Senin, 14 Desember 2020

MASIH MENULIS?


Bagaimana khabarnya, masih tetap menulis?. Sepertinya banyak yang aktivitas menulisnya mulai timbul tenggelam. Sesekali masih menulis, dan berikutnya mengambil jeda lama lagi. Ya, biasanya bergantung kesibukan, suasana hati, atau memang kebetulan sedang tidak ingin menulis.

Seperti yang kita ketahui, menulis memerlukan kesinambungan. Menulis tidak dilakukan insidental. Atau bila sedang ada hasrat menulis saja. Tapi menulis harus terus dilakukan sehingga menulis menjadi aktivitas rutin harian. Namun itu melakukan itu biasaanya kita belum mampu. Umumnya kita selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan. Dan selalu menyimpan niat akan menulis bila sudah tidak sibuk. Namun, bila menunggu memiliki waktu longgar baru menulis, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Giliran memiliki waktu luang yang terpikirkan adalah aktivitas hiburan atau santai-santai untuk menghilangkan penatnya badan.

Perlu strategi menulis yang efektif. Menulis sebenarnya bisa di mana saja. Tidak perlu menunggu ketika sedang banyak waktu dan saat nganggur di rumah. Menulis bisa dilakukan pada saat duduk antri di teller bank, pada saat menunggu kedatangan teman, atau bahkan di saat istirahat sebentar di antara aktivitas keseharian yang padat.

Dan kita tidak perlu repot atau bingung teknisnya bagaimana. Smartphone menjadi solusinya. Alat yang satu ini sebenarnya bisa kita andalkan setiap waktu. Ketik saja apa yang mau ditulis, dapat berapa kalimat, baris atau paragraf, dan nanti semua tinggal proses editing di PC maupun laptop.

Akan lebih mudah melengkapi sesuatu yang tampak belum sempurna daripada menyusun sesuatu yang benar-benar baru. Melengkapi ide-ide kita yang masih “berantakan” rasanya lebih cepat daripada kita mencari-cari ide untuk menulis. Satu kata akan menarik kata yang lain, satu kalimat akan membawa kalimat-kalimat yang lain. Begitulah asyiknya dunia menulis, sampai tidak terasa satu judul artikel dapat diselesaikan. Yang terpenting kita memulai, dan yakinlah pasti akan selesai.

 

 

Sabtu, 12 Desember 2020

NIKMAT YANG SERING TERLUPA



“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

Dua nikmat besar yang diberikan Allah kepada umumnya manusia, namun sayangnya kita sering lupa dengan dua nikmat tersebut. Nikmat kesehatan dan memiliki waktu luang. Kita baru menyadari kalau sehat adalah nikmat Allah yang besar, tatkala kita sedang mendapat musibah sakit. Sakit mengingatkan kita bahwa sehat itu tidak ternilai. Seandainya sehat bisa dibeli tentu orang-orang kaya akan membeli sehat dan tidak mau merasakan sakit. Kenyataannya, sehat tidak pernah bisa dibeli dengan banyaknya uang yang dimiliki.

Yang kedua adalah nikmat memiliki waktu longgar. Dan ini juga nikmat yang sering dilupakan orang. Memiliki waktu luang sama halnya memiliki rezeki yang besar. Sayangnya kita sering mengabaikan waktu luang. Kalau saja kita bisa jujur, pasti kita akan mengakui waktu adalah anugerah besar dari ilahi. Bukan harta melimpah, jabatan atau kedudukan yang tinggi atau segala fasilitas mewah yang dimiliki. Karena semua yang gemerlap dalam pandangan manusia itu hanyalah permainan "semu" yang justru sering melalaikan. Penyesalan terbesar setiap hamba yang meninggalkan semesta ini adalah waktu yang telah disia-siakannya. Seandainya dia bisa kembali walau sekejap saja, maka akan ia gunakan waktu untuk berbuat yang terbaik dalam hidupnya.

Waktu memang serasa berjalan cepat. Meski sebenarnya itu hanya perasaan kita saja. Terasa belum lama menjalani masa-masa belia. Namun kini sudah terlewat dunia jiwa penuh gelora itu, masa muda. Ketika waktu telah membawa kita menjelang senja, baru dirasa banyak yang belum bisa kita kerjakan. Saatnya sekarang menyadari banyak waktu yang sudah terlewat dengan percuma. Dari jendela usia tua kita bisa melihat masa muda yang penuh pesona. Dunia penuh warna yang kini tinggal kenangan yang tersisa di hati. Kenangan yang membuat kita tersenyum atau menangis bila mengingatnya.

Tersenyum mengingat masa muda yang sudah dilalui dengan penuh perjuangan. Giat dan semangat dalam “tholabul ilmi” demi kehidupan yang mulia dunia dan akhirat. Dan akan menangis, sedih dan menyesal bila masa muda habis dengan sia-sia. Usia muda hanya diisi dengan kesenangan duniawi. Pergaulan yang penuh dengan kebebasan dan segala gemerlapnya. Dan semua tidak pernah akan terulang walau sekejap sekalipun. Selagi masih ada waktu luang dan kesehatan, tidak semestinya kita melupakan. Karena dua hal tersebut tidak selamanya terkumpul dalam sebuah kesempatan.

 

Rabu, 09 Desember 2020

BIRRUL WALIDAIN


Menjalani hari-hari mendampingi orang tua yang sedang sakit, menyadarkan diri banyak hal yang selama ini terlupa. Mereka (orang tua kita) sebenarnya ingin dekat. Namun sebaliknya kita banyak urusan yang membuat sibuk sehingga jarang punya waktu luang untuk bersama. Yang dikhawatirkan orang tua adalah menjalani hidup yang sunyi, sepi.

Ternyata kini baru mengerti. Di masa tua mereka, tak banyak yang diharapkan. Hanya meluangkan waktu, duduk dan meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya. Menengoknya dan mengajaknya bicara dengan hangat. Sebenarnya mereka tidak mengharap pemberian kita, tapi lebih ke perhatian kita. Hati mereka senang mendengar kisah keberhasilanmu, maka jangan ceritakan segala yang pahit yang kau alami. Karena mereka akan merasakan juga sakitnya, sama seperti yang kau rasakan, atau bahkan lebih dari itu. Cukuplah beban berat yang mereka tanggung selama ini, tak perlu ditambah lagi.

Perbuatan baik kita pada orang tua hanyalah butiran debu dibanding pengorbanan yang telah mereka berikan. Memang tidak tepat istilah membalas kebaikan orang tua, yang lebih relevan adalah berbhakti kepada kedua orang. Karena selamanya kita tidak pernah bisa membalas orang tua.

Bagaimana kita merasa bisa membalas, hanya dengan sedikit menyenangkannya. Sementara tetesan keringat dan air mata telah tertumpah demi merawat kita kecil dulu. Bagaimana bisa kita mengira sebanding apa yang kita berikan, bila diukur dari segala hal yang telah ikhlas mereka korbankan.

Mereka bangga menyebut kita, menceritakan anak-anaknya di depan orang. Bila kita mampu sedikit saja kepedulian. Kesediaan kita di samping mereka akan memberi kebahagiaan. Apa yang lebih kita cari, selain ridha mereka. "Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua." (HR. Tirmidzi).

 

Minggu, 06 Desember 2020

MELIHAT SISI BAIKNYA



Cara pandang kita terhadap sesuatu menentukan sikap dan kebahagiaan kita. Bila kita hanya melihat sesuatu dari sisi negatif, maka pikiran kita pun akan merespon yang negatif pula. Sering, ketika dalam perjalanan kita kehujanan umumnya akan menggerutu. Kenapa hsrus hujan, perjalanan jadi tidak lancar, waktu menjadi terhambat, kedinginan atau keluhan yang lain. Padahal bila kita melihat hujan dari sisi yang lain, sisi positifnya, kita harus banyak bersyukur. Hujan menjadikan bumi yang mati hidup kembali, tanaman akan tumbuh subur kemudian berbuah dan memberi manfaat bagi manusia. Hujan menetralisir udara yang tercemar sehingga menjadi segar menyehatkan.

Ketika sakit kita juga sering mengeluh. Sakit menjadikan kita tidak bisa beraktivitas seperti biasa, jenuh karena tidak bisa kemana-mana, hilang kelezatan makan dan minum, dan keluhan berat yang lain. Coba bila kita memandang sakit dari sisi yang lain. Sakit mengangkat sebagian dosa besar kita. Dosa yang mungkin belum bisa terhapus oleh taubat kita. Sakit menjadikan kita insaf dan intropeksi diri. Sakit sering menjadi sebab orang kembali kepada jalan yang lurus. Jalan yang tidak pernah ditemukan ketika masa sehat dulu.

Pernah mengeluh banyak pekerjaan? Pasti sering. Pekerjaan begitu banyak, seakan-akan tidak pernah habis-habisnya. Banyak urusan tidak tuntas bila kita tidak ambil bagian. Lelah memang. Tapi bila kita melihat dari sisi positifnya, kita tak perlu banyak berkeluh kesah. Banyaknya pekerjaan yang menunggu kita menandakan kita dibutuhkan banyak orang. Kehadiran kita membawa manfaat terselenggaranya banyak urusan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Pernah tersinggung atau marah dengan orang yang berkata kasar atau tidak sopan tetrhadap kita? Pernah tentunya, dan itu manusiawi. Sebagai insan beradab kita tentu mengharapkan respek dalam pergaulan. Namun tak jarang kita mendapatkan perlakuan yang sebaliknya, sikap buruk dari orang lain. Banyak orang berbuat salah karena kurangnya ilmu dan adab. Dan seharusnya tak perlu  semua itu membuat sedih. Dari sudut pandang yang lain kita tetap bisa mengambil hikmahnya. Perlakuan buruk orang menjadi batu ujian kesabaran kita. Bila kita merespon dengan sikap yang serupa, berarti level kita masih setingkat dengan orang yang perilakunya tidak terpuji. Pelajaran yang lain adalah sarana melatih jiwa besar untuk bisa memaafkan kesalahan orang.

Adakalanya merasa rezeki sempit. Hidup dalam kesusahan dan banyak masalah. Masih saja kita bisa mencoba belajar memandang segala macam problem dari sudut pandang yang berbeda. Segala permasalahan yang sulit diuraikan bagai benang kusut, sejatinya adalah pendidikan jiwa untuk mencapai maqom tawakkal, ikhlas dan ridha. Banyak orang yang lupa diri karena hidupnya penuh dengan kemudahan. Ujian rezeki yang berlimpah menjadikan ia sombong. Merasa semua itu adalah hasil kerja keras dan kepandaiannya. Dan banyak jumlahnya, kekurangan dan keterbatasan menjadikan seseorang berserah diri dan tawakkal pada segala ketentuan dari yang Mahakuasa.

 

Jumat, 04 Desember 2020

(MASIH) SEMANGAT MENULIS


“Utamakan selamat” begitu motto di jalan raya. Kalimat itu Sering kita jumpai ditulis di bak truk bagian belakang. Pesannya sangat jelas, keselamatan menjadi prioritas ketika berkendara di jalan raya. Percuma kita mengutamakan benar jika akibatnya adalah celaka. Lebih baik mengalah namun selamat, daripada mempertahankan prinsip benar di jalan raya namun berakibat fatal.

Sepertinya dalam aktivitas menulis mottonya hanya beda-beda tipis saja. “Utamakan menulis”. Abaikan kebingungan harus menulis apa. Ya, apa saja yang bisa ditulis, langsung eksekusi. Percuma punya ide bagus tapi tetap tersimpan di kepala, karena sekejap lalu akan hilang tak tersisa. Lebih baik segera menulis meskipun idenya biasa-biasa saja. Setiap kata yang tertulis akan menjadi jejak indah nantinya. Terus saja menulis. Tidak peduli apa yang kita tulis adalah yang penting atau tidak. Karena yang pasti penting adalah tetap menulis. Sesuatu yang sederhana menjadi istimewa karena ditulis.

Memang menjaga semangat menulis tidak mudah. Banyak yang belajar menulis akhirnya berhenti karena merasa tidak mendapat “apa-apa”. Belajar menulis tidak bisa mendatangkan uang, penghormatan atau keuntungan materi yang lain. Tapi belajar pasti mendatangkan kepuasan hati. Kita anggap saja sebuah investasi panjang. Dan pada masanya kita akan mengerti buah apa yang bisa dipetik dari proses belajar giat hari ini.

Gembiralah terus menulis, karena bisa menulis itu sebuah anugerah. Dan kenyataannya tidak banyak yang mau melakukannya meskipun banyak yang mampu. Biar saja kita menjadi makhluk yang “langka” di tengah-tengah kumpulannya. Setidaknya kita sudah berusaha dan  berbuat yang terbaik, tidak semata-mata mahir mengkritik.

Tak ada yang kekal di dunia fana ini. Pada akhirnya kita akan berhenti menulis juga. Ya, tapi kita berhenti setelah banyak gagasan yang kita sampaikan. Kita berhenti menulis ketika kumpulan pendapat-pendapat telah kita curahkan. Kita berhenti karena semua ide telah kita tuangkan dalam puluhan, ratusan atau bahkan ribuan halaman buku kita. Sehingga, kalaulah semua harus berhenti tiada sesal yang akan kita rasakan.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...