Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap
muslim. Memang secara formal jenjang pendidikan itu memiliki tingkatan-tingkatan.
Dari tingkatan terendah sampai teratas. Ketika seseorang telah menyelesaikan study S-3 artinya dia sudah mencapai
jenjang pendidikan formal tertinggi. Namun bukan berarti sudah selesai kewajiban mencari
ilmu. Kewajiban belajar tidak terbatas hanya di bangku sekolah atau kuliah, akan
tetapi di mana saja dan akan tetap melekat selama masih hidup.
Seorang guru yang mengajar masih
dituntut untuk terus belajar. Mengamalkan ilmu tidak menjadikan ilmunya
berkurang, justru akan semakin bertambah ilmunya. Karena hakikat mengajar
adalah belajar. “Status” pencari ilmu adalah sebuah kemuliaan. Haus akan ilmu
menjadikan kita akan terus termotivasi untuk belajar.
Ketika Manab (nama kecil KH.Abdul Karim
pendiri pondok Lirboyo) masih menjadi santrinya Syaikhona Kholil di Bangkalan, beliau
sampai “diusir” untuk pulang karena ketekunannya mencari ilmu hingga melupakan
urusan pribadinya. Ketika itu usia beliau sudah mencapai 45 tahun, namun masih
asyik mengaji pelbagai ilmu sampai “lupa” belum menikah. “Wis Nab muliho, ilmuku wis entek”
(sudahlah Nab kamu pulang, ilmuku telah habis). Mungkin seandainya tidak
disuruh pulang beliau masih akan mengaji lebih lama lagi.
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
"Siapa
yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan
menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699)
Inilah keutamaan yang menjadikan seseorang ingin
selalu menjadi golongan pencari ilmu. Karena seandainya kita kelak meninggal dalam posisi mencari ilmu maka akan dimudahkan menuju karunia Allah.
Dikisahkan oleh Syaikh Hisyam Al-Burhani
(telah diunggah oleh sebuah Channel Youtube). Beliau adalah Syaikh
Thariqah Sadzlliyah yang lahir di Damaskus tahun 1932. Beliau bercerita, dulu di Damaskus Syuriah
ada sebuah pekuburan yang sangat terkenal namanya “Dahdah”. Sebuah pekuburan
yang mashur karena di situ banyak dimakamkan para Auliya, Ulama dan Syuhada.
Suatu hari datanglah perempuan menemui
penggali kubur untuk minta tolong dibuatkan liang lahat. Setelah itu tidak lama
kemudian datang jenazah yang diantar hanya sedikit orang. Ketika jenazah
dimasukkan ke dalam liang lahat, penggali kubur yang sudah ada di dalam siap
menerimanya, namun apa yang terjadi, penggali kubur seketika melihat liang
kubur menjadi taman yang indah…dan datanglah dua orang penunggang kuda yang
mengambil jenazah yang dikubur tadi, setelah itu pingsanlah penggali kubur
tadi. Setelah diangkat dan dipercikkan air sadarlah penggali kubur dan ditanya,
“Kamu kenapa?” kemudian ia bercerita, “Demi Allah Saya melihat begini,
begini…..”. Berkatalah orang yang bertanya, “Mungkin kamu sedang berhalusinasi”.
Beberapa bulan kemudian datang lagi perempuan
yang sama untuk meminta penggali kubur membuatkan lubang kubur baru. Sesaat
kemudian datanglah iringan jenazah mengantar ke makam untuk dikuburkan. Sekali
lagi penggali kubur masuk ke liang lahat untuk menerima jenazah. Seperti
kejadian semula, penggali kubur melihat taman indah, taman surga dalam liang
lahat, namun kali ini dia tidak pingsan. Kejadian yang sama seperti peristiwa
pertama, jenazah diambil oleh dua orang penunggang kuda. Setelah selesai
pemakaman penggali kubur mengejar perempuan asing yang meminta tolong
kepadanya. “Kamu siapa?”, “dari mana kamu berasal?”. “Ada apa wahai penggali
kubur?” perempuan asing menjawab. “Demi Allah aku mengalami peristiwa yang
aneh, yang pertama ketika aku memasukkan
jenazah terbukalah taman dari taman surga, yang kedua juga demikian”.
“Siapa dua orang yang aku makamkan ini, dan amalan apa yang mereka lakukan
ketika hidup, sampai Allah memperlakukan mereka seperti itu?”. Perempuan itu
kemudian menjawab, “Mereka adalah dua anak laki-laki saya, yang pertama adalah
seorang pencari ilmu, yang kedua adalah saudaranya yang bekerja sebagai tukang
kayu dan memberikan kepada saudaranya semua biaya menuntut ilmu”.
Setelah mengalami peristiwa luar biasa
ini penggali kubur menuju masjid At-Taubah di Damaskus Syuriah. Masjid yang
merupakan tempat leluhur Syaikh Hisyam Al-Burhani berasal. Kakek beliau Syaikh
Said Al-Burhani juga tinggal di sana. Penggali kubur berkata, “Saya ingin
menuntut ilmu”. Dijawab oleh Syaikh Said Al-Burhani, “Umurmu sudah 45 atau 50
tahun, kemana saja selama ini, mengapa baru sekarang mau belajar, dan kenapa?”.
“saya mengalami begini, begini….
Ringkas kisah, penggali kubur mulai belajar, …dia mengawali belajar Jurumiyah,
menghafal beberapa nazhom dan seterusnya mulai sibuk belajar ilmu, sampai ia
menjadi ulama yang terkenal, beliau adalah Assyaikh Abdurrahman Al-Haffar.
salah satu ulama terkenal di Damaskus. Setelah itu seluruh keluarganya menjadi
penunutut ilmu dan banyak yang menjadi ulama terkenal.
"Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujadilah 11)