Saat ini kita tengah berada di malam Jum’at kedua,
tanggal 12 Syawal tahun 1443 Hijriyah. Belum lama bulan suci Ramadhan
meninggalkan kita, tanpa adanya kepastian apakah di tahun-tahun mendatang kita
masih bisa berjumpa lagi, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa
ibadah yang dibawanya, dan mengisi siang dan malam harinya dengan amalan yang diridhai
Allah.
Bulan Syawal menjadi ukuran sampai di mana
kita bisa istiqomah, bukankah ketika Ramadhan kita ringan melaksanakan qiyamul
lail sholat tarawih, tilawah kita yang setiap hari, bangun tengah malam untuk
tahajjud dan makan sahur, bersedekah memberi makan orang yang puasa, dan sudah
seharusnya amalan-amalan baik tersebut membekas dan bahkan bisa tetap bertahan
pasca Ramadhan.
Bulan Syawal seharusnya menjadi momentum
untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau setidaknya mempertahankan ibadah
amalan-amalan di bulan suci Ramadhan. Walau dalam kenyataan Syawal lebih sering
menjadi bulan penurunan ibadah kita, juga penurunan kualitas diri. Di antara
tandanya yang sangat jelas adalah perayaan idulfitri seakan-akan menjadi hari kebebasan
setelah selama sebulan penuh menahan diri.
Pertanda itu sesungguhnya juga menunjukkan
kepada kita, bahwa puasa yang demikian mungkin belum sukses mengantarkan
seseorang meraih derajat taqwa, atau mendekatinya. Keadaan yang demikian itu
menjadi indikator yang mudah diketahui oleh siapa saja yang mau memperhatikan
dengan seksama.
Kadar ketaqwan seseorang memang tidak bisa
dilihat dengan mata lahiriah. Hakikat tinggi rendahnya, kuat lemahnya ketaqwaan
seorang hamba hanyalah Allah yang mengetahuinya. Namun setidaknya ada
tanda-tanda yang bisa dibaca dan menunjukkannya. Dalam suarat ali Imran 134-135
Allah berfirman;
“Yaitu orang-orang yang berinfak,
baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebaikan.(134) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau mendzalimi diri sendiri, ia segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan
atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain
Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka
mengetahui.(135)
Tanda
orang bertaqwa sesuai dengan ayat di atas yang pertama adalah mereka
yang berinfaq atau membelanjakan hartanya di jalan dalam keadaan lapang maupun
sempit, dalam keadaan banyak harta maupun dalam kondisi yang kekurangan. Mereka
ringan menyedekahkan hartanya, karena mereka yakin bahwa harta yang dimiliki
hanyalah amanah dan bukan milik sepenuhnya.
Tanda
orang taqwa kedua yakni mampu menahan amarah dan mudah memaafkan
kesalahan orang lain. Orang bertaqwa memiliki emosi yang stabil dan tidak gampang
menurutkan nafsu kemarahan. Dia akan berpikir berulang kali sebelum bertindak.
Tidak membalas keburukan orang dengan keburukan yang serupa, bahkan sering
membalas keburukan dengan kebaikan.
Adapun
tanda taqwa ketiga, bila mereka berbuat kesalahan dan dosa mereka cepat
mengingat Allah dan buru-buru bertaubat. Segera berhenti dari perbuatan dosa
dan menukar dengan amal yang baik sebagai pengganti kesalahan yang telah
dikerjakannya. Orang bertaqwa bukan berarti mereka suci dari dosa, tapi mereka
tidak terlena dan terus-menerus melakukan perbuatan yang terlarang.
Marilah
kita meneliti dan menakar diri sendiri, apakah tanda-tanda taqwa tersebut ada
dalam diri kita. Bila memang ada bersyukurlah kepada Allah karena itu adalah
karunia yang agung. Dan bila belum lengkap tandanya hendaknya kita senantiasa
belajar dan memperbaiki ibadah-ibadah yang kita amalkan.
Memang tidak banyak amal khusus di bulan
Syawal dibandingkan dengan Ramadhan. Akan tetapi, Allah telah memberikan
kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga
bisa dimaknai sebagai jalan untuk meningkatkan ibadah dan kualitas diri
kita di bulan Syawal ini. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan
diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di
bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadhan. Dan masih ada
kesempatan untuk melaksanakan puasa sunah ini, karena puasa Syawal tidak harus
dikerjakan pada awal bulan saja.
Jikalau Bulan Ramadhan kita anggap sebagai
bulan menempa diri menjadi hamba yang bertaqwa, tentunya kita semua berharap
lulus dan mendapat predikat “Muttaqin”. Jangan sampai puasa Ramadhan hanya
sekedar menjadi rutinitas yang yang setiap tahun kita jalani. Semoga Allah
menerima semua amalan ibadah kita selama Ramadhan tahun ini, dan Allah selalu
membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya.