Kamis, 28 April 2022

Waspada “Cyber crime“



Dulu orang biasa menyimpan uang di bawah tempat tidur. Menabung juga cukup di periuk tanah berbentuk ayam yang biasa disebut "Celengan". Dalam perkembangannya, menyimpan dan menabung uang di rumah ternyata tidak aman. Sering uang yang disimpan di rumah disatroni oleh pencuri.

Lalu hadir sistem perbankan yang menjanjikan keamanan dan kemudahan menyimpan uang. Ditambah lagi dengan janji mendapatkan keuntungan (bunga), maka perlahan beralihlah budaya menyimpan uang di bawah kasur menjadi menabung atau mendepositokan uangnya di bank.

Pada awalnya masyarakat memang merasakan kemudahan dan praktisnya menyimpan uang di bank. Tak perlu khawatir lagi uang yang dimiliki hilang karena ulah maling, karena yang disimpan di rumah cukup buku tabungan. Tapi saat ini menyimpan uang di bank tidak sepenuhnya aman. Buktinya sudah banyak nasabah yang kehilangan uangnya karena ulah oknum jahat cyber crime. 

Cyber crime dilakukan dengan beragam tujuan. Salah satunya adalah kejahatan serius yang bisa merugikan korbannya secara finansial. Salah satu kejahatan siber yang marak terjadi di Indonesia adalah social engineering attack atau rekayasa sosial. Social engineering merupakan teknik manipulasi yang memanfaatkan kesalahan manusia untuk mendapatkan akses informasi pribadi atau data berharga.

Dan salah satu korban penipuan adalah sahabat kami sendiri. Beberapa hari yang lalu karena kecerobohan dan kurangnya kewaspadaan tabungan yang berisi puluhan juta ludes “dibobol” oleh para penipu. Ini merupakan pelajaran agar lebih berhati-hati ketika menerima telpon. Dan yang terpenting jangan sampai memberikan data-data pribadi seperti; NIK, foto KTP, Rekening bank kepada siapapun meskipun mengatasnamakan pihak bank.

 

 

Rabu, 27 April 2022

Menulis, Sebuah “Perjuangan”



Mengutip tulisan Prof.Naim di blog beliau; “Menulis itu tidak selalu mudah, namun harus diperjuangkan. Sepanjang terus berusaha, sebuah tulisan akan selesai”. Menulis adakalanya mudah memang, tapi tidak kita ingkari menulis terkadang juga tidak bisa dikatakan mudah.

Dalam beberapa hari ini saya tidak bisa mencapai target menulis harian. Bahkan blog hampir satu minggu tidak terisi. Tentu ini adalah “hutang” yang harus saya lunasi di hari-hari berikutnya. Karena sudah ada “kontrak” komitmen terhadap diri sendiri akan selalu menulis setiap hari.

Di akhir Ramadan kegiatan pasti selalu bertumpuk-tumpuk. Ada saja, misalnya tradisi bersih-bersih rumah dan menata ruang tamu untuk menyambut kunjungan kerabat dekat dan kolega, ziarah di makam leluhur hingga mengurusi zakat fitrah di masjid. Kegiatan-kegiatan yang menyita waktu sering menjadikan aktivitas menulis terlupakan.

Biasanya, ketika hendak beristirahat sadar bahwa hari ini belum menulis. Namun karena kondisi sudah begitu lelah, akhirnya “kompromi” dengan diri sendiri dan mengabaikan urusan menulis.

Menulis memang asli memerlukan “perjuangan”. Tak ada yang bisa menulis sambil lalu. Tetap seorang penulis memerlukan usaha dan kesungguhan hati untuk menunaikan “kewajibannya”. Inilah tantangan yang sebenarnya, karena menulis memang hal unik yang tidak banyak digemari oleh orang.

 

Selasa, 26 April 2022

Sakit, Antara Musibah dan Rahmat



Kami tidak pernah menduga sama sekali. Sahabat kami yang dikenal ringan tangan itu sakit hingga dirawat di sebuah Rumah sakit. Bila dilihat dari fisik semua kesannya baik-baik saja. Tahu-tahu mendadak ada keluhan serius yang mengharuskan dia dirawat intensif di RS.

Memang semua bergantung dengan kehendak Allah. Tak ada yang mampu menghindar dari segala rencana dan ketentuan-Nya. Sering kita menyaksikan sakit datang dengan tiba-tiba. Pagi hari masih beraktivitas normal, siang hari sudah berbaring lemah di tempat tidur. Malam masih membuat rencana kegiatan, ternyata pagi harinya tubuh sudah tak punya daya untuk melakukan semua rencana yang dibuatnya,

Sakit memang musibah yang pasti dirasakan oleh semua orang. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Bisa saja sakit menjadikan seseorang harus menghabiskan umurnya di tempat tidur. Namun banyak pula yang sakitnya diangkat oleh Allah, dan diberi kesempatan lagi untuk mengecap nikmatnya badan yang sehat.

Di balik musibah sakit sebenarnya adalah rahmat Allah. Memang hal ini jarang dipahami oleh orang. Ini yang menyebabkan sakit sering menjadikan kita mengeluh dan menggerutu. Sakit menjadi jalan dimudahkannya orang mendapat ampunan. Dosa-dosa yang tidak bisa terhapus oleh amal kebaikan, akan diampuni karena kesabaran seseorang menerima musibah sakit.

Bila sehat harus bersyukur dengan menjalankan perintah-perintah Allah. Bila dalam keadaan sakit hendaknya bisa bersabar. Apalagi yang bisa dilakukan selain itu. Kedudukan kita hanyalah hamba, kita tidak memiliki daya dan upaya.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...