Selasa, 13 Oktober 2020

RUU "CILAKA" DAN DEMONTRASI


Demontrasi sepertinya hari-hari ini akan sering terjadi di negeri kita. Aksi menolak Pengesahan RUU Cipta Lapangan Kerja oleh DPR menjadi isu panas yang sebagian besar melibatkan buruh dan didukung oleh mahasiswa. Sejak disahkan dalam rapat Paripurna DPR 5 Oktober 2020, gelombang penolakan terhadap RUU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law) terjadi di mana-mana. Bukan hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, namun hampir seluruh kota ada reaksi serupa.

Ada banyak penyebab yang menimbulkan terjadinya gelombang demontrasi besar-besaran menolak RUU Omnibus Law. Dari kaca mata kaum buruh, RUU ini dinilai tidak pro dengan kepentingan buruh, justru hanya menguntungkan pengusaha atau investor. Sementara pihak pemerintah menjelaskan bahwa tujuan RUU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law) justru semakin menyejahterakan kaum buruh. Mengapa bisa terjadi dua sudut pandang yang  beda dari sebuah rancangan undang-undang?.

Dari penjelasan pemerintah dapat kita pahami bahwa buruh belum memahami penuh isi draf RUU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law). Sehingga termakan oleh hoaks yang  banyak beredar. Itu tentu versi pemerintah. Namun apa benar gerakan demo besar-besaran akhir-akhir ini Cuma karena hoaks?.

Menurut beberapa pakar Ilmu Tata Negara, sebenarnya sejak awal RUU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law) sudah menuai polemik. Prosesnya yang dianggap kurang terbuka dan terkesan buru-buru. Bahkan sampai draf RUU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law) disahkan dalam sidang paripurna DPR, ada “misteri” yang masih belum terpecahkan. Sebagian draf yang beredar ada yang berjumlah 950 halaman, ada yang 1300-an halaman, dan berita terbaru hari ini draf yang beredar ada 812 halaman. Sebenarnya mana yang benar?. Padahal sebuah draf RUU yang sudah disahkan tidak boleh lagi dirubah meskipun Cuma titik dan komanya. Karena itu akan menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Jangan-jangan draf yang dibaca oleh demonstran beda dengan draf yang dipakai oleh pemerintah, dan berbeda pula dengan draf yang disahkan oleh DPR… kita tunggu versi yang resmi nanti.

 

 

Senin, 12 Oktober 2020

TENTANG MENULIS (LAGI)

 



Sepertinya tidak perlu banyak keterangan apa manfaat menulis, karena semua akan sia-sia bila tidak ada landasan ketertarikan dengan dunia menulis. Bagi mereka yang percaya, tidak perlu banyak penjelasan. Namun bagi mereka yang tidak percaya tidak pernah akan cukup semua penjelasan. Kepercayaan menggerakkan hati dengan kerelaan. Ketika seseorang sudah memiliki ketertarikan dengan menulis maka tidak perlu banyak teori dan keterangan yang disampaikan sebagai hujah mengapa kita harus menulis.

Menulis membutuhkan komitmen. Ya, memang kalau sekadar menulis satu dua judul artikel mungkin itu banyak yang bisa. Namun menulis yang konsisten. Menulis yang sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Menulis yang sudah menjadi bagian yang menyatu dalam diri, inilah yang amat sulit. Tidak bisa dilihat sebulan atau dua bulan belajar. Namun sudah pasti butuh waktu yang lebih panjang dari itu.

Bagi kita yang mencoba memasuki dunia menulis tidak perlu kecewa bila harapan menulis tidak sesuai dengan kenyataan. Meski sebenarnya rasa kecewa itu wajar. Kecewa adalah salah satu perasaan alami yang bisa tumbuh dalam diri manusia. Banyak yang menekuni menulis memiliki harapan yang tinggi, ini wajar dan tidak berlebihan. Namun dalam perjalanan selanjutnya menekuni dunia menulis selalu tidak mudah. Akan ada seleksi alam yang menguji komitmen kita.

Ketika semangat menulis semakin menurun sebaiknya kita memeriksa kembali niat kita. Pasti ada yang tidak benar. Mungkin saja niat kita sudah menyimpang dari garis semula. Motivasi kita mulai terpengaruh dengan banyak hal yang tidak penting. Niat menulis landasannya hanya keikhlasan semata. Tidak perlu banyak berpikir dan membuat target.

Menyukai aktivitas menulis itu baik. Namun tidak perlu berlebihan dan harus tetap proporsional dalam mengatur waktu. Segala hal yang berlebihan itu gak baik, termasuk urusan menulis. Tidak perlu menggebu-gebu. Karena sesuatu yang dimulai dengan rasa suka yang terlalu besar biasanya mudah kecewa. Ya, harapan yang tumbuh sering tidak sesuai dengan realitas yang ada. Mimpi menulis yang tadinya indah ternyata hanya sekilas, kemudian semua menjadi bias.

 

 


Minggu, 11 Oktober 2020

ANTUSIASME MENULIS



Semua pekerjaan mesti memerlukan antusiasme dalam melakukannya. Ketika pekerjaan dilakukan dengan setengah hati, maka hasilnya pasti mengecewakan. Makna antusias, menunjukkan semangat dan kegembiraan yang menjadikan kita penuh dengan energi. Sosok yang antusias selalu menarik. Tentu kita bisa membedakannya dengan jelas. Ketika kita bertemu sesorang, berjabat tangan dengannya segera kita akan tahu bagaimana sikapanya yang antusias mampu mengangkat semangat. Sosok antusias akan menjabat erat dengan senyum yang tulus. Pandangan menatap kita dengan penuh persahabatan. Segera aura positif ini akan menular ke kita.

Antusiasme itu menular, akan selalu menjangkiti yang lain. Ketika kita berada di tengah-tengah kumpulan orang yang antusias, maka antusiasme menyebar seperti nyala api yang membakar dengan cepat. Kontradiksi dengan itu, bila kita bergaul dengan orang-orang yang menunjukkan sedikit antusiasme itu pun juga menular. Ketika seseorang selalu berpikir negatif dan tidak menunjukkan minat, kita akan menemukan bahwa tugas apa pun yang kita kerjakan akan terasa menjadi berat.

Jika kita melaksanakan sesuatu tanpa antusias, tugas itu akan terasa melelahkan. Kita akan terjebak dalam situasi yang membosankan, tidak bahagia, dan benar-benar tidak bisa menikmatinya. Akan nyata bedanya ketika kita memiliki antusias dalam aktivitas, segalanya menjadi lebih mudah. Semua tentu pernah mengalami situasi ini.

Sering terjadi seorang pembicara yang sedang ceramah namun audiens seperti tidak tertarik dengan penjelasannya, sebagian mengantuk atau bercakap-cakap dengan temannya. Sebenarnya bukan salah orang yang tidak ada perhatian. Mungkin dari sisi yang berbicara tidak memiliki antusiasme. Kata-katanya datar dan tidak memiliki energi yang membangkitkan minat pendengar.

Proses menulis juga membutuhkan keseriusan dan antusiasme. Meskipun hal yang kita tulis adalah sesuatu yang sederhana sekalipun. Dengan antusiasme tulisan kita tidak tampil ala kadarnya. Segalanya membutuhkan cinta yang melandasinya. Menulis juga butuh cinta. Mencintai apa yang dilakukan akan menimbuhkan antusiasme. Mencintai menulis menjadikan kita penuh semangat karena itu sudah menjadi dorongan hati. Mampu menjalaninya sepenuh rasa dan ikhlas. Dan, tidak pernah kecewa dengan harapan yang telah dibangun apapun hasilnya. Namun, bila belum tumbuh rasa cinta menulis pasti amat berat melakukannya. Kenyataannya memang tidak mudah mencintai sesuatu yang belum kita sukai.

 

 

Sabtu, 10 Oktober 2020

CARA MEMANDANG DUNIA


Berjalanlah, jangan berlari. Karena hidup itu perjalanan bukan pelarian. Sebuah ungkapan yang membuat kita merenung dan berpikir. Mengingatkan kembali hakikat tujuan hidup kita. Hidup di dunia adlah persinggahan dari perjalanan panjang kita. Namun, bila kita menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah persinggahan, mengapa begitu khawatirnya kita dengan kehidupan kita di dunia?. Seakan-akan kita kekal hidup di dunia. Mengumpulkan bekal yang melebihi kebutuhan kita di dunia yang fana ini. Enggan berbagi dengan saudara kita karena kita takut menjadi miskin.

Perbedaan cara pandang yang akhirnya menjadi perbedaan persepsi itu memunculkan beragam cara hidup atau gaya hidup. Bagi kita umat muslim, seluruh sendi kehidupan kita telah diatur oleh Allah melalui Al Qur’an dan oleh Rasul-Nya dengan tuntunan As Sunnah. Keduanya adalah penuntun yang paling tepat untuk menuju ke arah jalan yang diridhai. Bila berpegang teguh dengan keduanya, selamatlah kehidupan kita.

Sebuah fakta membuat kita prihatin, seiring perkembangan zaman sepertinya telah mengubah sebagian besar pandangan manusia dalam memahami tuntunan dalam menjalani hidup. Kehidupan manusia modern sekarang ini semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Yang banyak adalah orang-orang yang rakus yang tidak peduli dengan penderitaan dan kepedihan orang sekitarnya, bahkan tidak peduli dengan alam sekelilingnya. Saat ini sebagian orang memang bergaya hedonis, suka berfoya foya dan hanya memikirkan kepentingan duniawi dan melupakan kehidupan yang abadi, kehidupan akhirat.

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)

Yang sangat mencintai kehidupan dunia pasti akan meninggalkannya. Dan begitu pula yang menyadari dunia hanya sebuah persinggahan sementara. Kehidupan dunia tidak ada yang abadi. Nasihat para sufi, dunia ini hanya akan tampak menakjubkan penuh kemegahan di mata orang yang tidak mengetahuinya, layaknya orang memimpikan sesuatu yang membahagiakan. Apa yang ia lihat hanyalah sebuah fantasi, bukan kenyataan. Oleh karenanya, jangan sampai tertipu. Bukankah dunia sering merusak impian para pemujanya?

 

 

Jumat, 09 Oktober 2020

REFLEKSI DIRI


Bagi sebagian orang, biasanya hari ulang tahun akan ditunggu dan dirayakan. Bahkan bukan hal baru lagi bila kita jumpai di masyarakat kita, momen ulang tahun dirayakan dengan pesta. Membuat roti tart dengan lilin sesuai usianya, kemudian ditiup dan bernyanyi. Sepertinya merayakan ulang tahun sudah menjadi hal yang lazim bagi masyarakat kita. Meskipun juga banyak yang tidak sependapat dengan budaya ulang tahun yang mengikuti tradisi orang-orang Barat seperti itu.

Saat ulang tahun bila kita hitung dari tanggal lahir maka usia memang bertambah. Ya, usia kita semakin lama semakin bertambah jumlah tahunnya. Namun bila kita hitung dari jatah usia kita, ulang tahun adalah momen berkurangnya umur kita. Umur kita telah berkurang lagi satu tahun. Semakin sedikit kesempatan yang tersisa. Ibarat sebuah perjalanan, semakin dekat kita dengan tujuan.

Senang dan gembira saat hari ulang tahun bukan sebuah kekeliruan. Yang dimaksud adalah senang dan gembira sebagai bentuk syukur karena dikaruniai usia panjang oleh Allah. Bukan sekadar senang karena bertambahnya usia. Karena bertambah usia tanpa bertambahnya kebaikan adalah sebuah kerugian. Bertambah  usia namun tanpa disertai perubahan sikap dan sifat yang lebih baik juga menjadi sia-sia. Ibarat ilmu padi, semakin tua semakin berisi. Semakin bertambah usia semestinya semakin bertambah ilmu dan amal kebaikannya. Namun bila yang terjadi sebaliknya, tampaknya tidak patut bahagia ketika usia semakin bertambah. Bahkan mungkin yang lebih tepat, harusnya hati kita menjadi gundah.

Mana kiranya yang lebih tepat, merayakan ulang tahun dengan pesta atau menjadikan momen ulang tahun sebagai refleksi diri?. Saat ulang tahun tak ada salahnya dirayakan dengan pesta dan hidangan makanan-makanan yang lezat. Boleh-boleh saja, bila niat yang melandasinya benar. Bukan semata pesta hura-hura. Bahkan menjadi hal yang mulia, misalnya bila yang dihadirkan adalah anak-anak yatim yang tujuannya adalah menggembirakan mereka. Tapi yang harus diingat, ihwal ulang tahun harus bisa dimanfaatkan sebagai sarana refleksi diri. Bertambahnya usia bisa dijadikan sebagai momentum proses perenungan supaya hari yang akan datang menjadi lebih baik lagi. 

Tidak pernah ada yang tahu rahasia umur seseorang. Semua orang berharap dipanjangkan umurnya. Namun banyak yang lupa, sebenarnya yang paling tepat adalah memohon keberkahan umur. Usia panjang namun tidak diisi dengan amal kebaikan dan keindahan akhlaq justru membawa mala petaka. Oh ya…, idealnya memang diberi umur panjang, awet muda dan sehat, hidupnya diisi dengan ketaatan, dan kelak di penghujung usia menghadap Allah dengan predikat Husnul Khotimah…. Aminnn.

 

 

Kamis, 08 Oktober 2020

HARGA SEBUAH KESUKSESAN



Setiap olahragawan yang hebat, pelukis, penari, seniman, penulis, petani semuanya pasti memiliki kesakitan, kesedihan, dan bekas luka yang hebat. Itu semua tidak terlihat saat kita hanya melihat suksesnya saja. Padahal semua kesuksesan memiliki harga yang harus dibayar. Itulah kutipan ungkapan dari seorang pengusaha yang sukses dalam bisnisnya. Menurut dia kesuksesan hanya bisa diraih dengan usaha yang sangat keras. Kesuksesan tidak begitu saja turun dari langit seperti hujan. Pada hakikatnya harga sebuah kesuksesan adalah pengorbanan. Kita harus mau mengorbankan kenyamanan dan diganti dengan kerja keras, kegagalan, luka, keringat dan air mata serta waktu yang diberikan untuk mencapai kesuksesan.

Definisi dan ukuran sukses tentu berbeda-beda. Tapi satu hal yang sama, kesuksesan adalah harapan setiap orang yang hidup di dunia ini. Seorang petani mengukur sukses dari sudut pandang yang sederhana. Sukses itu ketika hasil panen yang diperoleh bagus sesuai harapannya. Bagi olahragawan profesional, sukses baginya ketika mampu menorehkan prestasi tertinggi dalam karir olah raganya. Bagi penulis, paradigma sukses tentu berbeda lagi. Sudah pasti ada penulis yang memiliki cita-cita besar dalam menulis. Sukses baginya bila mampu membuat karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Atau ada sebagian penulis yang menganggap menulis baginya adalah bagian dari kehidupan. Artinya ketika dia sudah bisa menulis menurutnya sudah sukses. Dia tidak begitu peduli apakah tulisannya akan mampu memberikan perubahan besar atau tidak. Baginya bisa menulis merupakan anugerah yang besar dalam  kehidupan yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Setiap manusia mempunyai potensi dan talenta yang dianugerahkan kepada dirinya sebagai penunjang untuk menggapai sebuah kesuksesan. Persoalannya adalah tidak semua orang menyadari hal tersebut. Bagi mereka yang sadar bahwa mereka bisa berhasil, mereka mampu merubah kehidupannya dengan bekerja keras, pantang menyerah dan konsisten pada apa yang ia kerjakan, hingga akhirnya mereka memetik buah manis dari setiap langkah perjuangannya. Ketika seseorang telah memiliki keinginan kuat untuk merubah kehidupannya lebih baik, maka pasti dia akan melakukan dengan memulai membuat perencanaan, skema (rencana) yang tepat, dan mampu memanfaatkan dan menciptakan peluang, dan itu dilakukannya dengan kerja keras dan gigih.

Apabila kita pelajari perjalanan hidup orang-orang sukses, ada hal yang selalu sama. Orang yang sukses selalu melakukan kebiasaan-kebiasaan sukses. Orang yang sukses akan teguh berjuang melawan kerasnya kehidupan, melewati tantangan dan kegagalan yang dialami mereka hingga mencapai kesuksesan yang dicita-citakannya. Sikap yang ulet, bekerja keras, akan selalu mereka terapkan dalam kehidupan. Mereka akan berjuang dengan semaksimal mungkin dengan berbekal ilmu dan pengalaman ketika mereka akan menggapai kesuksesan, dan itulah kekuatan jiwa yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Mereka biasanya akan tenggelam dalam kesibukan sampai mengabaikan kantuk, letih dan bahkan sering tidak sadar waktu.

Jalan menuju kesuksesan bisa jadi akan berbeda. Namun setiap jalan yang ditempuh memiliki satu kesamaan, pijakan disiplin. Disiplin adalah kunci kesuksesan. Kedisiplinan membuat kita mampu mengatur waktu dan mematuhi aturan yang kita buat sendiri. Memang, akan tidak mudah mematuhi peraturan yang kita buat sendiri. Namun, ketika seseorang memiliki kekuatan keinginan meraih kesuksesan akan membuatnya memiliki motivasi dalam dirinya (motivasi internal). Motivasi yang kuat biasanya akan membuat kita selalu menghargai waktu.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...