
mengkritik, tapi justru memberi semangat dengan komentar; Mantap, Jos,
Bermanfaat dan kata-kata serupa yang membesarkan hati. Meski sebenarnya
yang menulis juga tahu karyanya belum bagus.
Seorang mentor yang tidak
pernah menjatuhkan semangat. Potensi yang ada tidak dimatikan namun justru
dimotivasi dan dikembangkan. Bayangkan seandainya beliau berkomentar, "Ini
kurang bagus, tidak ilmiah dan kurang bermutu". Hasilnya, pasti tidak
akan ada lagi yang berani menulis. Pendidik terbaik memang bukan dia yang
banyak bicaranya, tapi dia yang memberi teladan yang nyata.
Menengok modal pengetahuan
menulis kami yang pas-pasan dengan sedikit nekat dan keberanian, pasti beliau
tak akan tega mengkritik. Berani menulis saja itu sudah luar biasa. Karena di baliknya
pasti ada usaha yang sungguh-sungguh. Inilah yang selalu dihargai mentor kita.
Adapun isi tulisan wajar saja masih kacau, karena semua akan tertata seiring
jam menulis yang panjang.
Citra Prof.Naim sebagai
tokoh pegiat literasi begitu kuat. Sosoknya selalu mengingatkan kita untuk
selalu membaca dan menulis. Seperti tidak pernah lelah beliau memotivasi orang
untuk terus menulis. Proses menulis menurut beliau harus sejalan dengan
kebiasaan membaca yang baik. Tidak mungkin menjadi penulis yang baik bila tidak
memiliki tradisi membaca yang baik pula.
Kita sering mengeluh tidak punya waktu. Ini adalah alasan yang klasik yang umum
disampaikan mengapa tidak membaca buku. Padahal
banyak orang penting seperti Prof.Naim yang memiliki jadwal padat tapi
mereka masih sempat membaca buku. Dan umumnya mereka mengalokasikan waktu
khusus untuk membaca, bukan sekadar menunggu bila ada waktu luang. Tidak
main-main mereka bisa membaca buku sampai dua jam dalam sehari.
Beliau memang sosok teladan
dunia literasi. Dedikasi dan karya-karya beliau menjadi bukti yang sahih. Tidak
berhenti hanya membaca, tapi Prof.Naim juga penulis yang produktif. Khazanah
ilmu yang luas dan dalam tersalurkan dengan selalu menulis setiap harinya.
Sungguh "ritme" hidup yang indah, membaca kemudian menulis. Tidak
seperti kita yang masih "begini-begini saja", Kadang-kadang membaca
dan menulis. Ya, masih angin-anginan karena di kesempatan berikutnya sering
malas dan berat melakukan keduanya.
Tidak diragukan lagi kiprah
Prof.Ngainun Naim dalam dunia intelektual sangat besar dan memberi pengaruh
yang luas. Totalitas beliau dalam mengembangkan kemajuan di bidang literasi
tidak terbatas di lingkungan kampus, namun juga menjangkau ke berbagai kalangan
dalam masyarakat. Dalam pandangan saya, beliau adalah sosok Guru Besar yang
bersahaja. Karena sebagai cendekiawan beliau tidak hanya berperan sebagai ''Pemikir'' semata, namun tidak segan turun tangan
menjadi organisator yang efektif dalam
membina dan membersamai berbagai pihak demi mencapai kemajuan yang dicitakan bersama.