Jumat, 10 September 2021

ANTUSIAS KEMBALI KE SEKOLAH



Lega rasanya. Begitu Pembelajaran Tatap Muka (PTM) diizinkan lagi semua menyambut dengan gembira. Mesjipun dalam format yang masih terbatas namun cukup membuat orang tua, guru dan peserta didik antusia menyambut kembali masuk sekolah secara resmi.

Sejak pemberlakuan pembelajaran dalam jaringan (daring) pertengahan Maret 2020 (tanggal 16 Maret), praktis anak-anak tidak bisa lagi belajar di bangku sekolah. Itu bukan rentang waktu yang pendek, hampir delapan belas bulan berlalu atau tepatnya 541 hari.

Tentu ada kerinduan yang mendalam. Siswa rindu dengan teman-teman mereka. Rindu pula dengan Bapak dan Ibu guru yang sekian lama hanya biasa menyapa dari dunia maya. Sementara guru-guru rindu suasana sekolah yang ramai dengan anak-anak. Kangen dengan aktivitas dalam kelas, dan sudah mulai “bosan” pula belajar dengan pola daring.

Hari masuk sekolah pertama kali rasanya memang luar biasa. Selain rasa rindu ada pula rasa haru serta ada yang lucu. Terharu karena setelah sekian lama menunggu tanpa ada kepastian, kini hari yang dinanti itu telah tiba. Dan sisi lucunya dengan perubahan fisik anak-anak didik kami yang begitu “menggembirakan”.

Dengan beban belajar siswa yang berkurang dan intensitas main yang kurang pula namun asupan gizi yang bertambah menjadikan tubuh nereka semakin bongsor. Wajar banyak wali murid yang meminta izin anaknya tidak menggunakan seragam sekolah. Karena banyak yang sudah tidak muat lagi. Sementara stok di toko juga sudah langka karena banyak yang berbelanja pasca diumumkannya PTMT.

Semua tentu tetap wajib disyukuri. Kesempatan masuk sekolah meskipun masih terbatas menjadikan semangat guru, siswa dan orang tua bangkit kembali. Pelan tapi pasti anak-anak akan kembali pulih minat belajarnya. Tak dapat kita ingkari sistem daring membuat semua mengalami kejenuhan. Dan semoga semua akan berjalan lebih baik lagi.

 

 

 

Kamis, 09 September 2021

BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM #2



Kita tidak harus selalu mengucapkan segala apa yang kita pikirkan. Namun kita harus selalu memikirkan segala yang akan kita ucapkan. Betapa banyak orang yang tidak pernah berpikir tentang apa yang akan diucapkannya dan apa yang telah diucapkannya.

Orang yang jatuh karena terpeleset kakinya kemungkinan badannya akan terluka. Mungkin hanya luka kecil yang mudah sembuh. Namun orang yang terpeleset lisannya dan perkataannya melukai orang lain, akibatnya “lukanya” lebih dalam. Bisa jadi tidak akan sembuh dalam sebulan, setahun atau bahkan seumur hidupnya.

Lisan itu bagai pedang, kita harus hati-hati dalam menggunakannya. Salah memakainya bisa berakibat fatal. Dan sekali kata telah diucapkan maka tak ada kesempatan lagi untuk menariknya.

Sekarang ini kita merasakan suasanya yang riuh-rendah dalam dunia medsos. Semua itu karena netizen tidak memiliki lagi kendali dengan lisannya. Bagai kuda liar yang yang tidak dikekang hingga bebas berlarian. Menebar berita bohong, komentar menimbulkan permusuhan, memancing permusuhan dan adu domba.

Selamatlah mereka yang lisannya berada di belakang hatinya. Mereka yang berpikir sekali atau dua kali sebelum berkata. Menimbang baik dan buruknya sebelum berbicara. Dan mereka yang menahan diri dari berkata buruk terhadap orang lain.

 

Rabu, 08 September 2021

BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM



Idealnya seorang muslim itu perkataannya selalu baik. Dari hati yang bersih semestinya akan keluar kata-kata yang pula. Perumpamaannya seperti lebah. Apa yang dimakan baik (nektar), dan apa yang dikeluarkan juga baik (madu).

Namun dalam keseharian kita, sudah pasti pernah bertuturkata yang tidak baik. Berkata kasar, mencela bahkan ghibah. Itu sebenarnya manusiawi karena kita memang manusia biasa yang banyak salah dan lupa.

Tidak hanya kata yang keluar dari lisan. Tapi apa yang diketik oleh jari-jemari kita berupa status di medsos maupun berkomentar. Bahasa jari sama dengan bahasa lisan. Bahkan bahasa jari lebih luas jangkauannya. Lebih banyak yang “mendengarmya” dan lebih dahsyat akibatnya.  

Orang keliru berkata itu biasa. Sebenarnya kesalahan terbesarnya bila tidak segera sadar dan memperbaiki diri. Ada satu waktu yang tepat untuk refleksi harian kita, yakni malam menjelang tidur. Muhasabah apa yang telah dikerjakan seharian tadi, apa saja yang telah dikatakan oleh lisan kita.

Bagai seorang siswa yang memeriksa lembar jawaban soal ujiannya. Dia bisa melihat mana jawaban-jawaban yang keliru, selanjutnya ia berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki semua kesalahannya. Begitu pula yang kita lakukan. Selalu memperbaiki cara berkata. Bila tidak bisa sebaiknya diam. Belajar menjadi menjadi pendengar yang baik. Tahan selalu lisan dan jari, dan berpikir baik dan buruknya sebelum berkata.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...