Selasa, 26 Januari 2021

WASPADA (BER) MEDIA SOSIAL



Banyak berita kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak sedikit teori dari pakar yang mengemukakan, semua terjadi karena situasi ekonomi masyarakat sedang sulit. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan, dan sulit mencari pekerjaan baru. Pengusaha pun tidak sedikit yang gulung tikar, karena iklim usaha yang benar-benar tidak mendukung saat ini. Penyediaan bahan baku yang sulit, produk yang tidak laku dipasarkan karena masyarakat turun daya belinya, atau faktor lain akibat pandemi yang masih melanda kita.

 

Bila dicermati, banyak juga kejahatan terjadi karena kecerobohan dalam menggunakan media sosial. Lalu apa hubungannya media sosial dengan tindak kejahatan?.. Orang-orang yang di hatinya sudah ada niat berbuat kejahatan entah itu mencuri, merampok atau membegal menggunakan berbagai cara untuk memuluskan tindak kejahatannya, salah satunya selalu mengintai media sosial calon korbannya.

Entah sudah berapa kali terjadi tindak pencurian karena pemilik rumah dalam akun facebooknya mengaploud photo-photo sedang liburan, jalan-jalan bersama keluarga. Juga pernah terjadi peristiwa serupa, pelaku kejahatan menyasar sebuah rumah karena tahu dari akun media sosial, pemilik rumah baru saja mendapat order besar dari bisnis onlinenya.

Dan, sudah tak terhitung lagi banyaknya pengguna media sosial yang diretas akunnya oleh orang yang tidak bertanggung-jawab. Kemudian menggunakan akun palsu tersebut untuk menjerat korban-korbannya.

Melihat dari pengalaman-pengalaman di atas, seyogiyanya kita waspada dalam menggunakan media sosial. Sesuatu yang kita unggah di media media sosial menjadi “milik” publik yang tidak bisa kita kontrol lagi. Tidak semua yang menjadi “folower” atau “penggemar” kita di media sosial adalah teman baik yang nyata. Bahkan banyak pengguna media sosial yang sejak awal memiliki niat jahat dan menggunakan media sosial sebagai sarananya.

 

 

 

 

 

 

Senin, 25 Januari 2021

MENIRU ETOS KERJA CARLOS SLIM

 



Carlos Slim Helu adalah seorang miliarder keturunan Libanon. Ayahnya bernama Julian Slim imigran dari Libanon yang tinggal di Meksiko. Carlos Slim Helu adalah pemimpin utama dan CEO perusahaan telekomunikasi. Pada tahun 2011, Slim dinobatkan oleh Forbes menjadi orang terkaya di dunia untuk kedua kali secara berturut-turut dengan kekayaan bersih berkisar US$74 miliar (sekitar 1.036 Triliun).

Kepiawaian Carlos Slim Helu dalam dunia usaha diperoleh dari didikan ayahnya Julian Slim. Dia selalu memberi teladan yang baik bagi putra-putrinya. Terutama dalam hal etos kerja. Ia mengajarkan nilai-nilai moral dan dedikasi kepada anak-anaknya saat bekerja. Baginya, bekerja bukan sekadar mencari untung sebanyak mungkin dan memenuhi target penjualan. Namun, yang lebih penting adalah mencintai pekerjaan yang dilakukan. Menurut Julian Slim dia sukses karena memiliki tiga hal, yaitu bakat, kerja keras, dan bekerja dengan sepenuh hati.

Bila dikaitkan dengan aktivitas menulis. Yang pertama kita harus mencintai kegiatan menulis. Semua yang dilandasi kecintaan akan dilakukan dengan sepenuh hati. Selanjutnya tinggal kita bertahan dan sabar dalam menulis. Banyak penulis yang belajar menulis menghadapi tantangan dengan konsitensi. Aktivitas menulis membutuhkan kesinambungan. Karena untuk terampil menulis dan tulisan menjadi bagus enak dibaca membutuhkan proses belajar yang lama. Tidak ada yang instan dalam menekuni dunia menulis. Membutuhkan jalan yang panjang dan kesabaran menjalani praktik belajar.

Menulis bukan untuk sehari, sebulan atau setahun. Menulis seharusnya dilakukan sepanjang kita mampu. Selama tangan kita masih bisa menggerakkan pena atau menekan tombol-tombol abjad keyboard dan selama pikiran kita masih jernih dan melahirkan gagasan. Khazanah ilmu dalam pikiran kita harus “dilahirkan” dalam lembaran-lembaran karya. Karena hanya dengan itu, gagasan akan memiliki arti.

Menulis itu unik. Dengan terus menulis, ide kita akan dinamis. Ibarat sumber yang diambil airnya terus menerus. Semakin diambil maka akan semakin jernih dan segar airnya. Sedangkan mata air yang tidak pernah diambil airnya menjadi sarang nyamuk dan tidak bagus untuk diminum airnya.

 

 

Minggu, 24 Januari 2021

MENULIS HARI INI



Hari ini cukup banyak teman-teman di grup “Ma’arif Menulis” yang menulis di blog. Tentu ini sangat menggembirakan. Sejak pagi hendak membuka laptop masih terasa berat, tapi begitu banyak teman yang sudah menulis semangat saya kembali tumbuh. Tentu saya tidak ingin ketinggalan menulis hari ini, karena membiasakan terus menulis itu penting menurut pandangan saya.

Lima paragraf atau sekitar 300 kata sebenarnya bukan suatu hal berat bila kita sudah punya komitmen terhadap diri sendiri. Walau tidak saya ingkari, ketika “mood” sedang tidak bagus, untuk menyelesaikan satu artikel kadang harus “memeras” isi otak terlebih dahulu. Di waktu yang lain, di saat perasaan sedang nyaman menulis terasa ringan saja. Tak perlu waktu yang lama, biasanya tulisan akan cepat selesai.

Bagaimana situasi yang dihadapi teman-teman menulis yang lain, mungkin tidak jauh berbeda dengan yang saya alami. Semua sedang berproses mencari model menulis yang diharapkan. Yang penting menulislah hari ini, inilah saatnya kita berkarya. Dalam rentang waktu di dunia yang tidak panjang ini, kita mendapatkan kesempatan untuk berkembang bersama-sama. Dengan menulis kita telah bertindak mulia dan nyata.

Hari-hari kemarin yang telah kita lewati sudah menjadi cerita. Hari esok yang akan menjelang masih bayang-bayang dalam angan. Tapi bila hari ini kita jalani dengan baik, setiap hari kemarin akan menjadi cerita indah, dan setiap hari esok menjadi bayang-bayang harapan. Jadi manfaatkan hari ini dengan tetap menulis setiap kisah kebaikan.

Tidak akan sia-sia setiap kata yang tersusun menjadi kalimat. Setiap kata dan kalimat akan memiliki arti pada waktunya nanti. Tugas kita hanya terus menghimpun dan menabung tulisan. Peran kita seperti petani yang terus menanam. Memang tidak selamanya apa yang ditanam akan bisa dipanen di kemudian hari. Tapi setidaknya sudah menanam, karena bagi yang menanam akan pantas bila dia memanen. Sementara bagi yang enggan menanam janganlah pernah berharap akan menikmati hasil panennya, karena itu sebuah kesia-siaan.

Selamat istirahat…..

 

 

Sabtu, 23 Januari 2021

DIARY GURU “NDESO “ Part 3

 



Pada tahun 2003 akhir, saya mulai masuk mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda. Pada waktu itu Ketua yayasan datang ke rumah meminta saya masuk membantu mengajar. Padahal, latar belakang pendidikan formal saya bukan jurusan pendidikan (guru). Tentu pada waktu itu tidak menjadi masalah, namanya juga guru bantu, apalagi di lembaga pendidikan swasta di bawah yayasan. Prinsipnya yang penting mau mengajar, urusan linier tidaknya ijazah itu bukan hal penting.

Sejak awal, kepala sekolah kami dulu selalu menyampaikan, menjadi guru harus dengan niat berjuang dan semata-mata sarana mengamalkan ilmu. Karena kalau memiliki niat “bekerja” pasti akan kecewa. Kala itu sepenuhnya anggaran pendidikan menjadi tanggunng jawab yayasan sebagai penyelenggara pendidikan. Belum ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) seperti saat ini. Tentu sekolah hanya bergantung dari SPP siswa yang nominalnya tidak seberapa besar. Praktis keuangan sekolah yang kecil itulah yang harus dibagi untuk seluruh kebutuhan sekolah termasuk memberi honor guru swasta. Masih ingat apa yang diucapkan Bapak Kepala Sekolah pada saat memberi honor, iki mung nggo tuku sabun dudu gaji.. (ini cuma untuk beli sabun bukan gaji).

Sebenarnya menjadi pendidik (guru), bagi saya bukan hal yang baru. Sejak di bangku madrasah aliyah kelas dua saya sudah mengajar mengaji anak-anak di TPQ. Hal yang sama ketika masih kuliah, saya juga aktif mengajar di TPQ. Pengalaman itulah yang membuat saya tidak kaget ketika masuk ke Madrasah Ibtidaiyah. Sudah terbiasa dengan "iklim perjuangan" pada masa itu.

Jurusan sekolah yang memang bukan dunia pendidikan ternyata membuat saya "gagap" juga di tahun awal menjadi guru. Dan secara kebetulan saya langsung mengajar anak kelas enam yang relatif kritis dan punya kebiasaan banyak bertanya. Ihwal yang membuat saya belajar lagi. Sering saya bertanya kepada guru-guru senior untuk masalah yang tidak saya ketahui. Ini mungkin yang dimaksud hakikat mengajar adalah belajar. Menjadi guru dituntut selalu meningkatkan kemampuan diri dan sistem pembelajaran yang dinamis mengikuti perkembangan zaman. Aktivitas mengajar menjadikan ilmu semakin berkembang tidak sebaliknya, pelan-pelan menjadi hilang. Kalau diibaratkan dengan sebilah pisau bila lama tidak digunakakan akan berkarat, namun bila pisau sering diasah dan dipakai maka akan semakin tajam.

Mungkin sekitar dua tahun mengajar, perubahan besar terjadi pada sistem pendidikan kita. Seluruh lembaga pendidikan formal mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. Sebuah titik perubahan yang menjadikan sistem pendidikan kita mengalami progres yang menggembirakan.

 

 

Jumat, 22 Januari 2021

DILEMA PENULIS PEMULA



Bisa menulis, menyampaikan gagasan dengan merdeka bagi saya adalah sebuah karunia Allah yang harus disyukuri. Apalagi menulis kemudian mampu menerbitkan buku, rasanya bahagia sekali. Saya rasa teman-teman penulis yang lain sependapat dengan saya.

Lega rasanya buku yang kedua sudah selesai ditulis, tinggal menunggu terbit. Buku yang saya beri judul “TENTANG MENULIS, Sebuah Catatan, Pengalaman dan Keteguhan Belajar”. Bisa menerbitkan buku meskipun bukan di penerbit mayor tentu impian setiap penulis. Rasanya tidak menjadi masalah dengan semua biaya yang harus dikeluarkan, karena semua itu tidak sebanding dengan rasa “plong” (lega) dalam hati.

Hari ini Prof. Naim memosting layout cover buku kedua saya di Grup Ma’arif Menulis. Dan bukan sekadar mengaploud, tapi juga membantu “promosi” untuk pemesanan buku saya. Rasanya senang dan bangga, tapi juga malu. Senang karena buku saya mendapat apresiasi dari beliau, sekaligus dipasarkan ke teman-teman di grup menulis. Malu karena saya tahu persis isinya belum sebagus covernya (he..he…). Untuk menulis rasanya sudah tidak terbelenggu rasa malu, tapi untuk urusan “menjual” buku sendiri, ini yang masih menjadi dilema. Masih kurang percaya diri.

Aktif menulis kemudian bisa menerbitkan buku, bagi penulis pemula seperti saya tentu orientasinya bukan semata mencari keuntungan (komersil). Bagi kawan penulis yang sudah menerbitkan buku pasti sudah memahami ini. Namun tidak mungkin juga kita menerbitkan buku hanya untuk dibaca sendiri. Tentu kita berharap karya yang sudah terbit mampu memberi “sedikit” manfaat bagi orang. Menularkan semangat menulis, dan yang terpenting ide, gagasan yang kita bangun sampai ke pembaca.

Tugas penulis di era sekarang juga mempromosikan karya sendiri dan juga karya teman, kata Prof.Naim dalam pesan WA-nya. Tepat sekali apa yang beliau sampaikan. Kalau kita meyakini apa yang kita tulis adalah sebuah kebaikan, tentu kita harus berusaha menyampaikan ke banyak orang. Point inilah yang seharusnya mengikis rasa ragu dan malu. Mengapa harus malu, karena yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang tercela. Justru itu adalah bagian dari ikhtiar menebar kebaikan.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...