Sabtu, 19 Februari 2022

LUPA UNTUK MEMULAI



Seakan saya bingung harus memulai menulis lagi. Dulu sebelum aktivitas menulis lama terhenti, menulis menjadi kegiatan yang rutin dilakukan. Tapi ketika harus jeda menulis dalam tempo yang lama, kini seperti lupa untuk memulainya lagi.

Ketika fisik dalam kondisi yang kurang baik, kecerdasan berpikir juga mengalami penurunan. Tak ada ide yang mengalir, tak ada gagasan yang lahir, karena semua seakan berhenti. Lemah badan lemah pikiran. Tentu saja ini hal yang lumrah.

Semangat yang tadinya hilang, kini mulai tumbuh kembali. Tiba waktunya meretas lagi jalan panjang penulis. Ya, penulis tidak kenal berhenti. Tak ada yang boleh menghentikan seorang penulis berkarya. Karena ketika satu karya telah rampung, karya selanjutnya harus segera dirancang.

Tidak masalah bila kemarin harus berhenti, karena kita memang memiliki keterbatasan kemampuan. Tak ada orang yang mampu melawan sakit. Di saat sakit, semua pasti akan berhenti. Banyak hal penting yang sedianya harus dikerjakan, pasti akan ditinggalkan juga.

Memulai hanya membutuhkan satu tindakan. Memulai tidak harus dengan sebuah gebrakan besar. Karena yang dibutuhkan adalah konsistensi. Seorang pengelana yang menempuh ribuan kilometer hanya memulai petualangan dengan selangkah kaki. Selangkah tapi terus diiringi dengan langkah berikutnya.

 

 

 

Jumat, 18 Februari 2022

UNGGAH UNGGUH, TRADISI MULIA ORANG JAWA


Unggah ungguh adalah tata krama yang melekat pada diri orang Jawa. Kata unggah dalam kamus bahasa Jawa disama-artikan dengan kata munggah yang artinya naik, mendaki. Maka kecenderungan orang Jawa dalam menghormati orang lain didasarkan pada tingkat kedudukan atau derajat yang lebih tinggi. Sedangkan ungguh dengan tingkat bahasa Jawa ngoko yang artinya berada, bertempat, pantas, cocok sesuai dengan sifat-sifatnya.

Kedua kata tersebut jika digabung menjadi unggah-ungguh artinya sopan santun, basa basi atau tata krama. Ini menunjukkan bahwa orang Jawa dalam bergaul dalam masyarakat selalu memperhatikan aturan sopan santun dan tata krama demi menjaga keselarasan sosial dan tercapainya hidup rukun, aman, damai dan sentausa tanpa ada konflik.

Memang tradisi kuno mayoritas orang Jawa menghormati orang lain selalu melihat atau memperhatikan keadaan, selalu berhati-hati dalam membawa diri. Sikap berhati-hati dan waspada bermaksud agar tingkah lakunya sesuai, pantas dan tidak mengganggu orang lain atau menimbulkan masalah dalam masyarakat.

Unggah ungguh dalam masyarakat Jawa saat ini dirasa sudah mulai memudar. Banyak orang dalam bergaul meninggalkan nilai unggah ungguh. Yang muda tidak lagi menaruh hormat terhadap yang tua, dan generasi tua juga sulit menjadi teladan.

Pengaruh budaya yang begitu deras menghantam masyarakat kita menjadikan nilai luhur warisan leluhur kita diambang kehancuran. Mungkin suatu saat generasi kita akan menganggap budaya para pendahulunya sudah usang dan tidak sesuai zaman. Hingga unggah ungguh tidak akan lagi kita lihat dalam pergaulan sehari-hari.

 


 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...