Minggu, 24 Oktober 2021

ETIKA BERGAUL



Rasa segan dan hati-hati dalam pergaulan itu baik. Tapi tidak tepat bila terlalu segan dengan orang yang sudah kita kenal dekat. Karena itu justru menjadikan pertemanan terasa kaku kehilangan rasa intimnya.

Dalam etika budaya Jawa kita biasa menggunakan basa krama (halus) kepada orang yang lebih tua. Menggunakan bahasa halus ini sebagai bentuk penghormatan. Bisa saja orang yang lebih tua berbahasa krama inggil kepada yang lebih muda sebagai edukasi. Namun yang lebih enak kalau komunikasi sesama teman menggunakan “bahasa ngoko” saja. Dengan bahasa yang apa adanya tidak terlalu formal justru akan menjadikan suasana lebih cair.

Sopan itu perlu dan menunjukkan ketinggian akhlak seseorang. Tapi sopan dengan temen dekat akan menjadikan sedikit aneh. Dan umumnya teman kita akan lebih senang bila kita bersifat biasa saja. Masak, dengan teman sedikit-sedikit minta izin atau permisi. Justru itu kesannya kita kurang percaya dengan teman dekat kita.

Jangan mudah merasa tidak enak hati dengan teman. Kita harus selalu berprasangka baik dengan teman. Inilah yang menjadikan suasana nyaman ketika bergaul dengan teman. Kesalahan-kesalahan kecil itu pasti terjadi dalam pergaulan, dan sebagai teman kita mesti memaklumi semua itu.

Ada sebagian masyarakat kita bila bertemu dengn teman dekatnya justru berkata-kata kasar. Ini tentu bahasa budaya yang tidak bermaksud menghina tapi justru menampakkan kedekatan.

 

 

 

Sabtu, 23 Oktober 2021

BERJUANG DENGAN HARTA



Perjuangan itu memerlukan biaya, tak cukup bermodalkan semangat saja namun juga membutuhkan pengorbanan harta. Bagaimana sejarah mencatat kaum muslimin mampu menaklukkan Persia dan meruntuhkan hegemoni Romawi. Semua karena kegigihan pahlawan-pahlawan Islam yang didukung dengan logistik yang besar.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas. Pada saat persiapan Perang Tabuk Sahabat Ustman Bin Affan menyumbangkan banyak hartanya. Sebelum itu Ustman Bin Affan sudah mempersiapkan kafilah dagang menuju Syam sebanyak dua ratus unta lengkap dengan barang-barang yang diangkutnya dan dua ratus uqiyah. Nilai satu uqiyah emas sebanding dengan 31,75 gram, bila asumsi harga emas sekarang sekitar Rp.900.000, maka satu uqiyah emas senilai Rp.28.575.000. Artinya beliau menyumbang uang senilai hampir 6 miliar. Itu belum termasuk nilai dua ratus unta dan muatannya.

Dengan sedekah sebanyak itu, ternyata masih ditambah lagi dengan seratus ekor unta dengan barang-barang yang diangkutnya, kemudian ditambah lagi dengan seribu keping Dinar (uang emas murni). Bahkan Ustman masih mengeluarkan lagi sedekah hingga semuanya senilai sembilan ratus ekor unta dan seratus kuda. (Dikutip dari Sirah Nabawiyah).

Dalam Sirah Nabi, kita mengetahui banyak sahabat Nabi yang hartanya berlimpah. Misalnya saja; Sahabat Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubayr ibn al 'Awwam. Memang Nabi tidak melarang para sahabatnya memiliki harta yang berlimpah. Dan meski banyak yang statusnya kaya-raya, mereka tapi tidak terbelenggu oleh kekayaannya. Hartanya cukup disimpan di tempat penyimpanannya, tidak diletakkan di hati. Maknanya kekayaan tidak menjadikan mereka pemuja harta, mencintai harta dunia secara berlebihan.

Mereka ringan menafkahkan harta demi menegakkan agama Allah. Sementara untuk kepentingan pribadi mereka mengambil harta hanya sesuai keperluan. Berharta banyak tapi memiliki pola hidup yang sederhana. Pada saat seperti itulah umat Islam mampu menundukkan dunia.

Keadaan sekarang yang kita alami mungkin kebalikan dari masa kejayaan ummat ini. Di saat banyak orang yang memiliki harta namun lebih senang menggunakan hartanya untuk menurutkan segala kesenangan diri. Mencintai dunia dengan berlebihan dan enggan menggunakan hartanya untuk berjuang. Dan inilah salah satu sebab yang menjadikan kejayaan agama mengalami kemunduran.

 

 

Jumat, 22 Oktober 2021

SANTRI KALONG



Hari ini 22 Oktober, kita peringati bersama sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Adapun tema yang diusung dalam peringatan hari santri tahun ini adalah “Santri Siaga Jiwa dan Raga”. Santri kini diakui memiliki peran penting bagi pembangunan bangsa. Bahkan peran santri telah nyata begitu besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Kita memahami bahwa santri merupakan sebutan bagi para pelajar yang belajar di pondok pesantren dan berguru kepada para kiai. Namun dalam makna yang lebih luas santri berarti orang yang mendalami agama Islam, kemudian beribadah dengan sungguh-sungguh (orang yang saleh).

Dalam khazanah dunia pesantren, dikenal juga istilah “Santri Kalong”. Pengertiannya, mereka yang datang ke pondok untuk mengikuti kegiatan mengaji atau madrasah atau kegiatan yang lain di pondok pesantren tetapi tidak menetap di pondok pesantren, setelah selesai mengikuti kegiatan di pondok maka akan kembali lagi ke rumahnya.

Santri tulen atau santri kalong tentu sama-sama telah mengecap pendidikan ala pesantren. Sama seperti santri tulen, santri kalong juga mengikuti tradisi pesantren; memakai songkok atau peci, baju koko, memakai sarung serta sandal jepit pada saat mengaji kitab kuning di pondok. Tradisi yang mungkin dalam paradigma pendidikan kontemporer sudah kuno.

Yang pasti kita tetap bangga menjadi santri. Bahagia pernah mengaji di pesantren, dekat dengan para Kiai dan selalu ngalap berkah kepada mereka yang alim. Seperti pesan guru kami, kalaupun kita bukan Kiai, setidaknya “mambu” Kiai. Senantiasa mencintai ilmu dengan selalu takzim dan menurut langkah para Kiai.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...