Sabtu, 30 Oktober 2021

MEMULIAKAN ORANG



Kita sering salah membuat penilaian terhadap orang lain. Parameter kita dalam menilai orang sering terbatas pada hal-hal yang bersifat materi. Tentu hal ini sudah menjadi kelaziman dalam masyarakat. Hampir semua orang ketika bertemu dengan orang yang penampilannya memukau secara reflek gesturnya akan memberi penghargaan atau penghormatan.

Tidak ada yang mendebat lagi, bila kita sebenarnya lebih memandang apa yang tampak oleh mata dibanding apa yang tidak terlihat. Sudah menjadi kebiasaan bila bertemu dengan pejabat, orang kaya atau tokoh ternama seseorang akan menampakkan sifatnya yang ramah. Bandingkan bila berjumpa dengan orang biasa, mengapa begitu berbeda sikapnya.

Menganggap jabatan dan harta sebagai puncak kemuliaan jelas keliru. Menjadi pemuja harta dan pemburu pangkat pada akhirnya akan masuk dalam kubang kehinaan. Nyatanya yang dipuja dan dan dikejar itu tidak menjadikannya ia kekal di dunia. Bahkan sejarah mencatat berapa banyak yang hidupnya berakhir dengan kepiluan.

Banyak yang terjebak merendahkan orang hanya karena ukuran fisik atau atribut yang disandangnya. Padahal, “Merendahkan orang lain saat kau tinggi, akan membuat kau berjalan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah”. Begitu kata seorang motivator Jamil Azzaini.

Menghormati orang tidak menjadikan kita menjadi hina, justru itu menunjukkan ketinggian akhlak seseorang. Tidak selamanya kemuliaan seseorang bisa dilihat dari penampilan fisiknya atau tinggi jabatan yang dia miliki. Bahkan tidak sedikit yang memiliki jabatan tinggi ternyata akhlaknya ternyata rendah.

 

 

Jumat, 29 Oktober 2021

ILMU TITEN, KHAZANAH LELUHUR KITA



Hari Jumat, pagi ini hujan turun dengan lumayan derasnya. Teringat dengan apa yang dikatakan orang-orang tua dahulu. Bila hari Jumat hujan, maka hari selanjutnya akan hujan juga. Mungkin semacam hari pembuka musim hujan. Sebenarnya ini bukan semacam ramalan atau mitos. Ini bagian dari khazanah leluhur kita orang jawa, ilmu titen.

Ilmu titen adalah salah satu pegangan hidup orang Jawa. Bagi masyarakat Jawa, “niteni” adalah adalah hal yang prinsipil. Pasalnya, konsep ini adalah aktualisasi dari falsafah Jawa, “Iling lan waspodo”, artinya ingat dan waspada.

Dalam falsafah tersebut, orang Jawa dituntun untuk iling, maksudnya ingat kepada Yang Maha Kuasa, dan selalu bersikap kehati-hatian. Sikap ini lantas membuat orang Jawa selalu niteni segala hal yang terjadi, misalnya tingkah laku manusia atau fenomena alam karena bisa diamati dengan pancaindra atau hal yang fisik bukan metafisik.

Dengan cara mengamati, orang Jawa terlatih untuk bersikap kritis-analitis ketika membaca situasi  serta selalu waspada dalam bertingkah laku. Falsafah ini tentunya lahir dari kearifan membaca alam, mengamati dengan saksama dan melakukan perenungan yang mendalam.

Ilmu titen sebenarnya bukan mistis, tapi lebih mirip hasil “riset” panjang dengan mempelajari pola-pola yang berlaku dalam alam semesta ini. Dan ini adalah kekayaan dan warisan leluhur yang layak dikaji dan dilestarikan.

 

 

 

Kamis, 28 Oktober 2021

FILOSOFI KOPI



"Urip iku koyo kopi, yen ndak iso nikmati rasane panggah pait". Hidup itu bagaikan secangkir kopi, jika kita tidak bisa menikmatinya yang dirasa hanyalah pahit. Dalam hidup ini banyak orang yang selalu merasa hidupnya kurang sempurna. Ia sering mengukur kebahagiaannya dengan ukuran orang lain. Padahal apa yang dilihat sering hanya sebuah fatamorgana. Amat banyak orang yang salah memahami tentang apa yang dia lihat. 

 

Seperti nasihat orang-orang bijak dulu. Urip iku mung Sawang sinawang, ungkapan yang maksudnya membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Ini juga mengandung ajaran untuk tidak membanding-bandingkan kehidupan seseorang dengan orang lain, karena apa yang dipandang belum tentu seindah atau semudah yang tampak. 

 

Bagaimana kita bisa menyimpulkan sesuatu yang hanya kita lihat. Padahal yang tidak terlihat oleh mata begitu kompleksnya. Apa yang tampak sering hanya bagian kecil dari entitas yang besar. Bisa saja kita melihat orang tersenyum sedangkan hatinya menangis pilu. Sangat mungkin penampilannya glamor, tapi hatinya jauh dari rasa bahagia.

 

Kita memang akan selalu berbeda dengan orang lain. Apa yang dimiliki orang lain belum tentu kita punya. Namun apa yang ada pada kita belum tentu juga orang lain memiliki. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya. Ada yang dilebihkan, dan pasti ada sisi kurangnya.

 

Jangan mengejar apa yang belum ada, tapi bahagialah dengan apa yang telah ada. Mungkin ini makna syukur yang sejati. Karena dengan bersyukur Allah pasti akan mendatangkan dan melipatkan kebahagiaan. Jadi jalani hidup seperti sedang menikmati secangkir kopi.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...