Selasa, 22 Maret 2022

PENGALAMAN “ANEH” #1



Dalam kehidupan ini sudah pasti kita pernah mengalami peristiwa yang sulit diterima dengan nalar mengapa hal tersebut bisa terjadi. Yang hendak saya ceritakan sebenarnya bukan pengalaman mistis seperti orang yang bertemu dengan makhluk ghaib. Tapi hanya pengalaman dalam pergaulan sehari-hari yang mungkin saja orang lain juga pernah mengalaminya.

Dulu di saat usia masih sekitar 20-an tahun saya memiliki seorang teman. Bisa dikatakan kami teman akrab, karena hampir setiap waktu kami sering melakukan kegiatan bersama. Teman satu organisasi dan juga teman bermain, meski usia dia sedikit lebih tua dari saya kami banyak memiliki kecocokan.

Dari segi kegemaran kami sama-sama penggemar membaca. Koleksi bukunya juga lumayan banyak. Sering saya pergi ke rumahnya untuk sekadar membaca buku-bukunya. Singkat kata persahabatan kami baik-baik saja.

Ternyata semua menjadi berubah. Dari yang dekat menjadi jauh, dan dari yang tadinya akrab menjadi serasa tidak saling mengenal. Bagi saya itu adalah hal yang anaeh mengapa bisa terjadi. Bermula dari suatu acara kami memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tanpa saya menduga, terjadilah peristiwa yang menjadi sebab berubahnya persahabatan kami.

Di depan umum saya dipermalukan oleh teman akrab. Semua terjadi begitu cepat. Dan hingga kini saya masih belum bisa memahami mengapa teman yang saya percaya bisa melakukan itu semua. Mungkin semua bisa kembali baik baik pada saat itu, tapi dia memang tidak berusaha memperbaikinya atau mungkin merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Satu peristiwa yang membuat kami benar-benar menjadi jauh selamanya.

 

Senin, 21 Maret 2022

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan…



Sekitar tiga pekan yang lalu saya bertemu kembali dengan teman lama dari Jember. Setelah hampir dua puluh tahun kami berpisah, akhirnya saya punya kesempatan mengunjungi beliau di kediamannya. Dulu, ketika masih tinggal di Papua tempat tinggal kami berdekatan, hanya beberapa puluh meter saja jaraknya. Meski usia beliau lebih tua dari saya, hubungan kami seperti teman yang sepantar. Jadi bisa dikatakan teman dekat meski beda usia.

Selama tidak bertemu sekian lamanya, kami juga tidak pernah berkomunikasi. Hanya sesekali saya dapat berita tentang beliau dari teman atau keluarga yag masih tinggal di Papua. Dan khabar terakhir yang saya terima, beliau sedang sakit dan harus pulang ke jawa untuk berobat.

Rupanya Allah memudahkan jalan bagi kami untuk bertemu kembali. Karena sebuah keperluan di Jember saya bisa singgah di rumah beliau yang kebetulan tidak jauh dari lokasi acara kami. Dengan bantuan seorang teman, saya bisa bersua kembali dengan sahabat baik yang sudah saya anggap seperti kerabat sendiri.

Sebuah pertemuan yang membuat saya bahagia sekaligus menjadikan hati saya sedih. Bahagia karena bertemu dengan teman dekat setelah berpisah sekian lamanya. Sedih karena melihat kondisinya saat ini. Karena sakit diabetes yang dideritanya, salah satu kakinya harus diamputasi. “Speechless”, saya tidak pernah menduga bertemu dengan teman dalam kondisi seperti itu. Tak tega melihat anak kecilnya masih dalam gendongan ibu. Tak bisa saya bayangkan bagaimana harus menjalani kehidupan dalam keadaan seberat itu.

Astaghfirullah… di saat saya hanya diam tak banyak bicara, nasihat-nasihat justru keluar dari teman kami yang tabah itu. Hidup harus banyak bersyukur, katanya. Nikmat itu baru terasa kalau sudah tidak ada lagi. Orang sering melupakan nikmatnya memiliki badan lengkap yang sehat. Dan ketika sakit, baru banyak yang sadar betapa nikmatnya diberi kesehatan.

Kata beliau lagi, hilang satu kaki tapi masih banyak nikmat Allah yang diberikan. Masih bisa melihat, berbicara dan mendengar. Sungguh luar biasa, ujian yang begitu berat tapi dihadapi dengan hati yang lapang. Pertemuan yang mengingatkan kembali sebuah pertanyaan dalam al-Qur’an,… Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan…(Surat Ar Rahman)

 

 

 

 

Minggu, 20 Maret 2022

SEMANGAT KEBERSAMAAN



Ahad pagi biasanya saya gunakan untuk santai. Tapi kali ini beda. Pagi-pagi saya harus berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan di madrasah. Sebuah kegiatan yang melambangkan kebersamaan dan kerukunan dalama masyarakat yakni kerja bhakti.

Dulu masyarakat desa kami sering menyebut kerja bhakti dengan istilah sambatan. Mungkin maknanya hampir sama dengan pertolongan dengan suka rela. Sudah menjadi tradisi masyarakat di pedesaan selalu membantu tetangga yang memiliki kerepotan meski tidak diminta.

Dalam istilah anak-anak pesantren kerja bhakti disebut “roan”. Sering kita melihat di pondok-pondok pesantren masih membiasakan roan ketika menyelesaikan sebuah pekerjaan yang berat. Falsafahnya, sesuatu yang berat akan menjadi ringan bila dikerjakan secara bersama.

Semua memang pasti berubah seiring perubahan zaman. Kerja bhakti sudah menjadi budaya langka dalam masyarakat perkotaan yang maju. Seakan tak ada lagi waktu untuk memikirkan kepentingan umum, karena untuk menyelesaikan urusan pribadi seakan waktu yang ada masih kurang.

Dalam kerja bhakti ada semangat kebersamaan. Tidak ada lagi bedanya antara orang kaya dengan orang miskin, karena semua bekerja saling bahu membahu. Tidak terlihat lagi antara orang yang memiliki jabatan dengan rakyat biasa, karena semua turun mengerahkan tenaganya dengan senang hati.

Tak terasa, pengecoran atap ruangan (dak) lab komputer madrasah kami telah selesai. Belasan meter kubik material cor yang dibutuhkan selesai hanya dalam waktu empat jam. Tentu bila tanpa kerja bhakti semua tidak akan selesai dalam tempo secepat itu.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...