Selasa, 14 September 2021

Belajar Menulis Dengan Menulis



Apakah ada cara belajar menulis selain terus menulis?. Sepertinya tidak ada cara lain untuk bisa menulis kecuali terus membiasakan menulis. Jika kita menginginkan suatu keahlian yang belum pernah dimiliki dalam hidup, maka harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ada proses pengulangan yang disengaja dengan tujuan mencapai tujuan tertentu.

Kemampuan menulis yang baik tidak akan mungkin diraih dalam semalam saja. Tapi itu adalah bonus dari pengalaman panjangnya menulis. Bagi seorang penulis sejati, menulis adalah bagian dari aktivitas harian yang tidak akan ditinggalkannya. Berbeda dengan kita yang masih pemula.

Menulis selalu mendorong kita memproduksi gagasan-gagasan baru secara kreatif. Tentu menulis itu sangat dinamis. Kita tidak akan menulis sesuatu yang sama setiap hari. Karena itu sangat membosankan. Jangankan bagi pembaca, bagi penulis sendiri tentu akan merasakan hal yang sama.

Menulis membiasakan kita menjelaskan kembali temuan atau gagasan-gagasannya menjadi pemikiran yang lebih mudah dipahami. Kita akan berlatih memilih bahasa yang tepat. Sesuatu yang bagus bila disampaikan dengan bahasa yang sulit dimengerti, akibatnya pesan tidak bisa diterima dengan baik oleh pembaca.

Dan manfaat membiasakan menulis, kita selalu menyimpan atau mendokumentasikan gagasan. Hanya dengan tulisan, gagasan seseorang akan tersimpan awet dan menjadi cerita atau sejarah hidup bagi penulisnya. Selamat menulis…

 

 

 

Senin, 13 September 2021

BANYAK BERSYUKUR



Sebuah petuah untuk kita renungkan. Bersyukur itu sebanyak-banyaknya. Bersedih dan gembira itu seperlunya saja. Dengan bersyukur orang menjadi sabar. Sebaliknya bila hidup terus mengeluh maka sulit menggapai bahagia.

Bersyukur tidak harus menunggu Anda menjadi kaya. Karena justru dengan bersyukur hati akan menjadi kaya meski hidup dalam kesederhanaan. Bersyukur tidak perlu menanti bila kita telah berada dalam puncak kesuksesan. Karena bersyukur menjadikan jiwa kita ridha  dalam menjalani beratnya ujian hidup.

Dengan bersyukur tidak menjadikan nikmat berkurang. Bahkan semakin ditambah nikmat Allah yang telah diterima. Namun apabila enggan bersyukur, kita akan termasuk hamba yang kufur nikmat. Dan ancamannya adalah azab yang pedih.

Akan selalu ada nikmat yang wajib kita syukuri. Dalam harta, kesehatan jiwa dan raga, keluarga dan nikmat-nikmat lain yang tidak mungkin dihitung dengan rumus matematika. Jika seandainya semua nikmat itu pun tidak dimiliki, maka masih ada nikmat lainnya. Masih diberi kesempatan oleh Allah menatap indahnya mentari pagi seraya lisan yang tergerak mengucap tasbih dan memuji keagungan-Nya, itu pun nikmat yang besar.

Ya, kehidupan ini sebuah nikmat. Karena ketika masih ada kehidupan ada kesempatan untuk taat. Kesempatan sujud dan taubat. Di mana jutaan orang di bawah tanah sana seandainya diberi sebuah permintaan niscaya mereka ingin di kembalikan di dunia walau sesaat.

 

Minggu, 12 September 2021

MENULIS MENGABADIKAN KATA



Menulis mengajarimu bahwa yang terucap bisa saja kamu lupakan. Namun, yang kamu tuliskan akan selalu ada. Menulis bagai merekam peristiwa masa demi masa. Dan pada waktunya nanti akan menjadi rangkaian cerita panjang penuh kenangan.

Mengutip hasil sebuah riset. Dalam sehari rata-rata, secara umum manusia mengucapkan kata sebanyak 16.000 kata. Dengan menggunakan perekam suara digital selama delapan tahun, para periset di Arizona University mempelajari berapa banyak kata yang telah dilontarkan ratusan mahasiswa Amerika dan Meksiko selama beberapa hari. Para siswa membawa recorder setiap harinya dengan durasi rata-rata sekira 17 jam sehari.

Ini membuktikan bahwa pikiran manusia itu selalu “berjalan” tidak pernah diam. Akan selalu ada ide yang diproduksinya dan mengalir  melalui kata-kata. Kira hanya mencoba bagaimana ide-ide tadi tidak hanya keluar melalui kata semata. Namun diabadikan dalam tulisan.

Bila kita membuat hitungan sederhana dalam sehari kata-kata yang kita ucapkan bisa menjadi lima puluh halaman lebih. Mungkin kita tidak pernah menduga bisa sebanyak itu. Karena kenyataannya bila kita hendak menulis untuk membuat satu halaman saja membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Tentu melakukan semua ini memerlukan keuletan tekad. Kita hanya perlu melihat dan belajar bagaimana orang lain mampu melakukannya dengan baik. Yang membedakan kita dengan orang-orang yang “expert” di dunia tulis-menulis adalah ketabahan. Mereka mampu menjalani proses panjang sementara kita berhenti terlalu cepat.

 

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...