Minggu, 17 April 2022

PILIH SALAH KATA ATAU SALAH TULIS?



Kata yang terucap tak akan pernah bisa ditarik lagi. Dia bagaikan anak panah yang melesat jauh mencari sasarannya setelah dihempaskan dari busurnya. Namun tulisan yang salah masih bisa dibetulkan kembali. Ada kesempatan kita untuk membaca sebelum menyebarkan tulisan yang kita buat.

Menulis nyatanya lebih “mudah” dari berbicara. Ada waktu yang lebih panjang untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Berbeda dengan berbicara langsung, dibutuhkan kecepatan berpikir dan mengatur gejolak suasana hati. Berbicara langsung sering terpengaruh dengan perasaan seseorang dan lawan bicaranya. Ini berbeda sekali dengan proses menulis.

Menulis lebih “genuine” dari pengaruh-pengaruh eksternal. Menulis akan lebih tertata dibandingkan dengan aktivitas berbicara langsung. Dan seandainya dalam proses menulis ada kesalahan, sangat mudah mencari alasan untuk meralatnya. Bisa saja kita sebut dengan salah ketik, kurang tanda baca ataupun argumen lain yang masuk akal.

Budaya menulis dari sudut pandang ini menunjukkan keunggulannya dibanding dengan budaya bicara. Budaya menulis lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan kebiasaan berbicara. Bila banyak orang sadar akan keuntungan kebiasaan menulis, pasti mereka akan lebih senang membuat catatan daripada sekadar banyak berbicara.

 

Sabtu, 16 April 2022

“Mbah Yai” dan Tangga yang Rapuh



Di usia yang sudah mencapai delapan puluh tahun lebih, beliau tetap enerjik. Pagi-pagi pergi ke sawah hingga menjelang dhuhur, mencari makanan untuk kambing dan segala aktivitas kerja di rumah dapat beliau kerjakan semua. Beliau adalah Kiai kampung kami, Haji Imanudin Toha. Orang dusun kami biasa menyebut tipe seperti beliau ini dengan istilah “gasek’, orang tua yang aktif serta memiliki kesehatan bagus dan tidak memiliki keluhan penyakit.

Sebagai Kiai kampung beliau juga memiliki kesibukan yang berkaitan dengan memimpin kegiatan ibadah dalam masyarakat. Terlebih saat ini bisa dikatakan beliau sesepuh desa yang kehadirannya selalu dinanti. Dari urusan shalat berjamaah sampai doa memberangkatkan jenazah beliau selalu yang diminta memimpin. Secara tipologi masyarakat desa kami memang lebih dekat dengan kaum santri sehingga sudah menjadi tradisi selalu menghormati (takzim) orang tua dan mereka yang alim.

Hubungan saya dengan beliau dari dahulu memang sudah dekat. Sejak kecil saya menjadi murid mengaji beliau. Sudah puluhan tahun urusan beliau hanya seputar "ngopeni" mengaji anak-anak. Dari zaman masih menggunakan lampu petromak, hingga kini memang beliau tetap istikomah. Bedanya bila dulu beliau mengajar anak-anak diniyah, saat ini beliau hanya mengaji tafsir untuk jamaah masjid kampung kami.

Sudah dua minggu lebih Mbah Yai Imanuddin tidak bisa beraktivitas di luar, beliau hanya di rumah saja. Menjelang puasa terjadi sebuah insiden kecil namun mengakibatkan luka yang lumayan serius di tangan kiri beliau. Mbah Yai yang bersahaja itu jatuh dari tangga. Dan hari ini saya berkesempatan mengunjungi beliau yang sedang sakit gegara tangga rapuh.

“Allah itu sepandai-pandainya pembuat rencana”, begitu tutur beliau sambil tersenyum. Seandainya tidak jatuh dari tangga, beliau yakin tidak akan punya banyak waktu istirahat dan muhasabah di bulan Ramadan tahun ini. Mungkin, inilah yang sering dikatakan musibah selalu membawa hikmah. “Saatnya untuk berpikir mencari generasi penerus, karena saya sudah cukup tua, lanjut beliau”. Dalam hati saya sangat setuju gagasan beliau kali ini. Sebenarnya sudah lama saya berpikir tentang itu. Hanya karena “ewuh pakewuh” dengan beliau, saya tidak pernah menyampaikannya.

 

Jumat, 15 April 2022

PUASA, JALAN MENUJU TAQWA


Di saat kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menjumpai bulan Ramadan 1443 Hijriyah, berarti kita masih mendapat nikmat besar dari Allah yang mesti kita syukuri. Bersyukur dengan memenuhi hari-hari di bulan Ramadan dengan ibadah. Mengisi waktu untuk bekal kehidupan akhirat yang abadi. Karena apa yang didapatkan di kehidupan kelak, bergantung bagaimana kita mengisi waktu di dunia.

Ramadan menjadi bulan yang dinanti jutaan umat Islam di dunia. Kehadirannya selalu disambut dengan penuh suka-cita dan harapan mulia. Bagaimana tidak riang gembira menyambut bulan suci Ramadan, amal kebaikan dilipatgandakan, dosa-dosa diampunkan dan segala doa akan dikabulkan oleh Allah.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 183)

Ramadan diibaratkan masa panen. Semua serba berlimpah, pahala, rahmat dan karunia-Nya diberikan pada hamba yang sungguh-sungguh mencari ridha-Nya. Akan tergolong orang yang rugi besar bila kita menjumpai Ramadan tapi tidak mendapat keberkahannya.

Puasa adalah salah satu jalan yang akan mengantarkan seseorang mencapai derajat taqwa. Tapi tentu ibadah puasa yang dilakukan tidak sekadar terbatas hanya urusan menahan makan dan minum serta urusan syahwat antara suami dan istri. Puasa seseorang yang hanya mencegah keinginan perut dan bawah perut tentu masih dikatagorikan puasa lahiriyah, belum menyentuh hakikat puasa yang sesungguhnya.

Shaum sama artinya dengan imsak yang berarti menahan. Inti dari ibadah puasa adalah imsak, menahan atau pengendalian diri. pengendalian diri dalam kehidupan ini memiliki arti yang penting. Terjadinya kekacauan, perselisihan atau bahkan peparangan karena tidak adanya pengendalian diri. Sepanjang hidup kaum muslimin diharuskan untuk selalu “puasa”, terus menahan diri. Menahan diri dari ucapan atau perkataan kotor, ghibah dan fitnah. Bahkan menahan diri dari penyakit-penyakit hati yang tidak tampak dari luar seperti; riya, sum’ah, sombong maupun ujub.

Selama bulan suci Ramadhan kita ditempa untuk menahan diri. Memasuki bulan “pelatihan” jiwa dan raga dengan harapan ketika kita keluar dari bulan Ramadhan, hendaknya mampu melanjutkan menahan diri dari semua yang dilarang syariat agama. Inilah tujuan ibadah puasa. Puasa yang dikerjakan dengan ikhlas dan semata mengharap ridha Allah serta tidak hanya menahan dari lapar dan dahaga semata, namun menahan telinga, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Puasa demikian ini yang akan apa yang berdampak besar bagi seseorang dan membawa pengaruh secara sosial.

Terciptanya keteraturan dan ketentraman dalam masyarakat salah satunya karena adanya kemampuan menahan diri. Satu saja dari sekian banyak orang yang ada di dalam komunitas tidak memiliki pengendalian diri sudah pasti akan menimbulkan situasi yang tidak aman dan nyaman. Sebaliknya bila setiap individu memiliki pengendalian diri yang baik, maka akan tercipta keadaan yang harmonis.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...