Minggu, 13 November 2022

Tidak Sportif



Peribahasa mengatakan hujan sehari menghapus kemarau setahun. Maknanya, keburukan sedikit bisa menghancurkan kebaikan yang telah lama dibuat atau dilakukan seseorang.

Dalam kehidupan, sering kita jumpai kenyataan yang serupa dengan peribahasa di atas. Kebaikan seseorang yang sudah dilakukan bertahun-tahun bisa terhapus hanya karena satu kesalahan. Ini merupakan perilaku yang yang sportif.

Bagaimana seseorang menganggap satu kesalahan lebih berat kadarnya dengan seribu kebaikan. Seharusnya satu kesalahan hanya sebanding dengan satu kebaikan. Apabila ada orang  yang telah baik sikapnya kepada kita dalam rentang waktu yang lama, tak pantas kita memperlakukannya tidak adil hanya karena satu kesalahan.

Kesalahan itu manusiawi. Tidak akan ada orang yang hidupnya luput dari kesalahan. Seperti itulah kenyataannya, dan diri kita juga bagian dari kelaziman itu. Lalu mengapa mudah memaafkan kesalahan sendiri, sementara bila orang lain yang bersalah kita teramat berat memaafkannya.

Mari belajar bersifat kesatria dan jujur. Mencoba menghargai kebaikan orang lain walau itu kebaikan kecil. Dan melatih diri memaafkan kesalahan orang lain, meski itu terasa berat.

 

Sabtu, 12 November 2022

Metode Pendidikan Qurani #2

 


Mendidik dengan kelembutan

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah bisa diartikan suci atau sifat asal yang murni. Pada hakikatnya setiap anak memiliki potensi yang sama karena dibekali oleh Allah dengan sarana yang tidak jauh berbeda. Selanjutnya dalam pendidikan orang tua maupun jenjang pendidikan formal akan tampak perkembangan dan perbedaan minat seorang anak.

Potensi anak yang merupakan fitrah jangan sampai dirusak karena salah dalam memberikan pendidikan terhadap anak. Pendidikan sejak dini yang diberikan orang tua kepada anak akan sangat menentukan nasib anak ketika dia dewasa.

Apabila seorang anak dididik dengan kelembutan, dia akan memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Jiwanya hidup, tidak semata akal pikirannya yang berkembang. Dan Nabi melarang orang tua berlaku kasar terhadap anak kecil.

Pernah suatu saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggendong seorang bayi, kemudian bayi tersebut kencing hingga baju beliau basah. Ibu sang anak segera merenggut anaknya dari gendongan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan keras. Melihat hal itu, Rasulullah langsung bersabda, “Air kencing ini bias dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka.”

Berlaku kasar terhadap anak akan meninggal luka dalam jiwanya. Selanjutnya luka ini akan sulit disembuhkan sehingga dampaknya akan sangat panjang dan merugikan. Mendidik dengan cara memukul, membentak, atau berteriak bertentangan dan cara Rasulullah mendidik anak.

Ketika cucu beliau Hasan dan Husain masih kecil, seringkali Rasulullah mengajak mereka berdua salat di Masjid Nabawi. Apa yang dilakukan anak kecil ketika di masjid, tentu bukan beribadah melainkan hanya bermain-main.

Suatu ketika selesai salat bersama Nabi salah satu sahabat ada yang bertanya. Mengapa Rasulullah tadi ketika sujud lama sekali. Jawaban Nabi sungguh luar biasa. Rupanya di saat beliau sedang sujud Hasan dan Husain naik di punggung Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan beliau membiarkan keduanya hingga turun dan selesai bermain.

Rasulullah sangat dekat dan sayang terhadap anak-anak kecil. Dalam sebuah riwayat disebutkan. Pada suatu ketika Nabi membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak paman beliau, Al-Abbas. Kemudian, beliau berkata: “Barang siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan ini dan itu.” Lalu mereka berlomba-lomba untuk sampai kepada beliau. Kemudian mereka merebahkan diri di atas punggung dan dada beliau. Kemudian, beliau menciumi dan menempati janji kepadanya”. (HR. Ahmad).

Cara-cara kasar dalam mendidik anak yang dimaksud untuk mendisiplinkan, pada kenyataannya tidak akan efektif. Justru dengan cara tersebut dapat membuat munculnya luka pengasuhan pada anak. Sehingga tak jarang anak akan bersikap tertutup dan mengalami trauma.

 

Jumat, 11 November 2022

Meneladani Semangat Juang Pahlawan



Kemarin, tanggal 10 November merupakan Hari Pahlawan Nasional yang setiap tahunnya diperingati oleh bangsa Indonesia. Peringatan tersebut untuk mengenang besarnya jasa para pahlawan dalam pertempuran dahsyat pada 10 November 1945 di Surabaya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada tanggal 10 November 1945 terjadi perang di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan sekutu (Inggris dan Belanda).

Sejarah mencatat bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya merupakan pertempuran terbesar selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu pertempuran yang terjadi pada 10 November 1945 diabadikan menjadi Hari Pahlawan.

Sebelum pertempuran besar di Surabaya yang nenggugurkan puluhan ribu syuhada, pada tanggal 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asyari mengeluarkan "Resolusi Jihad". Seruan itu ditujukan kepada para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia.

Ini yang menjadi bukti bahwa peran ulama dalam perjuangan tidak bisa dinafikan. Dalam Resolusi Jihad disebutkan bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-taubah 41 berfirman; Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Isi resolusi jihad Hasyim Asyari adalah mewajibkan setiap muslim di Indonesia untuk membela tanah air. Selain itu, beliau juga meminta para santri dan ulama untuk turut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari serangan penjajah.

Inilah yang menyulut api perjuangan rakyat Surabaya. Di bawah komando para ulama dan para pejuang, rakyat terjun dalam kancah peperangan. Dengan semboyan “Merdeka atau Mati” perlawanan bersenjata terus dikobarkan.

Pertempuran 10 November 1945  di Surabaya telah mengakibatkan puluhan ribu pejuang dan rakyat Surabaya gugur sebagai syuhada bangsa. Mereka mengorbankan harta bahkan jiwa demi tegaknya kemerdekaan bangsanya.

Mempertahankan tanah air atau negeri yang menjadi tempat tinggal dari serangan musuh adalah bagian dari jihad di jalan Allah.

Kita bisa mengambil ibrah dari Sirah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Pada tahun 5 Hijriyah, Kota Madinah juga mendapat ancaman serius dari serangan musuh.

Pasukan kafir Quraisy ditambah dengan gabungan pasukan pendukungnya yang jumlahnya sekitar 10.000 tentara hendak menyerang Madinah.

Rasulullah tidak berdiam diri atau lari menghindar dari serangan musuh. Beliau keluar bersama 3000 kaum muslimin bertekad mempertahankan kota Madinah. Kemudian atas usul sahabat Salman Al-Farisi, dibuatlah parit yang melindungi kota Madinah dari gempuran musuh.

Selama kurang lebih satu bulan, gerakan pasukan musuh tertahan oleh parit yang dibuat kaum muslimin. Sementara orang-orang Muslim selalu berdoa kepada Allah. “Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami”.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga berdoa untuk kemalangan musuh. “Ya Allah yang menurunkan al-kitab dan yang cepat hisab-Nya, kalahkanlah pasukan musuh. Ya Allah, kalahkanlah dan guncangkanlah mereka”.

Allah mengabulkan doa Nabi dan kaum Muslimin. Setelah muncul perpecahan di barisan orang-orang musyrik dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan pasukan berupa angin taufan hingga seluruh tenda pasukan mereka porak-poranda.

Cukuplah Allah yang menjadi penolong. Pasukan musuh mengalami kerugian besar dan kembali ke tempat mereka dengan kekalahan yang telak.

Peristiwa ini dalam sejarah disebut sebagai perang Khandaq atau Ahzab. Dalam catatan sejarah Islam perang Ahzab merupakan peperangan yang sangat menegangkan. Kekuatan gabungan musuh-musuh Islam akhirnya tidak mampu mengalahkan pasukan kecil Rasulullah di Madinah.

Hari ini kita harus mengambil pelajaran dari kisah perang Khandaq di zaman Nabi, dan juga pertempuran 10 November tahun 1945. Bahwa semangat berjuang yang menyala dipadu dengan jiwa kebersamaan akan menghasilkan kekuatan yang besar. Tentunya dengan senantiasa memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah subhanahu wa’ta’ala.

 

 

Kamis, 10 November 2022

Mengenang Kembali Sejarah 10 November dan Momentum Kebangkitan Bangsa



Tanggal 10 November merupakan Hari Pahlawan Nasional yang setiap tahunnya diperingati oleh bangsa Indonesia. Peringatan tersebut untuk mengenang besarnya jasa para pahlawan dalam pertempuran dahsyat pada 10 November 1945 di Surabaya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada tanggal 10 November 1945 terjadi perang di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan sekutu (Inggris dan Belanda).

Sejarah mencatat bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya merupakan pertempuran terbesar selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu pertempuran yang terjadi pada 10 November 1945 diabadikan menjadi Hari Pahlawan.

Pertempuran 10 November 1945  adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap bangsa penjajah.

Pertempuran besar yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya bermula dari kedatangan tentara sekutu ke Indonesia dengan tugas untuk melucuti senjata tentara kekaisaran Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara kekaisaran Jepang ke negerinya.

Namun di balik tujuan tersebut, mereka juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan sipil Hindia Belanda sebagai negeri jajahan kolonial Kekaisaran Belanda.

Inilah yang menyulut api perjuangan rakyat Surabaya. Di bawah komando para ulama dan para pejuang, rakyat terjun dalam kancah peperangan. Dengan semboyan “Merdeka atau Mati” perlawanan bersenjata terus dikobarkan.

Bentrokan antara pejuang dengan sekutu tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (Pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur) pada 30 Oktober 1945. Peristiwa ini menyebabkan pihak Inggris murka kepada pihak Indonesia.

Keluarlah Ultimatum 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan serta ancaman akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila orang orang Indonesia tidak mentaati perintah Inggris.

Ancaman perang dari pihak sekutu tidak digubris oleh rakyat Surabaya, sehingga terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945, selama lebih kurang tiga minggu lamanya.

Pertempuran 10 November 1945  di Surabaya telah mengakibatkan puluhan ribu rakyat Surabaya menjadi korban dan sebagian besar adalah warga sipil. Sementara dari pihak musuh tercatat sekitar 1600-an prajurit Inggris tewas.

10 November 1945 kemudian kita kenang menjadi hari pahlawan sebagai penghargaan atas banyaknya pejuang yang gugur dan puluhan ribu rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat berjuang tak kenal menyerah yang ditunjukkan rakyat Surabaya.

Bung Tomo memiliki jasa besar dalam peristiwa 10 November di Surabaya. Melalui pidatonya yang berapi-api di depan corong radio, Bung Tomo berhasil membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk kembali melawan para penjajah.

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2022 kali ini mengambil Tema "Pahlawanku, Teladanku”. Saatnya kita meneladani semangat berjuang yang gigih dan pantang menyerah dari para pejuang bangsa. Tahun ini adalah momentum bangkit dari masa-masa sulit.

Semangat yang menyala dipadu dengan jiwa kebersamaan akan menghasilkan gelombang perubahan yang nyata. Kita bersama bergerak menuju hari esok yang lebih cerah. Dan spirit para pejuang yang berani berkorban akan selalu menjadi inspirasi bangsa kita.***


 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...