Minggu, 13 Juni 2021

Antara Confident dan Overconfident



 

Sudah pasti kita ingin memiliki rasa percaya diri atau Confident. Karena rasa percaya diri sangat dibutuhkan dalam lingkungan di mana pun kita berada. Misalnya saja dalam lingkungan pekerjaan memerlukan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan serta kemampuan presentasi. Bagi yang biasa berbicara di depan umum, rasa percaya diri tentu akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi sehingga bisa diterima banyak kalangan.

Pengertian percaya diri yang dimaksud adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa percaya dan mengakui akan kemampuan pribadinya dalam melakukan atau menyelesaikan sesuatu. Rasa percaya diri tersebut dinilai berdasarkan pendapat pribadi dan oleh diri sendiri. Rasa percaya diri bukan bentuk kesombongan.

Memiliki rasa percaya diri memiliki banyak manfaatnya. Seseorang yang kurang percaya diri akan sulit untuk melangkah maju. Inferior atau rasa minder dalam diri Anda akan menghambat kesuksesan kita. Namun perlu diingat bahwa rasa percaya diri yang berlebihan atau Overconfident sering berakibat buruk.

Biasanya sikap overconfident akan memiliki dampak negatif berkelanjutan seperti; menganggap rendah orang lain dan terlalu menganggap berlebih kemampuan yang dimilikinya. Dan ini adalah bumerang bagi siapa saja yang memiliki rasa overconfident.

Dalam dunia olah raga overconfident sering menjadikan alasan seseorang tampil kurang maksimal. Beberapa hari yang lalu, panggung One Pride MMA Indonesia menyuguhkan pertandingan yang luar biasa. Seorang juara Nasional melawan penantangnya yang kurang populer. Banyak pemgamat memprediksi sang juara akan mampu menang dengan mudah.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Juara bertahan harus takluk dari sang penantang. Sebenarnya jalannya pertandingan terlihat tidak seimbang. Sang juara pada awal ronde begitu mendominasi, seakan kemenangan hanya menunggu waktu. Tapi karena begitu overconfident semua berbalik seketika. Inilah penting, overconfident adalah musuh terbesar yang bersembunyi dalam diri sendiri.

 

Sabtu, 12 Juni 2021

Tidak Lelah Berproses



Menulis itu proses panjang seumur hidup. Jangan tidur sebelum membaca. Jangan lupa berkarya supaya ada warisan yang bertahan lama. (Dr.Ngainun Naim)

Membaca blog beliau (Prof.Naim) hari ini serasa saya mendapat dorongan semangat baru. Semangat untuk tetap menulis dan berkarya sepenuh kemampuan. Memang terkadang lelah juga terus menulis. Namun ketika melihat mereka yang tetap tegar menulis, serasa “terbakar” lagi spirit menulis dalam diri.

Membaca dan menulis memang tidak menarik bagi banyak orang, faktanya seperti itu. Dan seandainya kita membuat survey, sudah pasti penulis dan pembaca jumlahnya akan jauh lebih sedikit dari mereka yang tidak (suka) menulis dan membaca. Padahal kita meyakini semakin kita banyak membaca, maka semakin merangsang kita untuk banyak berpikir. Semakin banyak kita berpikir akan banyak hal yang bisa diputuskan dengan bijaksana.

Aktivitas membaca dan menulis membutuhkan energi. Berbeda dengan menonton, mendengarkan musik atau hiburan yang lain yang menyenangkan, tidak membutuhkan energi sama sekali. Atau bila disimpulkan, membaca dan menulis itu berat karena membutuhkan usaha dan upaya. Dan umumnya orang akan menghindari aktivitas yang melelahkan, lebih tertarik dengan segala aktivitas ringan dan menghibur.

Benar memang, aktivitas menulis sering melelahkan. Tapi bagi penulis, rasa lelah tadi sebenarnya terbayar dengan rasa puas yang melegakan hati. Ketika dia mampu menyelesaikan idenya dalam rangkaian utuh sebuah karya tulis, saat itu pula rasa lelah hilang seketika dan terganti dengan kepuasan batin. Begitu seterusnya, setiap proses akan berulang, lelah kemudian lega.

Ketika ditanya,”Bagaimana Anda menulis? Saya selalu menjawab, “Satu kata setiap saat,” dan jawabannya selalu diberhentikan. Tapi hanya itu saja. Kedengarannya terlalu sederhana untuk menjadi kenyataan, tetapi pertimbangkan Tembok Besar China, jika Anda mau: satu batu pada suatu waktu. Itu saja. Satu batu pada satu waktu. Stephen King

 

Jumat, 11 Juni 2021

MENYIAPKAN BEKAL



Mungkin sudah sering kita merencanakan bepergian jauh. Perjalanan untuk keperluan liburan, pekerjaan atau kepentingan lain. Sudah pasti yang menjadi perhatian kita ketika hendak bepergian adalah segala sesuatu yang harus kita bawa dalam perjalanan tersebut. Baju-baju ganti misalnya, obat-obatan yang diperlukan dalam perjalanan, handphone, uang cash hingga segala sesuatu yang dirasa akan diperlukan pada saat dalam perjalanan maupun ketika sudah sampai di tujuan.

Tentu dalam pikiran dipenuhi kecemasan bila barang bawaan tidak lengkap. Takut nanti bila mabuk perjalanan sementara tidak menyiapkan obat anti mabuk, takut bila hendak berkomunikasi handphone lupa dibawa, takut bila memerlukan uang sementara dalam dompet tidak ada persiapan yang cukup, dan ketakutan-ketakutan lain bila tidak menyiapkan bekal dengan teliti.

Begitu seriusnya kita menyiapkan semua keperluan, padahal perjalanan yang kita lakukan hanyalah bepergian biasa. Seandainya pun ada barang yang ketinggalan kita bisa mencari dalam perjalanan kita. Seandainya kita kehabisan uang, masih bisa kita meminta tolong kepada keluarga atau teman untuk transfer uang. Seandainya kita tidak tahu jalan, sangatlah mudah mencari petunjuk dari orang-orang kita temui.

Nah, bila kita begitu teliti dan penuh persiapan dalam rencana perjalanan dunia, bagaimana dengan persiapan perjalanan kita di akhirat nanti?. Apakah kita sudah khawatir bila bekal yang kita bawa belum seberapa jumlahnya, apakah kita sudah menyiapkan diri sepenuhnya karena di sana kita benar-benar hanya mengandalkan diri sendiri, tidak bisa lagi minta bantuan orang lain.

Perjalanan akhirat sangat panjang dan berat, tidak sebanding dengan perjalanan di dunia fana ini. Sementara kita tidak mungkin lagi kembali untuk menyiapkan keperluan (perbekalan) bila tidak mencukupi. Apa yang dibawa itulah yang menjadi milik kita. Bila bekal yang dibawa cukup, selamatlah diri. Namun  bila bekal yang dibawa tidak seberapa, bersiaplah menanggung sengsara. Untuk menjadi renungan, semoga kita selalu bersungguh-sungguh menyiapkan bekal perjalanan panjang yang abadi nanti.

 

 

Kamis, 10 Juni 2021

BAHAYA LISAN




Salah satu tanda kualitas keimanan seorang Muslim adalah mampu menjaga lisannya dari perkataan yang menimbukan dosa. Lisannya tidak sembarangan bertutur-kata, karena terpeleset lisan sering menimbulkan dampak yang lebih buruk dariapada terpeleset kaki. Bahkan Rasulullah pernah bersabda;


"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Saat ini sudah menjadi kelaziman orang berinteraksi dengan individu lain menggunakan media sosial, apakah itu Facebook, Tweeter, Instagram, WA mupun yang lainnya. Apa yang ditulis dalam platfom media sosial tersebut hukumnya sama dengan apa yang dikatakan melalui lisan. Bila yang disampaikan baik, tentu akan mendapatkan balasan yang baik (pahala) dari Allah. Namun bila media sosial isinya hanya keburukan seperti; ghibah yang menyebabkan pertengkaran, membuka rahasia orang lain, banyak komentar yang akan menimbulkan permusuhan antarkelompok dan golongan, menyebar berita bohong (hoaks) bahkan fitnah, senda gurau dengan memperolok-olok orang lain maka itu semua adalah bagian dari keburukan lisan.

Jangan pernah pernah menganggap remeh dengan dosa lisan. Karena Allah memberi peringatan keras tentang lisan yang tidak terjaga. Lisan yang pekerjaannya menebar keburukan dan selalu mencela orang lain. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman;  

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Karena media sosial adalah kepanjangan dari lisan seseorang, maka setiap akibat darinya sama dengan apa yang lisan katakan. Bahkan dengan kemampuan jangkauan yang begitu luas dampak buruknya tentu lebih besar dari perkataan lisan secara langsung. Tentu kita tidak ingin celaka hanya karena tidak bisa mengendalikan lisan. Sudah banyak contoh dalam kehidupan ini, orang tergelincir karena tidak mampu mengekang lisannya. Dan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (H.R. al-Bukhari).

Yang lebih utama adalah selalu meneliti keburukan diri sendiri daripada selalu mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Karena bila kita jujur akan selalu ada kekurangan dan keburukan kita. Dengan intropeksi akan selalu ada usaha untuk membenahi kekurangan dan tidak tertarik meneliti kekurangan orang lain. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Memang lidah atau lisan kita hanya kecil, namun bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar. Seperti para falsafah leluhur kita zaman dahulu “Ajining diri saka lathi Ajining raga saka busana”,  kehormatan diri atau harga diri bergantung dari tutur kata. Sikap luhur terbentuk karena pribadi yang selalu berhati-hati dalam berkata. Seseorang yang perkataannya baik, menepati janji, memili unggah-ungguh dan menghargai orang lain akan memiliki kehormatan dalam pandangan orang, sebaliknya tutur kata yang jelek dan kasar akan menjadikan orang kurang mendapat respek. Demikian pula kehormatan badan kita terletak dari pakaian yang dikenakan. Penampilan yang baik adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tampilan fisik yang bersih dan rapi secara umum adalah gambaran kepribadian yang baik.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...