Senin, 21 Desember 2020

MENGHADAPI MASALAH



Hidup manusia sudah pasti akrab dengan berbagai permasalahan. Sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan lagi, kehidupan dan segala permasalahannya. Dan sepertinya justru masalah yang menjadikan hidup kita sempurna. Ibarat samudera yang luas, terkadang badai menerjang dan gelombang menggunung. Di saat yang lain semua menjadi begitu tenang. Ketika masalah sudah datang, acapkali bertubi-tubi menimpa kita. Bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Satu masalah belum terselesaikan, sudah datang masalah baru yang lebih berat lagi.

Tidak mungkin kita akan berlari dan menghindar dari masalah. Seumur hidup kita selamanya akan keluar dan masuk dari satu masalah ke masalah yang lain. Menghadapi permasalahan kecil maupun yang kita anggap besar. Meskipun pada hakikatnya semua masalah harus kita pandang sama. Karena perkara yang kecil akan menjadi besar bila kita salah dalam menyikapinya. Dan perkara besar menjadi kecil ketika kita tepat dalam menghadapinya.

Paribasan kriwikan dadi grojokan. Istilah yang menggambarkan masalah kecil yang disepelakan akhirnya menjadi masalah besar yang sulit dipecahkan. Siapa pun yang tidak menganggap serius masalah-masalah kecil tidak bisa dipercaya dalam masalah besar juga, demikian nasihat para bijak. Pentingnya kita menyelesaikan perkara yang kecil sebelum menjadi besar dan sulit diselesaikan.

Yang menjadi pembeda ketika menghadapi masalah adalah cara menyelsaikannya. Terkadang ada orang yang ketika menghadapi masalah maunya segera diselesaikan. Dia tidak ingin menunda-nunda untuk lepas dari masalah yang membelitnya. Tentu karakter seperti inilah yang paling baik. Menuntaskan sebuah masalah sebelum menjadi semakin besar dan semakin rumit. Kalau diumpamakan sebuah penyakit, harus segera diobati sebelum menjadi parah dan terjadi komplikasi.

Kesuksesan, kegagalan, bahagia dan masalah adalah bagian dari hidup kita.Cara menghadapi masalah hidup yang pasti adalah menerima setiap keadaan yang terjadi. Masalah merupakan proses dinamis hidup. Itu semua adalah bagian dari pendidikan kedewasaan seseorang. Jalan kita melatih kesabaran, ketenangan dan jiwa yang bijaksana. Seseorang akan belajar melalui pengalaman ketika menghadapi berbagai permasalahan dalam hidupnya. Dan semuanya menjadi begitu berarti dalam setiap langkah kemajuan yang ingin diraihnya.

 

 

 

 

Minggu, 20 Desember 2020

BUDAYA “JAGONGAN”



Dalam sebuah tayangan sinema elektronika (sinetron) di sebuah stasiun tv nasional, disajikan sebuah cerita keluarga. Salah satu bagian adegan ceritanya, terdapat sebuah gambaran yang menarik. Berlatar rumah bambu dengan penerangan lampu minyak. Di depan rumah ada sebuah dipan (tempat duduk) yang beralas tikar. Tampak empat orang duduk berbincang-bincang. Mereka adalah tetangga dekat rumah yang datang sekadar untuk berkunjung, berbicara ala kadarnya ditemani secangkir kopi dan suasana malam yang sepi.

Adegan dalam sinetron tadi menjadikan saya mengingat masa kecil dulu. Masih segar dalam ingatan, ketika kecil saya sering melihat orang tua mendapat kunjungan dari tetangga dekat rumah atau kerabat. Mereka datang tidak memiliki tujuan, hanya sekadar mengajak bicara, istilahnya kami dulu menyebut “jagongan”. Mungkin sekitar satu jam jagongan, selanjutnya mereka akan melanjutkan pekerjaannya. Ada kerinduan dengan semua itu. Mereka terasa akrab dan penuh nilai kekeluargaan.

Kini jagongan seakan sulit kita temui lagi di masyarakat. Orang telah sibuk dengan berbagai urusan. Masyarakat semakin menampakkan sikap individual, tidak peduli dengan urusan orang lain. Tidak ada waktu lagi untuk berinteraksi dengan tetangga, kerabat atau bahkan dengan keluarga serumah sudah semakin sedikit kesempatan untuk bertemu. Interaksi sosial secara langsung sudah cenderung diganti menjadi interaksi via media sosial. Padahal ada banyak peristiwa yang tidak bisa dikomunikasikan melalui media sosial, dan harus bertemu, bertatap muka langsung dan berkomunikasi secara lisan.

Jagongan adalah kearifan budaya masyarakat desa. Ini adalah media sosialisasi yang efektif dan memiliki banyak sisi positif. Jagongan merakit erat hubungan seseorang dengan orang-orang yang berada dalam lingkungannya. Jagongan adalah bagian dari kepedulian sosial. Dari sisi ajaran agama, jagongan adalah bentuk konkrit menjalin silaturrahim yang tanpa basa-basi.

Bertemu teman, kerabat, mitra kerja atau komunitas profesi kini lebih memilih di café atau rumah makan. Ini dipilih dengan alasan tempatnya nyaman, sambil menikmati makanan dan minuman dalam suasana yang santai. Tidak ada salahnya juga. Namun budaya ini tidak lebih baik dari tradisi jagongan masyarakat desa dulu. Budaya jagongan bila dipandang dari sudut ekonomi tentu lebih murah. Dari segi sosial, jagongan di rumah lebih mendekatkan dan menjadikan semakin erat sebuah hubungan, baik dengan teman, kerabat maupun dengan tetangga.

 

Sabtu, 19 Desember 2020

BAHAGIA ITU SEDERHANA



Apa yang dicari dalam hidup ini?. Jawabannya tentu akan beragam. Tapi bila kita sederhanakan semua jawaban tadi adalah mencari bahagia. Bahagia itu abstrak, namun begitu nyata dalam hidup kita. Segala macam tingkah polah manusia, ujung-ujungnya adalah mencari bahagia. Manusia yang giat bekerja katanya biar hidupnya bahagia. Rajin belajar berbagai disiplin ilmu, tujuannya adalah hidup yang bahagia. Atau kelompok masyarakat yang terjerumus dalam dunia hitam menurutkan nafsunya, katanya mereka mencari kebahagiaan.

Seorang pengusaha yang hidupnya penuh dengan kesibukan mengurus segala macam bisnis, sebenarnya ia ingin mencapai bahagia. Atau petani kecil dengan sepetak tanahnya, tujuan hidupnya juga sama, menggapai hidup yang bahagia. Seperti sebuah untaian kata penuh makna, “Ingatlah kebahagiaan itu tidak bergantung pada siapa Anda atau apa yang Anda miliki; kebahagiaan hanya bergantung pada apa yang Anda pikirkan”.

Karena bahagia letaknya di hati, maka setiap yang punya hati, punya rasa pasti akan bisa mengecap bahagia. Bahagia bukan monopoli mereka yang berlimpah harta kekayaan. Bukan pula hanya dimiliki mereka yang punya kekuasaan. Bahagia milik setiap insan yang hatinya penuh syukur atas karunia yang Mahakuasa. Dan itulah keadilan Allah. Kebahagiaan diletakkan dalam setiap hati hambanya. Kelapangan dan kesempitan  hati sering kali tidak ada hubungan dengan sedikit atau banyaknya materi yang dimiliki.

Bahagia jangan diukur pula karena memiliki atau tidak memiliki sesuatu. Karena sesuatu itu indah sebelum menjadi milik kita, dan akan menjadi biasa saja bila bila sudah kita miliki. Dan sudah pasti, bila bahagia diukur karena kepemilikan, banyak orang selamanya sulit mencapai bahagia. Karena sifat manusia selalu  kurang. Sudah memiliki satu, mengharap yang kedua. Sudah mempunyai dua tertarik dengan yang ketiga dan begitu seterusnya.

Bahagia itu sederhana, meski banyak orang yang sulit mencapainya. Kunci bahagia adalah mensyukuri yang sudah ada dan tidak mengejar sesuatu yang belum dimiliki. Misalnya, ketika di piring kita hanya ada tempe goreng dan nasi putih, syukuri karena itulah rezeki yang diberikan kita hari ini. Tidak perlu kita membayangkan makanan mewah di restoran, sehingga kita akan merasa hidup yang sempit. Ya, hanya itu rumus bahagia. Dan kita sudah memiliki pemahaman semua tentang itu. Namun hanya sedikit dari kita yang mampu mengamalkannya. Karena sebenarnya akal kita bisa menerima konsep bahwa bahagia itu sederhana, sementara hati kita terus berontak dengan keadaan yang ada.

 

Jumat, 18 Desember 2020

MEMBANGUN SEMANGAT MENULIS


Kemana semangat menulis itu?. Dulu, pada awal grup “Ma’arif Menulis” dibentuk, setiap hari grup diramaikan dengan banyak tulisan. Seperti kita ketahui dalam satu hari pernah mencapai hampir 20 tulisan. Kini keadaannya sudah jauh berbeda. Hari-hari di grup menulis semakin sepi.  Memang satu dua tulisan masih diupload. Tapi kini hasrat menulis yang dulu pernah menggelora seakan lenyap tidak berbekas.

Semangat memang sedang menurun, itu yang terjadi saat ini. Sebenarnya tidak ada yang salah. Dalam banyak hal kita juga biasa mengalami pasang dan surut semangat. Yang menjadi masalah bila semangat itu terus turun tak kunjung naik. Apakah sudah bosan menulis?. Bisa jadi. Menulis menjadi aktivitas yang membosankan, karena setiap hari dilakukan. Menulis tidak mendapat apa-apa, bahkan untuk sekadar apresiasi dari pembacanya pun tidak. Usaha yang dilakukan untuk menghasilkan sebuah tulisan tidaklah mudah.

Bagaimana ya, saya bisa menggambarkan grup menulis ini. Ibarat rumah, sebenarnya cukup besar dengan penghuni yang istimewa dengan berbagai karakter. Lebih dari lima puluh anggota grup keren ini. Tapi mungkin hanya sekitar separuh saja yang pernah menulis. Apakah yang belum menulis adalah mereka yang ikut membaca?. Sepertinya tidak juga, karena biasanya yang membaca tulisan di blog paling-paling sekitar 10-an orang saja. Kemudian peran anggota yang lain?. Mereka adalah simpatisan, para pecinta literasi meski belum memulai membuat karya.

Ketika semakin sedikit yang menulis, sepertinya harus dibangun lagi “konstruksi” belajar menulisnya dengan benar. Dan seandainya semua mau berkontribusi menulis meski tidak setiap hari, saya yakin grup ini akan semarak lagi. Akan terbangun lagi semangat yang kini memudar. Akan menjadi lucu bila grup menulis tetapi tidak ada lagi yang mau menulis. Mari sahabat-sahabat penaku, kita mulai kembali menulis. Ramaikan grup tercinta ini dengan ide-ide brilian, gagasan yang membangun, cerita-cerita inspiratif atau apapun yang ingin ditulis, tulis saja.

Yakinlah, tidak akan sia-sia semua buah pikiran kita. Jangan menjadi musuh diri sendiri. Menganggap apa yang kita tulis tidak berguna. Segera mulai, kapan lagi bila tidak sekarang. Tidak perlu menunggu memiliki waktu yang longgar, karena itu jarang terjadi. Tidak perlu menanti momen yang pas, karena hari ini adalah waktu yang tepat untuk memulai. Kita bisa saja terus menunda, namun percayalah waktu tidak pernah mau menunggu kita.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...