Rabu, 01 September 2021

MEMBACA, SELANJUTNYA MENULIS



"Jika kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, menulislah." Begitu Kutipan dari Armin Martajasa. Membaca dan menulis memang dua aktivitas yang tak bis dipisahkan. Rajin membaca semestinya juga rajin menulis. Atau bila aktif menulis sudah pasti ia rajin membaca pula.

Kita menglami hidup di zaman berbeda. Berbeda dengan masa kecil dulu yang serba terbtas. Terbatas sumber bacaan, informasi yang belum secepat sekarang ini, dan berbagai hambatan yang membuat kita miskin wawasan. Membaca buku mungkin masih menjadi kebiasaan mereka yang mampu membelinya.

Semua jauh telah berubah. Hari ini kita telah mengalami keterbukaan informasi. Berita begitu cepat menyebar tanpa kita mampu mengekangnya. Berbagai media online mengupdate berita tiap jam, atau lebih cepat dari itu selama sehari semalam. Apa yang kita cari dengan mudah kita dapatkan tanpa harus bersusah–payah. Kurang apa lagi?

Bagi para penggemar membaca sepertinya tidak ada alasan lagi sulit mencari sumber bacaan. Tinggal mengatur waktu untuk menyalurkan hobinya dengan sepuasnya. Semua kemudahan ini seharusnya meningkatkan minat baca masyarakat. Membaca bukan lagi hobi mahal karena bisa dilakukan oleh siapapun dan di mana pun.

Di saat membaca sudah menjadi budaya, harapan selanjutnya adalah menumbuhkan budaya menulis. Membaca akan lebih sempurna bila dilanjutkan dengan menulis. Akan ada dialektika ilmiah dan perkembangan pemikiran yang dinamis. Karena menulis dan membaca bukan lagi hanya ada dalam lingkungan pendidikan formal, namun telah meluas dalam masyarakat kita.

 

 

 

Selasa, 31 Agustus 2021

MENJAGA KESEHATAN



Beberapa pekan yang lalu masyarakat banyak yang ramai-ramai borong vitamin, produk nutrisi tubuh bahkan oksigen. Alasannya untuk jaga-jaga. Tentu maksudnya khawatir bila kesehatan tubuhnya terganggu. Di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang khawatir berlebihan. Takut sakit.

Banyak apotek yang akhirnya membatasi penjualannya. Demi meratanya persediaan vitamin dan obat-obatan pembeli tidak bisa membeli dengan jumlah yang besar. Itupun pihak apotek masih kewalahan karena stok yang diterima dari distributor ternyata juga sangat banyak berkurang.

Apakah ada jaminan bila memiliki persediaan vitamin dan obat-obatan yang lengkap seseorang akan terhindar dari sakit?. Tentu jawabannya tidak. Mengutip nasihat seorang enterpreneur terkenal, “Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat. [Bob Sadino]

Segala usaha yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan sebenarnya hanya bentuk syukur karena telah dianugerahi sehat. Pada hakikatnya kita tidak bisa menghindari sakit. Sebaik apapun pola hidup dan pola makan tidak menjadikan Anda kebal terhadap penyakit.

Menjaga kesehatan adalah bentuk amanah dan tidak menyia-nyiakan kesehatan. Sebelum seseorang peduli dengan orang lain, kewajiban pertamanya adalah peduli dengan dirinya sendiri. Kalaupun pada waktunya Allah menimpakan musibah sakit, yang pasti bukan karena kesalahan kita yang tidak bisa menjaga kesehatan. Namun karena dalam sakit ada rahmat yang besar.

 

Senin, 30 Agustus 2021

ADAPTASI TATANAN DUNIA BARU



Seorang ilmuwan dunia terkemuka Stephen Hawking pernah mengatakan, “Kecerdasan adalah kemampuan untuk beradaptasi pada perubahan”. Dan sepertinya apa yang dia katakan hari ini terbukti. Siapa yang mampu beradaptasi dengan tatanan dan situasi baru dia yang akan eksis, sementara yang gagap dengan dunia baru perlahan akan tersisih.

Pandemi Covid-19 memang telah memberikan banyak perubahan dalam tatanan kehidupan sosial. Terutama dengan adanya anjuran stay at home atau bertahan diri di rumah. Terkait belajar, bekerja, dan beribadah di rumah diberlakukan oleh pemerintah.

Disadari atau tidak, perubahan tersebut telah melahirkan tatanan peradaban baru, tepatnya setelah kebijakan Perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat yang semakin berkembang tanpa mengenal waktu dan tempat menjadi penyebab utama digitalisasi mudah diterima warga dunia. Hal itu dikarenakan kemudahan akses internet memungkinkan setiap orang melakukan aktivitas online kapan saja dan di mana saja.

Era pandemi memaksa kita terbiasa dengan aktivitas online. Jenis pekerjaan yang berbasis internet lebih tahan dan kokoh dari terjangan badai pandemi. Sementara sektor-sektor yang belum terintegrasi dengan sistem jaringan, akan lebih terkena dampak. Kita ambil contoh, rumah makan yang telah bekerjasama dengan ojek online mampu bertahan (survive) dibanding dengan mereka yang masih tradisonal.

Dunia pendidikan ke depannya juga harus mengikuti tatanan baru yang serba digital. Kelak lembaga pendidikan tidak mengharuskan memiliki kampus yang besar, karena sistem pembelajarannya cukup online. Peserta didiknya pun tidak lagi terbatas pada letak geografis tertentu, karena di manapun berada akan bisa dijangkau dengan mudah.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...