Rabu, 27 April 2022

Menulis, Sebuah “Perjuangan”



Mengutip tulisan Prof.Naim di blog beliau; “Menulis itu tidak selalu mudah, namun harus diperjuangkan. Sepanjang terus berusaha, sebuah tulisan akan selesai”. Menulis adakalanya mudah memang, tapi tidak kita ingkari menulis terkadang juga tidak bisa dikatakan mudah.

Dalam beberapa hari ini saya tidak bisa mencapai target menulis harian. Bahkan blog hampir satu minggu tidak terisi. Tentu ini adalah “hutang” yang harus saya lunasi di hari-hari berikutnya. Karena sudah ada “kontrak” komitmen terhadap diri sendiri akan selalu menulis setiap hari.

Di akhir Ramadan kegiatan pasti selalu bertumpuk-tumpuk. Ada saja, misalnya tradisi bersih-bersih rumah dan menata ruang tamu untuk menyambut kunjungan kerabat dekat dan kolega, ziarah di makam leluhur hingga mengurusi zakat fitrah di masjid. Kegiatan-kegiatan yang menyita waktu sering menjadikan aktivitas menulis terlupakan.

Biasanya, ketika hendak beristirahat sadar bahwa hari ini belum menulis. Namun karena kondisi sudah begitu lelah, akhirnya “kompromi” dengan diri sendiri dan mengabaikan urusan menulis.

Menulis memang asli memerlukan “perjuangan”. Tak ada yang bisa menulis sambil lalu. Tetap seorang penulis memerlukan usaha dan kesungguhan hati untuk menunaikan “kewajibannya”. Inilah tantangan yang sebenarnya, karena menulis memang hal unik yang tidak banyak digemari oleh orang.

 

Selasa, 26 April 2022

Sakit, Antara Musibah dan Rahmat



Kami tidak pernah menduga sama sekali. Sahabat kami yang dikenal ringan tangan itu sakit hingga dirawat di sebuah Rumah sakit. Bila dilihat dari fisik semua kesannya baik-baik saja. Tahu-tahu mendadak ada keluhan serius yang mengharuskan dia dirawat intensif di RS.

Memang semua bergantung dengan kehendak Allah. Tak ada yang mampu menghindar dari segala rencana dan ketentuan-Nya. Sering kita menyaksikan sakit datang dengan tiba-tiba. Pagi hari masih beraktivitas normal, siang hari sudah berbaring lemah di tempat tidur. Malam masih membuat rencana kegiatan, ternyata pagi harinya tubuh sudah tak punya daya untuk melakukan semua rencana yang dibuatnya,

Sakit memang musibah yang pasti dirasakan oleh semua orang. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Bisa saja sakit menjadikan seseorang harus menghabiskan umurnya di tempat tidur. Namun banyak pula yang sakitnya diangkat oleh Allah, dan diberi kesempatan lagi untuk mengecap nikmatnya badan yang sehat.

Di balik musibah sakit sebenarnya adalah rahmat Allah. Memang hal ini jarang dipahami oleh orang. Ini yang menyebabkan sakit sering menjadikan kita mengeluh dan menggerutu. Sakit menjadi jalan dimudahkannya orang mendapat ampunan. Dosa-dosa yang tidak bisa terhapus oleh amal kebaikan, akan diampuni karena kesabaran seseorang menerima musibah sakit.

Bila sehat harus bersyukur dengan menjalankan perintah-perintah Allah. Bila dalam keadaan sakit hendaknya bisa bersabar. Apalagi yang bisa dilakukan selain itu. Kedudukan kita hanyalah hamba, kita tidak memiliki daya dan upaya.

 

Senin, 25 April 2022

Nikmatnya Puasa



Puasa bukanlah ibadah berat yang membahayakan kesehatan. Justru puasa banyak mengandung manfaat kesehatan badan. Bukan hanya lahiriah semata, bahkan kesehatan batiniah. Makanya tidak bisa diterima alasan orang tidak puasa karena berat, kecuali mereka yang sedang mengalami sakit serius atau sudah tua.

Puasa itu sebenarnya nikmat. Ketika puasa tugas organ pencernaan menjadi lebih ringan. Padahal sebelum puasa organ pencernaan tidak pernah mengalami istirahat. Ini sama dengan pendinginan mesin untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik sekaligus perawatan yang akan menjaga kondisi organ pencernaan tetap bagus.

Bagaimana berpuasa tidak nikmat. Sedangkan orang-orang non muslim juga banyak yang melakukannya. Mereka berpuasa bukan karena panggilan iman, tapi karena sadar tentang pentingnya puasa bagi kesehatan.

Kita sering membeli alat elektronik atau sebuah benda bermesin. Misalkan saja sepeda motor. Pasti ketika kita membelinya, ada buku panduan yang disertakan. Isinya yang pasti berkaitan dengan cara penggunaan, perawatan maupun servis berkala yang harus dilakukan oleh si pemilik.

Sebenarnya sama, kita manusia adalah ciptaan Allah yang mutlak sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya. Ketika kita diperintah, maknanya sudah pasti ini sesuai dengan fitrah kita sebagai ciptaan. Dan hanya kebaikan yang didapat ketika manusia selalu patuh terhadap penciptanya.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...