Minggu, 26 September 2021

KEHARUSAN BERUSAHA



Tak ada yang pasti dalam kehidupan dunia ini. Segala sesuatu yang dikhtiarkan manusia belum pasti akan tercapai. Belum pasti caleg yang memasang gambarnya di sepanjang jalan bahkan dipaku pula di batang pohon akan sukses terpilih. Tidak juga para pedagang yang membawa tumpukan barang jualan ke pasar akan laku terjual. Yang nyata bisa dilakukan manusia itu hanya sekadar usaha sebatas kemampuan yang ia miliki.

Tak ada yang pasti. Karena kita tak punya kemampuan membuat kepastian. Satu-satunya yang pasti bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Lalu, bila semua tak pasti mengapa kita perlu berusaha. Karena jika kita tidak pernah mencoba, bagaimana kita bisa tahu bahwa masih memiliki kesempatan.

Usaha kita hakikatnya seperti burung terbang dari sarangnya menuju tempat mencari makan. Kemudian sore hari kembali ke sarang dengan tembolok yang penuh. Dan ada kalanya burung-burung itu harus melintasi bumi dan air yang luas demi mencapai apa yang ia cari.

Dalam usaha ada  keyakinan. Dalam usaha ada  harapan. Meski tidak selamanya setiap usaha akan berbuah keberhasilan. Namun setidaknya ada kesungguhan dan kekuatan niat. Tidak selamanya yang manis itu hanya kesuksesan. Sering kali proses panjang meraih tujuan yang dicitakan itu juga terasa indah.

 

Sabtu, 25 September 2021

SENI MENYUNTING KATA #2



Ibarat sebuah pendakian, puncak gunungnya sebenarnya sudah kelihatan. Tinggal berapa tanjakan akan sampai ke tujuan. Tenaga memang sudah banyak berkurang tapi semangat semakin besar. Karena semua sudah sangat dekat tak mungkin lagi berbalik badan dan turun kembali.

Itu hanya ilustrasi. Saya menggambarkan proses menyelesaikan sebuah karya tulis (buku) itu bisa dikatakan berat laksana menaklukkan gunung. Tidak akan mungkin menyelesaikan sebuah buku dengan mengerjakannya sambil lalu, asal-asalan. Pasti seorang penulis akan berusaha melebihi batas kewajaran.

Sering di saat malam sudah setengah perputarannya, penulis belum akan berhenti karena masih ada saja yang harus diselesaikan. Menyunting naskah bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Di sana ada kesabaran dan kesediaan untuk mengulang dengan rasa mendalam setiap kata-kata.

Tapi inilah indahnya menulis. Mungkin banyak yang akan mengatakan itu sangat membosankan. Tapi bagi penulis justru itulah seninya menulis, seninya menyunting kata. Ada ujian kesabaran, ujian ketahanan duduk selama puluhan menit, atau bahkan berjam-jam.

Nanti di saat semua selesai dan buku sudah terbit, semua akan terbayar lunas. Lelah dan usaha yang melebihi kelaziman akan berganti dengan kelegaan yang besar. Ini bukan urusan materi. Karena lebih sering apa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan materi yang diperoleh.

 

Jumat, 24 September 2021

NASIHAT BUYA HAMKA



Tidak benar bila ada yang mengatakan beramal baik itu berat. Membutuhkan biaya dan tenaga. Beragama (beribadah) itu mudah ringan dan sangat menyenangkan. Seperti nasihat Buya Hamka, jika kita belum bisa membagikan harta atau membagikan kekayaan,  maka bagikanlah 'Contoh Kebaikan' karena hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.

Kewajiban itu hanya diberikan kepada mereka yang telah mampu memenuhinya. Zakat, hanya mereka yang hartanya ada kelebihan. Haji, hanya bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan menuju Baitullah. Mampu tenaganya, biayanya maupun terjamin keamanan perjalanannya.

Alasan apa lagi yang dibenarkan bila kita masih enggan berbuat kebaikan. Pastikan kita sudah melakukan yang terbaik dan beramal sesuai yang kita mampu. Bila kaya banyaklah bersedekah, bila pandai dan berilmu amalkanlah ilmumu, atau bila tidak berharta dan berilmu masih bisa beramal baik dengan sumbangan tenaga. Bila ketiganya tidak mampu, masih ada satu pilihan melakukan kebaikan, minimal dengan senyuman yang tulus setiap bersua dengan saudara kita.

Apabila tidak bisa melakukan kebaikan sama sekali, setidaknya tidak melakukan keburukan. Meninggalkan keburukan sama artinya beramal baik. Hilangkan penyakit hati seperti dendam, iri dan kebencian. Karena jika kita memelihara kebencian atau dendam, maka seluruh waktu dan pikiran yang kita miliki akan habis begitu saja, dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang produktif.

 

 

 

 

Kamis, 23 September 2021

SENI MENYUNTING KATA



Beberapa hari ini harus melototi komputer untuk menyelesaikan naskah buku. Meski lumayan lelah tapi ada kelegaan dalam hati. Puluhan file yang tersimpan dalam folder satu persatu dibedah lagi. Dibaca ulang untuk selanjutnya diteliti. Yang pasti kesalahan ketik (typo) pasti banyak ditemukan. Itu kesalahan yang lazim dalam dunia menulis.

Membaca naskah yang telah lama dibuat seakan menemukan hal baru. Mengingatkan kembali bagaimana dulu artikel diketik. Latar belakang dan suasana hati penulis. Ya, bagai berdialog dengan diri sendiri kembali. Ini salah satu yang menarik ketika sedang menyunting naskah.

Akan mudah mencari kesalahan dalam artikel yang telah diendapkan dalam tempo waktu  lama setelah dibaca kembali. Semua akan menjadi tampak jelas. Baik itu pemilihan diksi, tanda baca dan kesesuaian paragraf.

Menulis memang prosesnya panjang, tidak cukup sekali langsung jadi. Akan selalu ada perbaikan setiap kali kita membacanya kembali. Dan inilah menariknya seni menyunting kata, perlu kejelian, kesabaran dan ketelatenan seorang penulis.

Tidak berarti naskah yang berkali-kali disunting akan sempurna. Namun setidaknya itu adalah usaha yang maksimal yang mampu dilakukan oleh penulis. Ada kepuasan karena apa yang ia tulis sudah melalui usaha yang sungguh-sungguh sepenuh hati.

 

 

Rabu, 22 September 2021

BANYAK MEMBERI



Meminta itu tidak berdosa, tapi memberi memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Memberi tidak harus menunggu memiliki kelebihan. Karena dengan sedikit yang ia miliki ia masih bisa berbagi. Filosofi memberi itu “terima kasih”. Setelah menerima sesuatu selanjutnya mengasihkan ke orang lain. Begitu seterusnya hingga ada perputaran manfaat.

Memberi itu indikasi kepedulian, hatinya memiliki kelapangan. Karena tidak mungkin orang yang mementingkan diri sendiri rela berbagi. Dia akan selalu menumpuk, menghitung dan membanggakan hartanya. Seakan itulah yang akan mengekalkan dan membahagiakan hidupnya.

Memberi tidak akan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebangkrutan dan kehinaan. Seandainya memberi menjadikan orang semakin miskin, sudah pasti banyak orang yang tidak akan memberi lagi. Dan seandainya lebih banyak orang yang suka memberi daripada meminta, akan terjagalah kehormatan dirinya.

Orang bilang harta tak dibawa mati, tapi dengan memberi harta menjadi abadi. Itulah harta yang hakiki, karena akan tetap kembali pada pemiliknya. Logikanya, bila cinta harta dan mengharap ia tetap menjadi miliknya, seharusnya lebih banyak memberi.

Kelak saat telah berada di perut bumi, ada satu penyesalan besar manusia. Mengapa dulu ketika masih ada kehidupan dan kesempatan tidak banyak memberi. Dan seandainya masih bisa kembali ke dunia walau sesaat, pasti mereka akan memberi sebanyak-banyaknya harta yang dimiliki.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...