Di saat kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menjumpai
bulan Ramadan 1443 Hijriyah, berarti kita masih mendapat nikmat besar dari
Allah yang mesti kita syukuri. Bersyukur dengan memenuhi hari-hari di bulan
Ramadan dengan ibadah. Mengisi waktu untuk bekal kehidupan akhirat
yang abadi. Karena apa yang didapatkan di kehidupan kelak, bergantung bagaimana
kita mengisi waktu di dunia.
Ramadan
menjadi bulan yang dinanti jutaan umat Islam di dunia. Kehadirannya selalu
disambut dengan penuh suka-cita dan harapan mulia. Bagaimana tidak riang
gembira menyambut bulan suci Ramadan, amal kebaikan dilipatgandakan, dosa-dosa
diampunkan dan segala doa akan dikabulkan oleh Allah.
Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 183)
Ramadan
diibaratkan masa panen. Semua serba berlimpah, pahala, rahmat dan karunia-Nya
diberikan pada hamba yang sungguh-sungguh mencari ridha-Nya. Akan tergolong
orang yang rugi besar bila kita menjumpai Ramadan tapi tidak mendapat
keberkahannya.
Puasa
adalah salah satu jalan yang akan mengantarkan seseorang mencapai derajat
taqwa. Tapi tentu ibadah puasa yang dilakukan tidak sekadar terbatas hanya
urusan menahan makan dan minum serta urusan syahwat antara suami dan istri.
Puasa seseorang yang hanya mencegah keinginan perut dan bawah perut tentu masih
dikatagorikan puasa lahiriyah, belum menyentuh hakikat puasa yang sesungguhnya.
Shaum sama artinya dengan imsak yang
berarti menahan. Inti dari ibadah puasa adalah imsak, menahan atau
pengendalian diri. pengendalian diri dalam kehidupan ini memiliki arti yang
penting. Terjadinya kekacauan, perselisihan atau bahkan peparangan karena tidak
adanya pengendalian diri. Sepanjang hidup kaum muslimin diharuskan untuk selalu
“puasa”, terus menahan diri. Menahan diri dari ucapan atau perkataan kotor,
ghibah dan fitnah. Bahkan menahan diri dari penyakit-penyakit hati yang tidak
tampak dari luar seperti; riya, sum’ah, sombong maupun ujub.
Selama
bulan suci Ramadhan kita ditempa untuk menahan diri. Memasuki bulan “pelatihan”
jiwa dan raga dengan harapan ketika kita keluar dari bulan Ramadhan, hendaknya
mampu melanjutkan menahan diri dari semua yang dilarang syariat agama. Inilah
tujuan ibadah puasa. Puasa yang dikerjakan dengan ikhlas dan semata mengharap
ridha Allah serta tidak hanya menahan dari lapar dan dahaga semata, namun
menahan telinga, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari
perbuatan dosa. Puasa demikian ini yang akan apa yang berdampak besar bagi
seseorang dan membawa pengaruh secara sosial.
Terciptanya
keteraturan dan ketentraman dalam masyarakat salah satunya karena adanya
kemampuan menahan diri. Satu saja dari sekian banyak orang yang ada di dalam
komunitas tidak memiliki pengendalian diri sudah pasti akan menimbulkan situasi
yang tidak aman dan nyaman. Sebaliknya bila setiap individu memiliki
pengendalian diri yang baik, maka akan tercipta keadaan yang harmonis.