Jumat, 25 Juni 2021

Sugesti



Mengutip sebuah cerita motivasi dari Bapak Ari Ginanjar. Alkisah seorang pekerja bernama Ruben yang sedang lembur bekerja memasukkan stok ikan tangkapan. Cold Storage ini seperti sebuah freezer raksasa, di dalamnya kita bisa menyimpan persediaan ikan ataupun daging selama berbulan-bulan. Saat Ruben sedang berada di dalam cold storage, tiba-tiba pintu tertutup dari luar. Ruben panik.. Ia terus berusaha mendorong dan menggedor-gedor pintu dari dalam. Namun Tidak ada satupun orang yang mendengar dan membukakan pintu.

Dirinya baru sadar bahwa saat ini ia sedang kerja lembur, artinya tidak ada orang lain di gudang saat itu selain dia. Ia mulai merasa kedinginan. Ruben tahu bahwa tidak ada orang yang bisa bertahan dalam dingin berjam-jam apalagi melewati temperatur minus. Seluruh kaki dan tangannya mulai terasa beku. Kepalanya mulai pusing. Setelah ia berjuang selama berjam-jam, masih tetap tidak ada seorang pun yang membukakan pintu.

Akhirnya Ruben memutuskan untuk menulis “diary” terakhirnya; detik-detik terakhir situasi sampai ia akhirnya tidak mampu lagi menahan dingin. Keesokan harinya, saat pekerja lain tiba, mereka menemukan Ruben telah meninggal dalam keadaan hipotermia. Di tangannya, pekerja lain menemukan secarik kertas pengalaman Ruben dari jam ke jam hingga akhirnya ia meninggal.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata cold storage ini sedang rusak! Tingkat dinginnya tidak melewati minus sama sekali. Para dokter pun kebingungan saat memeriksa jasad Ruben yang hipotermia. Ruben meninggal karena sugesti pemikirannya sendiri.

Kisah ini mungkin telah dialami oleh ribuan atau puluhan ribu orang dalam versi beda namun esensinya sama. Ada orang mengeluh, setiap kena air hujan ia pasti terserang flu. Kenapa? Karena dia sudah punya keyakinan dalam dirinya, bila terpapar air hujan tubuhnya pasti sakit. Dan, akhirnya semua terjadi sesuai dengan sugesti yang ada dalam dirinya.

 Bersambung....

 

 

Kamis, 24 Juni 2021

Pandemi dan “Gelombang” Depresi



Pandemi global yang telah melanda, kini memunculkan dampak sosial di beberapa negara. Banyak masyarakat dunia dilanda depresi akut disebabkan situasi sulit yang berkepanjangan. Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa sedih dan tertekan serta kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari.

Yang menarik, justru banyak negara-negara yang disebut sebagai negara maju, warganya justru terdampak gelombang depresi imbas pamdemi Covid-19 yang belum juga berakhir. Bahkan kasus depresi berujung bunuh diri meningkat tajam. Sebut saja Jepang. Menurut data sebuah media online; jumlah kematian karena bunuh diri di Jepang sepanjang bulan Januari–Oktober 2020 lebih tinggi dari jumlah kematian karena terpapar COVID-19.

Dalam data statistik tersebut, disebutkan bahwa jumlah orang yang meninggal akibat bunuh diri hingga bulan Oktober tahun lalu meningkat 3,7% menjadi 20.919 orang, sementara jumlah orang yang meninggal karena pandemi tercatat lebih rendah, yakni di angka 3.460 orang.

Kembali mengutip dari warta media digital, angka bunuh diri di Jepang sejak pandemi COVID-19 melanda negara tersebut mengalami lonjakan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun. Hal ini umumnya disebabkan karena kondisi perekonomian yang semakin sulit serta banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan sumber pemasukannya.

Rapuhnya mental dalam menghadapi situasi yang sulit, ternyata lebih mengerikan dari akibat serangan virus yang mematikan sekalipun. Ini adalah pembelajaran kita sebagai orang beriman. Tentu bisa disimpulkan, kesiapan mental dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, selalu ikhtiar dan tawakkal dan senantiasa bergantung hanya kepada Allah semata akan menjadikan daya tubuh meningkat.

 

Rabu, 23 Juni 2021

Euro 20 Dan Physical Distancing

 



Kompetisi Piala Eropa yang seharusnya sesuai jadwal diselenggarakan tahun kemarin, akhirnya baru dapat terlaksana sejak awal Juni tahun ini. Penundaan satu tahun terpaksa dipilih mengingat tahun kemarin dunia mengalami serangan awal pandemi global, penyebaran Virus Covid-19.

Meski dapat terlaksana, gelaran Euro 20 kali ini terasa dingin dan kurang greget. Demam sepak bola yang biasanya melanda dunia sebagai dampak kompetisi bergengsi Eropa tidak begitu terasa. Siaran langsung televisi yang direspon dengan nonton bareng pendukung setia juga tidak pernah kita jumpai. Café dan tempat nongkrong penggila sepak bola tidak terlihat beda dengan hari-hari biasa. Tentu kita tidak kaget dengan situasi ini. Semua karena pandemi yang masih belum berakhir.

Di saat kita menyambut dingin piala Eropa, banyak pihak yang terkejut dengan jalannya pertandingan dari Benua Biru Eropa. Bukan masalah ketatnya persaingan juara, tapi penonton yang hadir di setiap pertandingannya. Banyak yang tidak menduga, rupanya penyelenggara telah memberi izin para suporter untuk hadir langsung di stadion. Yang lebih mengejutkan, jumlah penonton ternyata sudah terlihat normal, bahkan memenuhi kuota yang ada. Ini dapat kita lihat pada saat pertandingan tuan rumah Hongaria melawan Portugal. Stadion Puskas Arena dipadati lebih dari 60.000 penonton.

Tak mau kalah dengan Stadion Puskas Arena di Hongaria, Stadion Wembley London Inggris telah mengumumkan bahwa pertandingan semifinal yang akan digelar nanti bisa dihadiri langsung penonton. Jatah kursi yang disiapkan sebanyak 60.000. Ini tentu berita gembira bagi para penggemar bola di sana.

“Meriahnya” Euro 20 di tengah pandemi, bisa jadi indikasi bahwa banyak negara sudah mampu “menjinakkan” virus Covid-19. Dengan syarat telah divaksin, banyak negara eropa telah memberi kelonggaran penduduknya untuk kembali meramaikan sepak bola secara langsung di stadion. Industri sepak bola seakan hidup kembali setelah hampir satu setengah tahun sekarat. Efek dominonya, sponsor kembali bergairah dan sepak bola akan kembali menunjukkan glamornya. Dan bagi penikmat bola bersiaplah, karena tahun depan akan hadir gelaran Piala Dunia (World Cup) pertama kali di Asia. Qatar menjadi tuan rumah pertama negara asia yang akan menggelar kompetisi terbesar dunia sepak bola.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...