Selasa, 15 September 2020

KEWAJIBAN BEKERJA


Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS: al-Jumu’ah ayat 10)

 

Bekerja menjemput rezeki guna menopang ibadah hukumnya adalah wajib. Sebagaimana hukum ibadah itu sendiri. Karena bekerja merupakan salah satu jalan memenuhi kebutuhan. Dan lebih lagi bagi yang telah berkeluarga, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap keluarganya. Selain itu dengan bekerja seseorang dapat terhindar dari thama’, menggantungkan diri pada orang lain dan juga menghindar dari meminta-minta.

 

Begitu pentingnya bekerja dan berusaha bagi seorang muslim. Karena sesungguhnya al-barakatu ma’al harakah bahwa keberkahan itu akan hadir bersama dengan pergerakan. Dimana ada kemauan untuk berusaha di situ Allah telah menyediakan keberkahan. Dengan kata lain Islam sangat membenci orang yang berpangku tangan, mengharapkan dan meminta-minta. Rasulullah mencintai sahabat-sahabat beliau yang bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan dalam Hadits disebutkan Nabi Daud alaihissalam pun bekerja untuk sekadar keperluan hidupnya.

 

Bekerja dalam bidang apapun itu tidak menjadi masalah selama tidak melanggar kaidah syariat Islam. Dan, hendaknya bekerja harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Kejujuran dalam bekerja mutlak wajib hukumnya. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan jujur akan menghasilkan rezeki halal yang penuh keberkahan dalam kehidupan. Dan dengan mengonsumsi yang halal akan mempermudah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah. Sebaliknya rezeki yang diperoleh dengan cara-cara terlarang (haram) akan semakin menjadikan seorang hamba jauh dari ridha-Nya.

 

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah berjalan-jalan di pasar melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata pada bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya kepada si penjual “apakah ini?” si penjual menjawab “Ya Rasul, makanan ini terkena hujan”. Rasulullah saw pun bertanya kembali “mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas sehingga para pembeli bisa melihatnya?” kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya “Barang siapa menipu umatku, niscaya dia bukan termasuk golonganku”.

 

Hadits tersebut memberi peringatan yang tegas, bahwa siapapun yang berlaku curang dalam pekerjaannya maka dia telah tersesat dan tidak termasuk golongan (umat) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam….

 

 

 

 

 

 

Senin, 14 September 2020

MEMOHON PERTOLONGAN DENGAN SABAR DAN SHALAT

 


bangunlah (untuk shalat) di malam hari kecuali sedikit (daripadanya), (2)

(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. (3)

atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (4)

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat. (5)

(Surat Al-Muzammil 2-5)

  

Ketika masa awal permulaan nubuwwah, di saat Allah belum menurunkan perintah shalat lima waktu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam diperintah melaksanakan shalat malam seperti syariat shalatnya Nabi Daud alaihissalam. Setelah kewajiban mendirikan shalat fardhu lima waktu turun, shalat malam yang dilakukan Nabi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sudah tidak wajib dilaksanakan, namun Rasulullah tetap melaksanakan shalat malam (tahajjud) dan tidak pernah meninggalkannya sampai akhir hayat beliau.

Demikian pula para sahabat nabi, generasi tabi’in dan pengikutnya hingga ulama salaf dan orang-orang shalih juga mengikuti jejak Rasulullah, mereka selalu mengisi setengah atau sepertiga malam dengan shalat tahajjud dan munajat kepada Allah. Shalat malam menjadi amalan yang senantiasa didawamkan dan tidak ditinggalkan meskipun secara hukum fiqih sunah semata.

Ketika datang segala permasahan yang berat, kondisi sekarang yang masih belum kembali normal, musibah yang masih mendera, marabahaya yang mengancam kehidupan kaum muslimin layaknya situasi akhir zaman seperti saat ini, selayaknya kita selalu meminta pertolongan kepada Allah dengan senantiasa menjaga shalat. Sebagaimana mengikuti jejak langkah Nabi di saat menghadapi beratnya dakwah Islam. Jalan yang kita pilih adalah tetap teguh menjaga istiqamah shalat wajib lima waktu ditambah dengan shalat Tahajjud ataupun shalat sunah yang lain, karena itulah ibadah yang kita jadikan sarana tumpuan untuk mendapat pertolongan Allah. Selanjutnya kita berharap pertolongan-Nya, sebagaimana Allah menganugerahkan pertolongan kepada Nabi berupa kelapangan dada (hati), menghilangkan beban yang berat, meninggikan derajat Nabi dan memberi kemudahan setelah masa yang sulit.

 

"Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS: Al-Baqarah 153)

Menjaga shalat maknanya, memperbaiki shalat yang kita kerjakan, menyempurnakan syarat dan rukunnya, mengerjakan shalat fardhu di awal waktu dengan berjama’ah. Kemudian menambah dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Shalat yang didirikan dengan khusyu’ dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, sebagai penerang hati orang beriman, menurunkan rahmat Allah dan menyibak tabir permasalahan dunia yang melilit kehidupan kita.

Muslim yang memiliki keimanan yang haq tidak akan pernah meninggalkan shalat wajib sekali pun. Karena dia yakin, jutaan manusia yang berada di bawah tanah sana, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala walau sekali sujud. Dan sepenuhnya kita harus senantiasa berharap Allah melimpahkan rahmat-Nya dan membimbing kalbu kita untuk tetap lurus serta selalu taat perintah-perintah-Nya terutama perintah shalat. Seperti Allah menolong dan membimbing kekasihnya yang mulia, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

 


Minggu, 13 September 2020

MENULIS PENGALAMAN HIDUP


Dalam sesi Ngaji Literasi, tema “Menulis Itu Mudah” dijelaskan bahwa menulis itu bisa diawali dari hal sederhana seperti kegiatan sehari-hari. Sisi yang menarik adalah, tema tulisan tidak selalu sesuatu yang berat atau serius, sehingga orang yang membaca harus berpikir keras untuk bisa mengerti dan paham apa maksud dari si penulis. Aktivitas rutin yang biasa pun bisa menjadi bahan tulisan. Hal-hal lumrah yang biasa kita alami pun bisa menjadi bahan tulisan. Setiap saat kita pasti melewati pengalaman yang menyenangkan, menyedihkan, mengharukan, membanggakan atau pengalaman unik lain, itulah obyek yang akan kita sulam menjadi buah pena.

Sebenarnya apa manfaat menulis kegiatan sehari-hari, pengalaman pribadi atau kisah perjalanan hidup yang kita lalui…?

Sebagian orang tentu berpikir, kita bukan siapa-siapa, apa pentingnya menulis kisah hidup  atau pengalaman yang sederhana. Apa juga perlunya orang lain mengetahui pengalaman kita yang tidak istimewa, hanya perjalanan hidup yang biasa-biasa saja. Tentu berbeda dengan orang besar yang tergolong tokoh atau publik figur. Kisah hidup mereka pasti akan banyak yang menulis. Fase-fase penting perjalanan hidup yang dilaluinya. Bahkan sampai harus menulis biografi untuk mereka. Sebuah kumpulan tulisan yang di dalamnya menjelaskan riwayat atau kisah hidup dari seorang tokoh yang ditulis orang lain.

Tapi apakah benar kisah hidup kita tidak ada guna atau faedahnya untuk ditulis? Nanti dulu, asumsi ini mungkin saja ada benarnya meskipun juga tidak mutlak seluruhnya. Pasti ada sisi manfaat yang diperoleh dari menulis kisah pengalaman hidup kita. Menulis aktivitas atau pengalaman pribadi adalah metode berlatih menulis setiap hari tanpa harus terbebani dengan masalah “ribet” memilih tema tulisan. Sebagian calon penulis masih menunda memulai aksinya karena merasa tidak memiliki keahlian pada bidang tertentu. Mereka kebingungan harus menulis apa. Ini jawabannya, tulis saja segala kegiatan yang kita kerjakan. Kemampuan menceritakan setiap kegiatan dalam bahasa tulisan kelak bisa menjadi bahan membuat cerita pendek atau menjadi bahan menulis prosa. Atau bahkan bisa pula menjadi materi menulis otobiografi.

Banyak yang sepakat bila dikatakan sebagian besar kita tidak mengenal silsilah atau garis keturunannya. Leluhur yang kita kenal namanya mungkin sampai generasi ketiga di atas kita saja. Mengapa? Karena tak ada selembar pun tulisan yang mencatat nama-nama mereka apalagi kisah hidup mereka. Jika hari ini kita menulis, sama halnya dengan memiliki sesuatu yang berharga untuk diwariskan. Tulisan kita akan menjadi dokumen kisah yang penting dan masih akan bisa dibaca oleh anak cucu dan generasi nantinya meskipun kita sudah tak lagi ada di dunia ini. Pengalaman atau cerita kehidupan yang sebelumnya sederhana berubah menjadi “harta” yang berharga yang bisa jadi pelajaran untuk generasi penyambung kita. Dan ini setidaknya menambah bukti bahwa menulis pengalaman pribadi memiliki manfaat. Minimal bermanfaat bagi kita sendiri, atau keluarga kita.

Sebuah ilustrasi berikut mungkin semakin menambah argumentasi bahwa menulis peristiwa sehari-hari itu memiliki manfaat. Seorang ibu menulis setiap hari tentang kehidupan putranya yang baru lahir. Semua ditulis dalam catatan yang rapi. Perkembangan apa yang dicapai anaknya, ketika mulai merangkak, mulai berjalan dan belajar kemampuan berbicara semua didokumentasikan tanpa ada yang ketinggalan. Ibu tadi telah merekam semua pertumbuhan dan perkembangan anaknya dalam catatan hariannya sampai usia belasan tahun. Kira-kira ada manfaatnya tidak semua catatan tebal ibu tadi? Sangat sarat bermanfaat, itu adalah manuskrip penting observasi panjang yang akan sangat berguna dalam riset pertumbuhan dan perkembangan anak.

Fakta-fakta yang telah diurai tersebut sedikit banyak akan mengubah pandangan atau pendapat yang menganggap menulis aktivitas sehari-hari atau kisah hidup kita itu tidak ada perlunya. Justru saya melihat tidak ada segi buruk mengabadikan kisah perjalanan hidup kita. Sebaliknya akan banyak sisi kemaslahatannya.

 

Sabtu, 12 September 2020

MENANAMKAN AKHLAQ MULIA SEJAK DINI


”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan ikutilah keburukan (kemaksiatan) dengan amalan kebaikan maka niscaya kebaikan itu akan menghapus (gelapnya) dosa keburukan, serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”. (HR Ahmad, Tirmidzi dan yang lainnya)

Dari matan Hadits Nabi di atas, setelah dipelajari ada beberapa makna yang bisa kita simpulkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan penekanan pentingya akhlaq mulia serta menjelaskan keutamaannya. Hadits di atas juga menegaskan bahwa agama Islam terdiri dari Hablum Minanallahi dan Hablum Minannas.

Sebagai pendidik, menanamkan akhlaq (perilaku) yang mulia kepada murid sejak dini. merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Pendidikan bukan hanya sekadar menjadikan anak pintar namun juga membentuk anak yang benar. Pendidikan bukan cuma melatih anak berpikir (logika) namun melatih anak untuk empati terhadap orang lain. Kepandaian tanpa dilandasi karakter akhlaq mulia justru akan menimbulkan kerusakan dalam masyarakat. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa orang pandai yang jahat lebih berbahaya daripada orang bodoh yang jahat. Karena akibat atau dampak kejahatan orang pandai akan berdampak yang lebih luas.

Masih ada dari kalangan kaum muslimin yang berpandangan bahwa ketaqwaan seseorang hanya diukur dari banyaknya ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kadang melalaikan sisi sosial dengan masyarakat, olehnya betapa banyak kita mendapatkan seseorang yang bagus ibadahnya, dan nampak keshalihan di wajahnya, namun akhlaqnya tidak terpuji kepada sesama. Misalnya, tidak jarang lisannya yang tajam melukai hati orang lain. Kaya raya namun harta yang dimilikinya hanya disimpan dan enggan menderma kepada saudara yang membutuhkan. Maka hadits ini memupus anggapan tersebut, dan menegaskan bahwa keimanan ketakwaan akan semakin sempurna dengan liniernya antara banyaknya ibadah kepada Allah dengan indah akhlaq seorang muslim terhadap sesama.

Bukankah Rasulullah bersabda, ”Orang yang paling sempurna imannya, adalah yang paling mulia Akhlaqnya”. Hadits ini menunjukkan kedudukan yang tinggi bagi akhlak yang mulia, yang mana banyaknya ibadah seseorang dan indahnya akhlaknya bagaikan dua sisi mata uang. Dan dalam hadits yang lain disebutkan, Rasulullah diutus ke umatnya membawa misi menyempurnakan akhlaq mulia. Dan masih ada beberapa hadits yang begitu menekankan pentingnya berakhlaq mulia, sebagaimana pentingnya mengerjakan ibadah-ibadah maghdhoh, seperti sholat, zakat puasa maupun haji. Bahkan seseorang yang memiliki adab, perilaku yang baik, berakhlaq mulia bisa lebih tinggi derajatnya dari orang yang rajin beribadah namun tidak memiliki akhlaq yang mulia dengan sesamanya.

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, akhlaq mulia orang-orang shalih. Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” Dari uraian yang telah kita paparkan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa berakhlak mulia merupakan amalan yang wajib hukumnya, bahkan ia merupakan bagian kesempurnaan iman seseorang.

 

Jepang Membawa Asia Naik Kelas

Tim Nasional Jepang kembali menunjukkan kualitasnya di Piala Dunia 2026. Setelah berhasil menahan imbang Belanda dengan skor 2-2, Jepang...