Kamis, 26 Mei 2022

BECAK TUA MBAH REBO



Di usia tuanya mbah Rebo masih bisa mengayuh becaknya. Memang semua tidak sama lagi dengan masa mudanya dulu. Kini dalam seminggu beliau hanya mampu sekali atau dua kali “bertugas” membawa becak tuanya. Dan lagi, itu hanya tugas ringan mengantar orang ke tempat yang tidak jauh. Begitu cerita beliau ketika pulang dari masjid subuh tadi.

Mbah Rebo sebenarnya memang sudah pensiun dari pekerjaan “mbecaknya”. Usianya sudah sangat tua untuk bekerja keras seperti masa lalu. Anak-anaknya juga sudah besar dan mandiri. Dan yang paling membanggakan beliau mampu membiayai salah satunya anaknya hingga kuliah. Tentunya tidak semua orang tua mampu melakukan seperti apa yang dilakukan mbah Rebo.

Mbah Rebo kini bisa menikmati masa tuanya. Kerja kerasnya di usia muda telah membuahkan hasil yang diimpikannya. Bukan tabungan besar atau aset yang berharga. Namun mewujudkan cita-cita agar anaknya menjadi terpelajar. Tidak seperti dirinya yang tidak sempat mengenyam pendidikan. Memang, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Dahulu, becak menjadi salah satu alat transportasi yang penting. Banyak orang menggunakan becak karena keterbatasan alat transportasi umum dan biayanya yang memang murah. Zaman telah berubah, siapa yang tidak bisa mengikuti zaman dia akan terpinggirkan, dan nyatanya memang benar. Becak akan menjadi cerita masa lalu. Kini becak sudah di ambang “kepunahan”, setidaknya itu realitas yang ada di kota kita tulungagung.

Becak kalah bersaing dengan ojek online yang jauh lebih cepat, aman dan pastinya lebih murah ongkosnya. Seperti yang kita lihat, yang masih tetinggal hanya beberapa pengemudi becak yang usianya sudah tua. Mereka masih setia menunggu penumpang di perempatan kota dan tempat-tempat perhentian bus. Jumlahnya setiap waktu akan terus berkurang, dan sepertinya tidak akan pernah ada pengendara becak baru.

 

 

Rabu, 25 Mei 2022

Bukan Dilarang, Tapi Harus Dibatasi



Sudah tiba masanya. Anak usia tiga empat tahun sudah bisa menggunakan ponsel untuk bermain. Padahal orang tuanya tidak pernah mengajarkan bagaimana cara memakai ponsel. Seakan sudah menjadi insting. Dengan cepat anak-anak kecil sekarang mampu mengoperasikan perangkat komunkasi orang tuanya tersebut. Bahkan ada kecenderungan anak kecil lebih cepat memahami fitur yang ada di ponsel daripada orang tuanya.

Reaksi orang tua terhadap anaknya yang bermain ponsel ternyata bermacam-macam. Ada yang cuek saja ketika anaknya tidak bisa lepas dengan HP-nya. Sementara juga ada orang tua yang khawatir ketika melihat anaknya mulai memiliki ketergantungan dengan gadget.

Sebenarnya kita bisa menyiasati agar anak tidak memiliki ketergantungan dengan gadget. Yang tepat bukan melarang sama sekali menggunakan ponsel, karena itu hal yang tidak mungkin. Tapi membatasi penggunaan ponsel dengan tetap melakukan pengawasan. Dengan pembatasan dan pengawasan orang tua, anak akan memiliki ruang kebebasan tapi tetap bertanggungjawab.

Seperti apa yang disampaikan seorang teman, bagaimana ia membuat aturan penggunaan ponsel bagi anaknya yang masih berusia lima tahun. Main HP diizinkan hanya setelah maghrib sampai jam sembilan malam. Dengan persuasi dan pengawasan yang baik ternyata anaknya bisa memahami dan mematuhi aturan yang diterapkan oleh ibunya.

Kalau kita analogikan ponsel itu seperti sebuah pisau. Banyak fungsi dan manfaat yang bisa kita proleh dari penggunaan pisau. Tapi bila tidak hati-hati, pisau juga bisa melukai penggunanya. Sebagaimana ponsel yang sekarang menjadi alat multifungsi. Bila disalahgunakan bisa berakibat yang buruk, terutama bagi anak.

 

 

 

 

 

Selasa, 24 Mei 2022

Tidak Bosan, Hanya Kebuntuan Sesaat



Saya merasa tidak pernah dan tidak akan bosan menulis. Setidaknya itu yang saya rasakan sampai hari ini. Menulis tetap menjadi aktivitas yang menarik dan tidak membosankan. Bagai tantangan yang harus selalu ditaklukkan. Hari ini menulis, besok menulis dan seterusnya selalu berusaha untuk terus menulis.

Kalaupun ada waktunya tidak menulis, itu bukan karena bosan atau jenuh menulis. Semua hanya faktor manajemen waktu dan kebuntuan ide. Tidak selamanya menulis itu mudah dan mengalir. Pasti ada waktunya kita mengalami kebuntuan meski itu bukan kebuntuan permanen, hanya sesaat saja.

Ketika mengalami “deadlock” ide, sebenarnya kita hanya perlu rehat saja. Paling tidak itu yang saya alami beberapa kali. Ketika saya tinggalkan aktivitas menulis sehari atau dua hari biasanya semua kembali segar. Ada jalan yang terbuka yang sebelumnya seperti benar-benar telah buntu. Ya, ini manfaat refresing dari sebuah rutinitas.

Sejauh ini, target membuat tulisan di blogger setiap hari masih bisa terwujud. Memang hanya tulisan ringan sebanyak lima paragraf, tapi bukan berarti itu mudah. Buktinya saya harus mengerahkan segala usaha agar tetap berjalan.

Tambal sulam menjadi hal yang biasa dalam aktivitas menulis harian. Bila dua hari tidak menulis artinya pada kesempatan lain saya harus membuat tulisan lebih banyak lagi sebagai tebusan hutang. Inilah bagian dari menjaga komitmen terhadap diri sendiri.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...