Senin, 14 Februari 2022

SAATNYA BANGKIT



Sakit adalah kondisi umum yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Tubuh yang sakit memang hanya akrab dengan tempat tidur dan selimut. Hilang sudah segala kesenangan ketika waktu sehat. Dan yang pasti banyak kegiatan penting yang sudah direncanakan harus rela ditinggalkan.

Tidak mudah untuk memulai rutinitas kembali setelah istirahat yang lumayan panjang. Selama hampir satu minggu ini menjadi kaum “rebahan”, kini saatnya harus bangkit dan memulai kembali. Ketika sakit mulai pergi dari badan, saatnya melawan malas yang masih menempel erat dalam angan-angan.

Aktivitas menulis menjadi bagian dari rutinitas yang harus segera dimulai kembali. Sudah puluhan artikel diunggah teman-teman di grup, sementara saya hanya bisa menyaksikan semua itu. Menulis menjadi sarana hiburan dan menumbuhkan semangat diri yang rapuh karena fisik yang sakit.

Badan memang belum pulih seperti semula, tapi semangat harus segera bangkit. Karena hanya dengan semangat kita mampu melakukan banyak hal penting dalam hidup ini. Yang pasti tidak perlu mengeluh tentang semua keadaan hari ini, menyibukkan diri dengan pekerjaan yang baru rasanya lebih menyenangkan.

Sakit yang diderita sebenarnya menjadikan kita banyak waktu untuk merenung. Ada ketajaman dan kedalaman berpikir. Sakit harusnya menjadi jalan seseorang menemukan pencerahan diri yang baru. Di saat ia mulai pulih dari sakitnya, di saat itu pula dia harusnya menemukan jati diri yang baru.

 

 

 

Minggu, 13 Februari 2022

WASPADA BUDAYA YANG MERUSAK GENERASI MUDA



Hari ini tanggal 13 Februari, sehari menjelang sebuah perayaan yang ditunggu anak-anak muda di berbagai negara. Ya, perayaan Valentin day. Perayaan yang sebenarnya sebuah tradisi yang rentan menimbulkan ancaman rusaknya generasi muda Islam.

Kiranya tidak berlebihan bila saya menganggap perayaan Valentin bisa merusak generasi muda. Di balik pesta Valentin sebenarnya adalah pergaulan bebas aanak muda. Valentin menjadi momen melakukan tindakan yang di luar batas.

Kenyataannya yang terjadi di dunia barat memang demikian itu. Muda mudi tidak lagi membatasi diri dalam pergaulan. Hidup serumah dengan tanpa ada ikatan perkawinan menjadi suatu hal yang wajar terjadi. Yang penting dilakukan tanpa adanya paksaan, suka sama suka.

Dan kini budaya permisif, serba boleh yang penting tidak merugikan orang lain. Mulai dikampanyekan ke seluruh dunia, termasuk negeri kita. Anak-anak muda seakan mulai terbiasa dengan adat yang sebenarnya jauh dari jati diri bangsa kita. Sudahlah, tidak perlu menimbang dengan hukum agama, dari sudut pandang buaya leluhur kita saja perayaan valentin itu sudah tidak sesuai.

Suarakan perlawanan terhadap segala budaya yang merusak generasi kita. Jika moral generasi muda kita telah rusak, apa yang dapat kita harapkan lagi ke depannya?.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...