Rabu, 12 Januari 2022

TIDAK PATAH ARANG, TERUS MENULIS



Apa manfaatnya menulis setiap hari?. Tentu yang merasakannya adalah mereka yang selalu istikamah menulis setiap hari. Banyak penulis mendapatkan manfaat berbeda dari aktivitas menulisnya. Ada manfaat dari segi materi, kesehatan maupun segi psikologis.

Sebagai pendatang baru yang masih tahap belajar, saya merasakan sendiri aktivitas menulis memang sarat manfaat. Memang manfaat yang saya maksudkan bukan dari aspek materi, tapi lebih pada manfaat yang immaterial. Tentu menggambarkan apa yang dirasakan itu tidak mudah, karena sering kata-kata jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.

Bila menulis berharap diapresiasi, mungkin saya sudah lama berhenti. Jika menulis karena mengharap banyak yang membaca, pasti saya telah rehat sejak lama. Menulis hari ni, ya menulis begitu saja. Saya tak banyak berharap dari aktivitas menulis.

Dunia menulis memang akrab dengan kesunyian. Sering kali menulis sekadar dialog imajinasi dalam diri sendiri. Pertanyaan yang dijawab sendiri, alasan yang disangkal sendiri, dan deskripsi panjang yang mencerikan gejolak hatinya sendiri.

Tapi apapun itu, saya tetap mencintai dunia menulis. Dunia yang seakan megembalikan harapan yang hilang. Dunia yang membuat saya percaya diri kembali tumbuh setelah lama terkubur kegelisahan hati. Dunia yang menjadikan saya lupa sebentar tentang beratnya semua beban kehidupan.

 

Selasa, 11 Januari 2022

MENDIDIK DIRI SENDIRI



Jangan salah, diri sendiri juga perlu dididik dan dilatih. Kebiasaan kita selama ini terlalu lunak dengan diri sendiri. Kita sering memberi maaf bila diri melakukan kesalahan, padahal bila orang lain yang bersalah terhadap diri kita terkadang sulit memaafkan.

Tidak salah memberi hukuman terhadap diri sendiri. Karena terlalu lunak dengan diri sendiri menjadikan kita terhanyut dalam kesalahan yang akan selalu berulang. Ambil saja contoh sederhana. Karena malas kita meninggalkan kebiasaan mengaji yang setiap hari dikerjakan. Andai saja sehari satu halaman, seharusnya sebanyak itu pula yang harus kita baca ketika lama tidak membaca al-Qur’an. Menutup kekosongan yang ditinggalkan pada kesempatan lain.

Diri yang dididik dengan “keras” akan menjadi disiplin. Sedangkan sikap lunak sering membuat kita menjadi pemalas dan menurutkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfa’at. Dan bila kita bisa keras terhadap orang lain, seharusnya kita juga bisa keras terhadap diri sendiri.

Keras bukan berarti tanpa mempertimbangkan aspek penyegaran dan istirahat. Yang tetap diperlukan adalah menjaga ritme kapan harus disiplin dan kapan harus mengistirahatkan tubuh. Semua memiliki porsi yang sesuai. Terlalu keras sehingga mengabaikan kebutuhan istirahat akan merusak. Sebaliknya istirahat yang terlalu panjang akan menjadikan tidak produktif.

Di saat usia semakin menua, di saat itu pula akan jarang kita menerima nasihat dan saran dari orang. Padahal selamanya manusia membutuhkan saran dan bimbingan. Maka dari itu sikap disiplin dan keras terhadap diri sendiri akan selalu menjadi kontrol. Setidaknya kita tidak terlalu menyimpang dalam bertindak.

 

 

Senin, 10 Januari 2022

“SULITNYA” MENULIS



Dalam beberapa hari begitu sulit memulai menulis. Aneh memang. Biasanya ketika membuka laptop atau PC kemudian memulai mengetik semua akan berjalan normal. Kata demi kata akan tertata menjadi rangkaian kalimat. Kalimat satu disambung dengan kalimat berikutnya akan menjadi sebuah paragraf yang utuh. Tapi entahlah, beberapa hari ini seperti selalu menemui jalan buntu.

Bukannya tidak mencoba memulai. Semua sudah diawali sebagaimana hari-hari sebelumnya. Tapi lagi-lagi harus “bolak-balik” men-delete kata yang telah diketik. Walau sudah sedikit memaksakan diri selalu terhenti di tengah-tengah aktivitas menulis, tidak tahu apa yang ingin ditulis selanjutnya. Yang pasti saat ini saya sedang mengalami kebuntuan menulis (writer’s block).

Kata para penulis, semua orang yang membiasakan diri menulis pasti akan mengalami hal yang serupa. Ada waktunya seperti kehilangan ide dan tak mengerti harus menulis apa. Wajar saja, itu adalah masalah yang pasti menjangkiti semua penulis. Obatnya juga semua sudah tahu, apalagi selain tetap menulis. Ketika kebuntuan tiba, kita hanya perlu jeda sebentar. 

Sejenak lupakan dulu tentang menulis. Kita harus beralih ke aktivitas lain yang menyenangkan. Dan apabila pikiran sudah segar kembali, saatnya mencoba kembali untuk menulis. Yang kita butuhkan hanya mengembalikan gairah menulis yang lesu. Karena kebuntuan menulis sering kali terjadi karena menurunnya semangat dalam menulis. 

Kebuntuan menulis pastinya akan datang berulang. Hari ini kita bisa mengatasinya, tapi pada lain kesempatan kita akan mengalami situasi yang sama. Dan, untuk mengatasinya kita juga memerlukan cara yang sama. Kita mesti waspada, karena kebuntuan yang diturutkan lambat tapi pasti akan mengubur spirit menulis.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...