Rabu, 11 Mei 2022

HARTA WARIS SEORANG PENULIS



Ali bin Abi Thalib konon pernah berkata; "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". Sebuah ungkapan yang luar biasa. Dengan menulis orang menjadi tetap hidup hidup meski jasad telah terkubur dalam perut bumi. Menulis menjadikan usia kita “panjang” dan akan tetap diingat.

Berapapun banyaknya materi yang ditinggalkan, akan tetap habis dibagi-bagi oleh ahli warisnya. Tetapi gagasan, ilmu dan pengetahuan akan menjadi harta warisan yang abadi yang tidak pernah habis, bahkan akan terus berkembang.

Bila menulis bisa membahagiakan, lalu mengapa kita tidak kita kerjakan. Menunggu apa lagi kita untuk menggerakkan pena dan mengukir kata. Di saat pikiran masih jernih dan ide masih segar. Tentu tidak perlu kita menunggu tubuh renta dimakan usia.

Menulis apa saja tidak perlu risau dengan tema dan bahan yang akan menjadi obyek tulisan kita. Waktu akan menjawab nanti, bahwa yang kita tulis pasti akan ada manfaatnya. Memang, hari ini seakan kita tidak menemukan sisi manfaat tulisan kita.

Tinggalkan sebanyak-banyaknya jejak ilmu dan gagasan untuk generasi yang akan datang. Itu adalah bagian dari investasi akhirat yang akan kita nikmati kelak. Kalau tidak hari ini kita mulai, maka kapan lagi.

 

 

Selasa, 10 Mei 2022

KUPATAN, KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA



Budaya leluhur kita memang kaya ragamnya. Mungkin perayaan hari raya Idulfitri yang paling meriah di dunia hanya ada di negeri kita Indonesia. Di tempat lain, negeri yang mayoritas Islam hari raya Idulfitri tidak begitu dirayakan secara besar-besaran. Bahkan di Arab Saudi katanya hari raya Idulfitri masih kalah semaraknya dengan perayaan tahun baru Hijriyah.

Hanya di Indonesia hari raya Idulfitri dirayakan sampai tujuh hari, dan puncaknya adalah “kupatan” yang dilaksanakan setiap tanggal delapan Syawal. Banyak yang “menafsiri” kata kupatan berasal dari Bahasa Arab “kafatan” yang artinya sempurna. Setelah umat Islam melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan, pada tanggal dua Syawal disambung dengan puasa sunah selama enam hari. Pada hari kedelapan bulan Syawal dirayakan dengan memakan ketupat.

Tradisi makan ketupat tersebar di seluruh penjuru negeri. Apalagi setiap daerah punya cara makan ketupatnya masing-masing. Ketupat sudah menjadi bagian dari budaya makanan Indonesia. Ketupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dimasukkan dalam anyaman janur atau daun kelapa muda berbentuk persegi empat yang kemudian direbus dalam tempo yang lama.

Filosofi kupatan ata kafatan adalah bentuk penyempurnaan ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasulallah; Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Makna kupatan adalah lambang kesempurnaan puasa wajib yang ditambah dengan puasa sunah.

Jadi, perayaan kupatan bukan hanya perayaan makan bersama. Kupatan “sepantasnya” memang dirayakan bagi mereka yang telah menuntaskan puasa sunah dui bulan Syawal. Bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, tentu boleh-boleh saja ikut meramaikan acara kupatan. Kalau belum ada ketupat, “lontongan” saja…..

 

 

Senin, 09 Mei 2022

HARGA MAHAL, (KATANYA) JANGAN MENGELUH !



Harga-harga kebutuhan pokok kini banyak yang meningkat (naik). Tentu keadaan ini sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Setelah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) hampir semua komoditas yang dibutuhkan sehari-hari ikut merangkak naik. Urusan minyak goreng sebenarnya belum selesai. Kini ditambah lagi dengan berbagai “urusan” yang memusingkan masyarakat.

Ada yang mengeluarkan pernyataan (tokoh nasional), katanya masyarakat jangan cengeng menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Hadapi saja, karena ini adalah situasi yang sebenarnya umum terjadi. Memang ada benarnya juga. Tapi kita juga harus “adil” dalam mengeluarkan pernyataan. Jangan hanya kita melihat sisi keluhannya saja, tapi harus bisa melihat permasalahan yang terjadi secara menyeluruh.

Dari sudut pandang produsen, kenaikan harga barang sebenarnya memang sangat diharapkan. Tapi dari sisi konsumen kenaikan harga barang-barang tentu memberatkan. Kita ambil contoh, bila harga sayur dan hasil pertanian meningkat, tentu itu menguntungkan petani. Begitu pula bila hasil peternakan mengalami kenaikan harga, para peternak akan mengalami kemakmuran.

Memang normal ketika harga kebutuhan pokok naik. Tapi kenaikan yang terjadi secara bersamaan menjadikan masyarakat kelimpungan juga. Iuran BPJS naik, pajak kendaraan naik, listrik naik, gas elpiji, begitu pula kebutuhan pokok. Lalu, kenaikan-kenaikan tadi tidak diimbangi dengan pendapatan masyarakat yang naik.

Bagaimana dengan bantuan tunai dari pemerintah?. Tentu semua itu belum memadai. Meski sangat membantu masyarakat ekonomi lemah, bantuan tunai hanya bersifat sementara yang seolah menjadi penghibur semata. Setelah itu masyarakat ekonomi lemah juga akan merasakan betapa sulitnya memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

 

Minggu, 08 Mei 2022

Puasa Ular, Atau Puasanya Ulat?

 



Selepas Ramadan, kita memasuki bulan Syawal yang sangat “sibuk”. Ia, masyarakat kita punya tradisi sillaturrahim pasca perayaan idulfitri. Sampai-sampai kita menganggap bulan Syawal adalah bulan meminta maaf dan waktu yang tepat untuk mengeratkan kembali hubungan antar saudara, kerabat, teman maupun dengan para tetangga.

Sebenarnya kita mengetahui, sillaturrahim seharusnya dilakukan tidak hanya pada bulan Syawal. Begitu pula meminta maaf kepada orang, tidak perlu menunggu datangnya bulan Syawal. Karena sudah menjadi tradisi yang telah berjalan lama, semua dirasa memang sangat pantas dan diterima secara luas. Idulfitri tanpa kunjung-mengunjungi serasa bukan perayaan hari besar. Buktinya selama dua tahun yang telah berlalu kita merayakan Idulfitri tanpa “gairah”, karena tidak ada mudik dan saling sillaturrahim.

Biarkan tradisi terus berjalan. Beginilah cara kita merayakan Idulfitri, yang tentunya berbeda dengan negara atau masyarakat lain. Tapi yang mesti kita perhatikan adalah ibadah kita pada bulan Syawal ini. Di saat bula Ramadan kita giat melaksanakan berbagai amalan wajib dan sunah, apakah di bulan Syawal kita masih dalam mode yang sama atau bahkan meningkat.

Bila ibadah di bulan Syawal semakin bagus, itu adalah tanda puasanya membawa dampak peningkatan ketaqwaan. Namun bila sebaliknya, ketika bulan Syawal kualitas ibadah kembali menurun seperti pada bulan-bulan sebelum Ramadan, sangat mungkin puasa Ramadan yang dikerjakan belum memberi “bekas” yang berarti. Puasa hanya sebatas ritual tahunan yang selalu diulang.

Yang benar, merayakan Idulfitri tidak hanya dengan baju yang baru. Namun dengan jati diri baru yang lebih baik. Seperti sebuah perumpamaan puasa ular dan kupu-kupu. Katanya, ketika hendak ganti kulit ular juga melakukan puasa. Tapi yang berganti hanya kulitnya saja, karena tabiat ular tidak berubah sama sekali. Sementara ulat, melakukan puasa untuk merubah dirinya secara total, karena bentuk tubuh hingga sifatnya berubah. Lalu, katagori puasa apa yang kita kerjakan?. Puasa ular atau puasanya ulat…….

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...