Selasa, 02 Februari 2021

LI ZIQI, PUTRI DARI “NEGERI DONGENG”



Saya sudah lupa bagaimana dulu pertama kali "mengenal" Li Ziqi. Seorang Youtuber dari negeri tirai bambu. Lebih tepatnya dia tinggal di daerah terpencil Mianyang Provinsi Sichuan, Tiongkok. Sejak kecil Li Ziqi hidup bersama sang nenek. Tinggal di desa dan kehidupannya yang jauh dari kata modern. Channel yang sebagian besar kontennya adalah masak-memasak saat ini telah mempunyai lebih dari 14 juta subscriber. Sebenarnya saya bukan penggemar acara mengolah berbagai jenis masakan, tapi yang pasti penggemar makanan enak.

Li Ziqi merupakan sosok wanita yang tangguh dan pekerja keras. Li Ziqi memang beda dengan Youtuber (masak-memasak) yang lain. Selain memasak dia adalah wanita multitalenta yang luar biasa. Li Ziqi merancang sendiri pakaian yang ia kenakan. Pada waktu musim dingin Li Ziqi juga membuat jaket tebal untuk menghangatkan tubuhnya.

Li Ziqi sangat piawai berkebun segala macam buah dan sayuran, menganyam perabot dari bambu, menenun kain sampai menjahit baju bisa dia lakukan dengan sempurna. Dan yang luar biasa dia menggunakan alat-alat tradisonal untuk melakukan semua pekerjaannya itu. Video yang ia unggah juga menampilkan kesan kuno namun sangat bersahaja. Semua gaya hidup Li Ziqi bisa dibilang kuno dan masih sangat tradisional

Sisi yang paling menarik dari sosok Liziqi menurut saya adalah sisi edukasinya. Dia pandai memasak dan yang istimewa hampir semua bahannya dia peroleh dari kebun dan pekarangan sekitar rumahnya. Saya sering terpukau dengan alam desanya yang asri. Sungai jernih yang banyak ikan segarnya, lahan pertanian yang subur dengan bermacam sayuran dan buahnya. Alam perbukitan yang indah dengan hutan yang kaya dengan berbagai jenis tumbuhan. Satu yang paling membuat saya penasaran. Ketika musim salju, bagaimana ya rasanya..?

Melihat tempat tinggal Li Ziqi kadang membuat saya berhayal, bagaimana keindahan surga nanti. Ah, memang sudah pasti tak ada yang bisa menggambarkannya. Tapi melihat begitu indahnya alam desa di Tiongkok yang ibarat “cuilan surga” jatuh di bumi, seketika menjadikan saya takjub dengan alam ciptaan Allah yang begitu memesona. Perumpaan lainnya, seperti cerita indah dalam dunia dongeng yang mengisahkan alam artistik tempat tinggal para putri cantik. Atau, jangan-jangan Li Ziqi memang putri dari negeri dongeng yang masih tersisa di semesta alam ini..?

 

 

Senin, 01 Februari 2021

MELAWAN PERUBAHAN



Sebuah tayangan di Youtube menampilkan liputan sebuah desa yang terletak di Tasikmalaya Jawa Barat, Kampung Naga. Yang menarik, desa tersebut sampai hari ini tidak ada jaringan listriknya. Bukan karena sulitnya membuat jaringan listrik menuju ke sana, tapi karena ketua adat, tokoh masyarakat dan seluruh penduduk sepakat untuk tidak menerima jaringan listrik masuk ke kampungnya. Alasannya satu saja, yakni untuk mempertahankan adat dan budaya masyarakat.

Melihat Kampung Naga, membawa ingatan saya kembali ke masa kecil di tahun 90-an. Pada masa itu kampung kami juga belum teraliri listrik. Begitu damainya suasana pada waktu itu. Anak-anak belum mengenal hiburan televisi, game online, apalagi media sosial. Ya, memang semua belum ada, siaran televisi pun hanya TVRI. Itu pun di kampung hanya beberapa orang yang punya pesawat televisi hitam putih dengan sumber daya aki.

Semua mulai berubah drastis ketika listrik masuk ke kampung kami. Banyak orang yang mulai memiliki kulkas, tv warna dan perabot rumah tangga yang menggunakan daya listrik. Memang benar listrik membawa perubahan yang begitu banyak. Banyak pekerjaan yang tadinya sulit menjadi mudah dilakukan. Orang bekerja lebih praktis waktunya karena terbantu dengan alat-alat listrik. Pekerjaan berat menjadi terasa ringan dan mudah dilakukan, semua karena listrik.

Tapi semua sisi positif masuknya listrik di desa kami sejalan dengan sisi negatifnya. Anak-anak mulai "sibuk" dengan tayangan televisi. Stasiun tv yang tadinya hanya TVRI bertambah secara “beruntun” dengan stasiun tv swasta nasional yang lain. Otomatis acaranya semakin beragam dan banyak pilihannya. Kebiasaan mengaji di musholla setelah maghrib sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Sampai akhirnya benar-benar tidak ada lagi anak-anak kecil yang "sobo" musholla dan masjid. Semua bermula dari listrik masuk ke kampung kami.

Memang zaman pasti berubah, tak mungkin kita mampu membendung arus perubahan zaman. Sebenarnya yang kita harapkan, kemajuan zaman tidak merubah budaya luhur yang sudah terbangun dengan baik, perilaku individu dalam masyarakat, dan tata nilai mulia dalam masyarakat. Kita tetap bangga dengan pembangunan infrastruktur jembatan, jalan raya dan perumahan rakyat, tapi semua itu jangan sampai menggusur adat istiadat dan kebudayaan masyarakatnnya.

Semoga Kampung Naga di Tasikmalaya selamanya seperti itu. Biar suatu saat kita bisa berkunjung ke sana dan mengenang betapa tenangnya hidup bebas dari bisingnya “dunia digital”, meriahnya acara televisi yang sebenarnya justru merusak, kejamnya mulut-mulut orang yang saling menghina melalui akun media sosialnya. Karena bila semua telah berubah, kemana lagi kita bisa menghibur diri dan mengenang tempo dulu yang begitu indah.


 

 

Minggu, 31 Januari 2021

BENAR DI MATA ORANG



Benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain. Hal baik yang kita lakukan, belum pasti mendapat respon yang baik dari orang lain, bahkan bisa sebaliknya. Ketika kita belajar dermawan, akan ada orang yang menilai kita hidup boros, pamer, mencari muka atau mencari nama. Padahal niat kita memang benar-benar ikhlas beramal. Di saat kita hidup hemat, lain lagi komentar orang. Kita dianggap pelit, tidak peduli dengan orang lain atau hanya mementingkan urusan diri sendiri. Itulah contoh nyata dalam masyarakat, akan selalu ada orang yang menganggap kita keliru.

Akan selalu ada pandangan minor terhadap kebaikan yang kita lakukan. Dan realitasnya tidak ada orang yang benar mutlak dalam pandangan banyak orang. Mungkin ini karena sudut pandang yang selalu berbeda, atau hal tersebut terjadi karena pada dasarnya orang tadi memang tidak menyukai kita. Jadi, apapun yang kita kerjakan selalu salah dalam opininya.

Teringat kisah Lukman al-Hakim. Ketika ia mengajak putranya pergi ke pasar membawa seekor keledai. Ketika keledai dinaiki berdua, orang berkomentar tidak memiliki perasaan. Bagaimana seekor keledai dinaiki oleh dua orang. Pada saat Lukman Al-Hakim turun menuntun keledai, sementara anaknya tetap di atas keledai, orang-orang berkata, alangkah tidak beradabnya anak itu, dia naik keledai sementara ayahnya yang menuntun.

Akhirnya posisi dibalik, anaknya turun kemudian Lukman al-Hakim yang naik keledai, apa komentar orang?. Sungguh keterlaluan, seorang ayah tega naik keledai sedangkan anaknya disuruh menuntunnya. Yang terakhir, keledai dituntun berdua. Apakah orang-orang diam?. Tidak. Justru banyak yang menertawakan, kenapa bodoh sekali, memiliki keledai tapi tidak digunakan sebagai kendaraan. Malah dituntun berdua….?!

Menuruti komentar orang tidak akan pernah ada habisnya. Karena sudah pasti, benar menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Tapi selama kita sudah yakin dengan apa yang kita lakukan, tidak ada alasan gelisah dengan perkataan orang-orang. Seperti ungkapan orang tua dahulu, Ojo mung iso ndelok, (kendel alok). Jangan Cuma bisa melihat. Karena orang yang hanya melihat sering hanya bisa menyalahkan. Beraninya cuma mengolok-olok, padahal diri sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang selalu dia salahkan.

 Selamat istirahat…..

 


 


 

 

Sabtu, 30 Januari 2021

ADA ADAB DI ATAS ILMU

 



Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah kiriman (pesan WhatsApp) dari seorang teman. Sebuah postingan gambar yang menurut saya sangat ironis. Dalam photo tersebut, tampak beberapa orang berseragam dan bersepatu yang sedang duduk dalam sebuah ruang tunggu. Sementara ada seorang wanita tua yang berbaju lusuh dan bersandal jepit duduk di lantai karena tidak ada kursi yang kosong lagi. Sebuah gambaran yang benar-benar membuat hati trenyuh.

Ketika pendidikan hanya menitikberatkan pada kemampuan berpikir, hasilnya adalah manusia-manusia yang pandai secara akademik tapi rendah akhlaq dan kepekaan sosialnya. Dalam hal ini kita harus melihat keunggulan sistem pendidikan pesantren. Proses pendidikan ilmu agama pesantren yang lebih diutamakan kepada para santri adalah akhlaknya. Ilmu, dengan sendirinya akan mengikuti.

Ada perbedaan yang sangat terlihat bila kita melihat pendidikan ala pesantren dan pendidikan formal. Perbedaan itu adalah ta’dhim antara santri dengan pengasuhnya. Ta’dhim, menjadi salah satu metode khas pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Ta’dhim adalah penghormatan kepada guru. Ia tak hanya berhenti dalam bentuk penghormatan gestur tubuh tapi lebih luas dari itu, meliputi segala bentuk kerendahan hati seorang murid terhadap orang yang alim yang mendidiknya. Bahkan ta’dhim tidak hanya terbatas pada guru yang mengajarnya, tetapi juga terhadap seluruh keluarga gurunya.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak didiknya. secara moral guru ikut bertanggungjawab terhadap perilaku muridnya. Sebagaimana definisi guru  menurut Undang Undang No 14 Tahun 2005, Guru adalah  tenaga pendidik profesional di bidangnya yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, memberi pelatihan, memberi penilaian, dan mengadakan evaluasi kepada peserta didik yang menempuh pendidikannya sejak usia dini melalui jalur formal pemerintahan berupa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. 

Kembali pada rendahnya adab. Potret buruk perilaku anak didik setidaknya menjadi bahan refleksi bagi guru. Meski sebenarnya banyak hal yang menyebabkan semua itu. Bisa saja terjadi karena faktor dalam keluarga yang tidak mendapat keteladanan dan perhatian yang cukup, atau lingkungan masyarakat (tempat) yang tidak menunjung nilai-nilai kesopanan.

 


Jumat, 29 Januari 2021

“NGALAP” BERKAH



Menurut bahasa, berkah berasal dari bahasa Arab: barokah  artinya nikmat, Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (online) berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berharap kepada Allah agar segala aktivitas, rezeki dan semua nikmat-Nya penuh keberkahan. Karena yang terpenting dari pemberian Allah bukan semata banyaknya, namun berkahnya. Berapa banyak harta yang dimiliki bila tidak ada berkahnya maka akan habis percuma. Demikian pula ilmu yang dimiliki, meskipun banyak ilmu yang dikuasai tapi bila tidak ada barokahnya, maka ilmunya tidak ada gunanya. Ibarat pohon lebat tidak ada buah yang bisa diambil untuk dinikmati.

Dalam pendidikan Islam, konsep barokah selalu menyertai berbagai aktivitas dan hubungan seorang murid khususnya pada saat menimba ilmu pengetahuan. Dalam kalangan Pesantren kita juga mengenal istilah ngalap berkah, mencari berkah, atau tabarruk. Gambaran kongritnya, melakukan suatu amal tindakan dengan maksud untuk mendapatkan kebaikan, dengan makna mencari berkah (Thalab barokah). Sehingga kita bisa memahami di saat para santri berebut membersihkan kamar mandi Kiai (guru), berebut mencium tangan guru, menata sandal guru dan sebagainya. Sementara Konsep ini tidak dimiliki oleh sistem pendidikan kontemporer yang mengadopsi sistem pendidikan barat, dimana lebih mengandalkan kepada rasionalitas dan formalitas dalam proses pendidikan.

Dulu sering kami mendapat cerita-cerita unik laku santri dalam hal ngalap berkah sang Kiai. Seorang santri yang bertahun-tahun nyantri di pesantren, ternyata tidak disuruh mengaji oleh Kiainya. Tapi dia mendapat tugas mencarikan rumput (ngarit) untuk kuda peliharaan Kiai. Begitu sudah lama “mengabdi”, santri tersebut disuruh pulang oleh Kiainya. Dan yang luar biasa, sesampainya di kampung halamannya, santri tersebut menjadi seorang yang alim dan menguasai berbagai ilmu. Memang ini cerita yang tidak bisa ditiru sebagai metode pendidikan. Namun kita juga percaya bahwa semua mungkin terjadi atas kehendak-Nya.

Lalu bagaimana wajah pendidikan kita saat ini, terutama pendidikan formal (bukan pesantren). Masihkah ada nilai-nilai ngalap barokah, sebagai ikhtiar agar ilmu yang diperoleh benar-benar penuh berkah. Sepertinya sudah semakin hilang tradisi tersebut. Kita lebih sibuk dengan hal-hal yang lahiriah, sementara yang seharusnya kita utamakan justru dikesampingkan. Kita lebih sering bangga memiliki murid pandai, tapi tidak pernah memberi apresiasi murid yang memiliki adab (perilaku) yang bagus. Padahal di atas ilmu ada adab.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...