Jumat, 01 Oktober 2021

BIJAK MEMILIH TEMAN



Betapa penting peran teman dalam hidup kita. Kepada teman sering kita minta bantuan. Ketika ada kesulitan, tak jarang pula meminta saran dan pertimbangan teman. Bahkan terkadang teman itu lebih dekat dari saudara.

Teman sering memberi warna dalam kehidupan kita. Berteman dengan orang baik, ikut menjadi baik. Pun berteman dengan orang yang akhlaqnya tercela, banyak yang tergelincir mengikuti perilaku temannya. Seperti ungkapan, “Jangan bercermin di air yang keruh”. Jangan berteman dengan orang yang jahat, karena sangat mungkin berubah ikut menjadi jahat.

Sebenarnya tidak masalah berteman dengan orang jahat. Bila memiliki maksud berteman untuk mengajak kepada kebaikan. Berteman karena ingin membimbing mereka pada jalan yang benar. Bagaimana orang jahat bisa menjadi baik, bila semua orang baik menghindarinya?

Berteman dengan orang alim itu baik. Karena kita menjadi tawadhu dan memuliakan ilmu. Berteman dengan orang kaya juga perlu. Karena berteman dengan mereka (orang kaya) kita menjadi giat berusaha. Ada gairah bekerja keras untuk memenuhi hajat hidup dan menghindari sifat tama’.

Bila kita ingin tahu siapa teman sejati kita, itu sangat mudah. Dialah (orang) yang tetap ada di sisimu ketika engkau berada dalam masa-masa yang sulit. Teman sejati bukanlah orang-orang yang mengerumuni kamu hanya di saat engkau di puncak kesuksesan. Dan semua tahu sebaik-baik teman adalah….BUKU.

 

 

 

Kamis, 30 September 2021

HANYA KISAH KEHIDUPAN



Patah tumbuh hilang berganti. Generasi tua mulai menepi dan diganti dengan generasi muda yang darahnya masih segar. Idenya masih cemerlang dan geraknya masih lincah. Apa hendak dikata, manusia tidak bisa melawan usia. Di saat usia sudah masuk ke wilayah renta, semua tidak ada daya lagi. Tenaga yang dulu kuat berganti dengan fisik yang rapuh.

Begitulah rumus dunia. Semua berjalan dalam jalur dan kadar yang telah ditetapkan oleh Allah. Semakin yakin bahwa hidup ini harus dibiarkan terus berlalu. Karena memang tidak ada yang akan mampu menunda perjalanan waktu, apalagi menghentikannya.

Berbagai cerita menghias hidup kita. Sedih berganti bahagia, kemudian bahagia pergi berganti luka. Berbagai kesulitan pergi, kesulitan lainnya tiba. Tertawa bahagia berhenti, tertawa bahagia lain menanti. Karena itu tak pantas bahagia yang berlebihan, dan tak perlu pula bersedih yang mendalam.

Cerita luka dan pedihnya hidup itu milik semua orang. Tak akan ada yang hatinya tidak pernah tertoreh luka dalam kehidupan ini. Sebagaimana cerita bahagia dan keceriaan juga akan dikecap oleh siapa pun.

Tak perlu rasa cemburu itu. Jangan merasa diri paling menderita dan merasa orang lain lebih beruntung. Karena pada hakikatnya semua sama, hanya sekadar kisah kehidupan yang mesti dijalani….

 

Rabu, 29 September 2021

“Srempengan” Menyunting Naskah



“Srempengan”, begitu istilahnya. Pekerjaan yang banyak yang harus diselesaikan dengan segera membutuhkan kerja yang lebih. Lebih fokus dan harus dilakukan sedikit “Ngoyo”. Tentu saja model bekerja seperti membutuhkan konsentrasi dan tenaga yang besar.

Pada awalnya saya hanya ingin menyelesaikan satu naskah buku. Buku ketiga, “Jejak Pena Penulis Pemula”. Namun ternyata rencana harus direvisi karena tetiba muncul keinginan sekalian menyelesaikan naskah buku ke-empat. Memang konsep untuk buku ketiga dan keempat sudah lama saya siapkan. Hanya karena masih menunggu waktu yang tepat, kedua konsep buku tersebut belum tersentuh alias mangkrak.

Naskah buku keempat, “Narasi Panjang Seorang Guru” akhirnya selesai bersamaan dengan buku ketiga. Meskipun untuk itu saya harus srempengan pagi, siang hingga malam hari. Tapi semua tetap bisa dijalani dengan riang.

Setiap karya yang terbit sudah pasti memerlukan pengorbanan. Setidaknya waktu dan tenaga. Bila usaha yang kita lakukan hanya standar saja, kita tak akan puas dengan hasil yang kita capai. Hasil yang maksimal pasti buah dari usaha yang optimal.

Ibaratnya saya hanya menanam pohon. Apakah kelak pohon yang saya tanam akan berbuah lezat. Waktu yang akan membuktikannya. Buku-buku yang telah saya tulis pun demikian. Apakah akan membawa manfaat bagi pembaca, saya pun tak tahu. Tapi yang pasti semua proses yang telah saya jalani semua memberi sinar terang dalam hati, kebahagiaan hati.

 

Selasa, 28 September 2021

PENGEMIS ILMU



Kita tahu bahwa mencari ilmu itu tidak ada batas usianya. Dari saat masih dalam gendongan ibu tercinta hingga tiba ajal menjemput. Tapi lazimnya tradisi dalam masyarakat kita, praktiknya tidak demikian. Mencari ilmu biasanya akan mencapai titik kulminasi bila sudah menikah. Katanya "Tholabul ilmi minal mahdi ila rabi".

Disaat seseorang telah memulai kehidupan rumah tangga dia akan disibukkan dengan berbagai urusan seputar keluarga. Sehingga tak ada lagi waktu yang tersisa untuk melanjutkan mencari ilmu. Di sisi lain semangat tidak lagi sama ketika dulu belum berkeluarga.

Yang terjadi adalah stagnan di bidang ilmu pengetahuan karena tidak ada lagi aktivitas yang menunjang berkembangnya ilmu. Itu sama halnya dengan meruntuhkan sendiri kontruksi ilmu yang telah ia bangun bertahun-tahun. Seharusnya selalu ada porsi waktu untuk mencari ilmu meski sudah menikah. Setidaknya untuk tetap menjaga tradisi belajar.

Begitu seriusnya kita memenuhi kebutuhan ekonomi sehingga kebutuhan ruhani lupa kita pikirkan. Padahal keduanya harus dicukupi dengan seimbang. Ketika kekurangan uang kita sering cemas, namun bila kekurangan ilmu kita tenang-tenang saja.

Mencari ilmu semestinya tidak menunggu kita memiliki waktu longgar. Karena itu tanda kita tidak bersungguh-sungguh mencintai ilmu. Mencari ilmu seharusnya seperti seorang pengemis yang berjalan dari satu pintu ke pintu lain. Dia tidak menunggu ada orang yang datang memberinya sedekah, tapi terus berjalan dan selalu mencari.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...