Jumat, 08 Oktober 2021

HIDUP, SEBUAH PERJALANAN



Kemana harus mengadukan semua permasalahan hidup yang mendera. Kepada saudara, teman atau orang-orang terdekat kita?. Padahal mereka sama seperti kita. Memiliki beban hidup yang harus ditanggung.

Bila Anda memiliki seratus masalah, saya memiliki seribu masalah. Bila Anda merasakan kesedihan, saya pun tak ada bedanya. Kesedihan dan kebahagiaan selalu melekat dalam kehidupan manusia. Tak peduli apa atribut yang disandangnya, tinggi atau rendah pangkat yang diembannya serta miskin atau kaya statusnya.

Tak perlu lari dari segala beban yang menimpa. Hidup ini bukan pelarian tapi perjalanan. Dan memang tak akan mungkin bisa lari dari semuanya itu. Tak mungkin kita bisa menghindar dari kesedihan. Telan semua pil pahit kesedihan itu, dan berharap selalu di depan sana ada kebahagiaan yang membentang.

Tak ada masanya di dunia ini kita merdeka dari permasalahan hidup. Karena sejatinya masalah datang dan pergi seiring dan sejalan dengan langkah kita. Senyum akan berganti tangis, dan tangis akan pergi dengan kehadiran sebuah kebahagiaan.

Lelah memang. Menanggung beban yang menghimpit punggung. Tapi bila kita berserah sepenuhnya beban itu akan ringan. Kita lemah, tapi Dia menguatkan. Kita dalam kegelapan dan tak tahu arah, tapi Dia memberi penerang jalan dan petunjuk kebenaran.

 

Kamis, 07 Oktober 2021

TIDAK EGOIS



Dalam harta kita ada hak orang lain. Tentu sebagian orang akan menganggap hasil yang diperoleh dari kerja kerasnya adalah mutlak miliknya. Tidak ada urusan dengan orang lain. Mari kita pikirkan dengan mendalam. Apakah orang yang bekerja dengan cara halal dan tidak mengambil milik orang lain hartanya masih belum bersih juga.

Ilustrasinya seperti ini; Ada pedagang memiliki toko yang sangat laris. Keuntungannya berlipat-lipat bila dibanding dengan pemilik toko di sekitarnya. Dia jujur dan tidak pernah curang dalam berjualan. Sepintas memang dia tidak memiliki salah sama sekali, bersih. Pada kenyataannya, karena tokonya mendapatkan keuntungan begitu besar maka toko orang lain pun terkena dampaknya, tak banyak pembeli. Bahkan bisa jadi harus ditutup karena kerugian terus-menerus.

Begitu kaidah kehidupan, orang baik saja tetap ada salahnya. Apalagi orang yang memang perilakunya buruk. Pelajarannya adalah, kita tidak boleh egois. Bagaimana kita bisa mementingkan urusan sendiri, sementara kita hidup berbagi tempat dengan orang lain.

Tak ada yang mutlak menjadi milik kita. Kita semua bagaikan tamu yang hanya singgah sebentar, kemudian bergegas melanjutkan perjalanan panjangnya. Akan menjadi lucu kalau tamu bertindak seakan-akan menjadi tuan rumah. Demikian pula orang yang merasa memiliki dan menguasai titipan Allah yang diberikan kepadanya.

Semua hanya titipan yang dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan yang sebesarnya dalam kehidupan. Berbuat baik kepada orang lain hakikatnya berbuat baik pada diri sendiri. Maka dari itu jangan pernah egois

 

Rabu, 06 Oktober 2021

ORANG BAIK



Orang pintar belum tentu benar. Banyak orang yang diberi kemampuan kecerdasan akal dan keluasan pandangan (pengetahuan) namun di sisi lain hatinya culas. Sementara ada yang tidak termasuk orang pandai tapi memiliki kepribadian yang baik.

Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan orang pintar, cerdas dan memiliki keahlian khusus. Namun pendidikan juga bertujuan menjadikan orang memiliki akhlak yang mulia. Dua aspek sekaligus, jasmani dan ruhani, lahir dan batin.

Kata orang, “Jadilah orang baik tanpa menjelekkan orang lain, jadilah orang benar tanpa menyalahkan orang lain”. Untuk menjadi baik tidak harus dengan menghina dan merendahkan yang lain.

Intan berlian tetaplah berharga meski ia berada dalam kotornya lumpur. Meski seseorang dihina tapi bila sebenarnya ia mulia, tak akan ada pengaruhnya semua hinaan yang diterima. Dengan memuji tidak menjadikan orang yang dipuji mulia. Dan begitu sebaliknya.

Parameter kebaikan seseorang bisa dilihat dari perannya di tengah masyarakat. Sebaik-baik orang adalah mereka yang memberi kemanfaatan bagi orang lain. Tak perlu mengklaim kebaikannya sendiri. Karena orang akan menilai seperti apa nilai kita.

 

 

Selasa, 05 Oktober 2021

“RAKUS” ILMU



Tamak atau rakus adalah sifat yang merusak amal dan kebaikan diri yang sangat tidak sesuai dengan kehidupan kita sebagai orang beriman. Ketamakan yang merusak amal itu akan berakibat dengan kehinaan. Karena pada hakikatnya tamak adalah tanda rusaknya iman seseorang. Islam mendidik umatnya agar tidak tamak terhadap keduniaan.

Dampak buruk dari sifat tamak yaitu bisa membuat seseorang melakukan segala cara yang diharamkan demi mendapatkan harta yang diinginkan, seperti korupsi, suap, bisa pula nekat melakukan ritual-ritual syirik, dan lain-lain. Seperti banyak yang tampak dalam kehidupan modern saat ini. Apapun dihalalkan untuk tercapainya tujuan.

Namun ada sifat tamak atau rakus yang bisa dibenarkan atau bahkan justru dianjurkan. Yang dimaksud adalah tamak terhadap ilmu. Merasa selalu kurang dengan ilmu yang dimiliki dan selalu berusaha mencari tambahan ilmu.

Sifat “rakus” ini tidak berbahaya bahkan akan menjadikan orang mulia. Karena rakus ilmu seseorang akan belajar lebih giat dari orang pada umumnya. Dan karena ketamakannya terhadap ilmu ia akan memuliakan ilmu dan para ulama’.

Semakin banyak harta semakin sulit mengurusnya, sementara semakin tinggi ilmu seseorang justru ia akan terjaga. Harta sering melalaikan kehidupan akhirat, terutama bagi orang yang mencintainya secara berlebihan. Sedangkan ilmu yang bermanfaat akan semakin mendekatkan pemiliknya kepada rahmat Allah.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...