Selasa, 19 April 2022

Ragam Puasa Pemain Bola Profesional



Puasa bukan sekadar memindah waktu kebiasaan makan dan minum pada malam hari. Puasa adalah ketaatan seorang hamba. Ketika bulan suci Ramadan tiba, mereka yang beriman akan terpanggil untuk menunaikan ibadah puasa sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada sang Khaliq.

Bagi umat Islam yang aktivitas kerjanya tidak memerlukan energi yang besar, menjalankan ibadah puasa pasti tidak ada masalah, ringan-ringan saja. Berbeda dengan mereka yang dituntut dengan pekerjaan berat yang menguras tenaga, puasa akan terasa berat. Para pemain profesional sepak bola misalnya, mereka harus menjalani jadwal bermain yang padat karena tengah berada di ujung kompetisi.

Karim Benzema, Mumammad Salah, Hakim Ziyech maupun Sadio Mane adalah nama-nama bintang pemain sepak bola muslim yang kini menjadi “tulang punggung” klub masing-masing. Mereka juga dikenal sebagai seorang muslim yang rajin beribadah. Di saat kompetisi sepak bola di eropa hampir menyelesaikan putaran keduanya, tuntutan agar para bintang bermain secara totalitas tentu adalah hal wajar. Tapi di sisi lain sebagai seorang Muslim mereka juga punya kewajiban untuk menjalankan ibadah puasa.

Sebagai pemain Profesional yang beridentitas Muslim, banyak di antara mereka tetap menjalankan rukun Islam yang keempat ini (puasa) meski bersamaan dengan jadwal pertandingan. Dan beberapa klub sepak bola di inggris juga memberi izin pemainnya tetap menjalankan ibadah puasa, sebagai bentuk toleransi dan kebebasan menjalankan ibadah.

Patut menjadi pelajaran bagi kita umat Islam. Suatu kebanggaan, karena para profesional di dunia olah raga masih mampu berpuasa. Mereka yang memiliki rutinitas fisik yang berat ternyata memiliki kemauan yang besar untuk tetap menjalankan ibadah puasa. Sementara masih banyak saudara seiman kita tidak “mampu” menjalankan puasa padahal pekerjaan yang mereka lakukan bukan katagori yang berat. Tentu ini sebuah ironi.

 

Senin, 18 April 2022

Puasa, Olah Raga Terus...



Apakan bulan Ramadan menjadi penghalang bagi kita yang punya kebiasaan berolahraga?. Jawabannya tentu tidak. Puasa tidak menjadi alasan bagi kita untuk berhenti menjalani aktivitas fisik. Dalam mode tertentu justru olah raga menjadi sangat positif dilakukan ketika sedang berpuasa.

Keluhan yang sering disampaikan orang yang tubuhnya kurang ideal adalah sulitnya mengurangi berat badan. Sebenarnya menurut teori kesehatan berat badan berlebih kebanyakan disebabkan oleh dua hal yaitu kelebihan asupan makanan dan kurangnya gerak tubuh atau olah raga.

Puasa Ramadan menjadi waktu sangat tepat bagi orang-orang yang menginginkan tubuh yang sehat. Tentu saja niat puasa tidak dibenarkan bila hanya ingin mencari kesehatan badan. Kesehatan hanyalah salah satu hikmah dari menjalankan ibadah puasa secara benar.

Hampir semua orang mengalami penurunan berat badan ketika menjalankan ibadah puasa. Memang kadar turunnya juga berbeda-beda. Ada yang turun cukup banyak, namun juga tidak sedikit yang hanya mengalami penurunan kecil. Tapi pada intinya semua mengalami penurunan berat badan.

Inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Di saat tubuh mengalami penurunan masanya, secara bersamaan ditunjang dengan aktivitas olah raga yang memadai. Dua hal yang pastinya akan berdampak cukup besar. Jadi, jangan malas untuk berolahraga meski saat berpuasa. Kita bisa memilih olah raga sesuai dengan kemampuan dan kesukaan masing-masing.

 

 

Minggu, 17 April 2022

PILIH SALAH KATA ATAU SALAH TULIS?



Kata yang terucap tak akan pernah bisa ditarik lagi. Dia bagaikan anak panah yang melesat jauh mencari sasarannya setelah dihempaskan dari busurnya. Namun tulisan yang salah masih bisa dibetulkan kembali. Ada kesempatan kita untuk membaca sebelum menyebarkan tulisan yang kita buat.

Menulis nyatanya lebih “mudah” dari berbicara. Ada waktu yang lebih panjang untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Berbeda dengan berbicara langsung, dibutuhkan kecepatan berpikir dan mengatur gejolak suasana hati. Berbicara langsung sering terpengaruh dengan perasaan seseorang dan lawan bicaranya. Ini berbeda sekali dengan proses menulis.

Menulis lebih “genuine” dari pengaruh-pengaruh eksternal. Menulis akan lebih tertata dibandingkan dengan aktivitas berbicara langsung. Dan seandainya dalam proses menulis ada kesalahan, sangat mudah mencari alasan untuk meralatnya. Bisa saja kita sebut dengan salah ketik, kurang tanda baca ataupun argumen lain yang masuk akal.

Budaya menulis dari sudut pandang ini menunjukkan keunggulannya dibanding dengan budaya bicara. Budaya menulis lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan kebiasaan berbicara. Bila banyak orang sadar akan keuntungan kebiasaan menulis, pasti mereka akan lebih senang membuat catatan daripada sekadar banyak berbicara.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...