Senin, 17 Januari 2022

GHOZALI, OH GHOZALI…



Seorang pemuda sedang viral menjadi bahan pembicaraan seantero negeri. Dialah Ghazali (22 tahun) alias Ghozali Everyday. Ia menarik perhatian di sosial media karena keberhasilannya menjual ratusan foto selfie dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT). Melalui platform jual beli NFT yaitu Open Sea. Ghozali berhasil meraup untung hingga puluhan juta rupiah dari hasil penjualan foto selfienya dari awalnya hanya puluhan ribu rupiah hingga saat ini senilai miliaran rupiah.

Mengutip dari portal berita online, foto selfie Ghozali dibandrol dengan harga Rp 45 ribu kini laku di angka Rp 14 Juta per foto. Seiring bertambahnya peminat harga foto selfie pun terus meroket. Dari sekian banyak foto selfienya (900 lebih) semua terjual dengan pendapatan hampir 2 miliar.

Bila sebuah karya bernilai seni tinggi seperti lukisan karya Leonardo da Vinci atau Pablo Picaso laku miliaran rupiah dalam sebuah lelang, kita tidak heran. Tapi ini hanya foto selfie dari orang biasa. Dia bukan tokoh besar atau artis terkenal dunia, wajahnya juga biasa-biasa saja seperti umumnya orang. Tapi mengapa bisa terjual dengan harga miliaran rupiah.

NFT memang sudah eksis dengan berbagai karya seni yang unik dan mempunyai nilai. Namun memang pasarnya masih sangat terbatas. Menurut pakar digital, foto selfie Ghozali sepertinya sengaja diborong untuk mendongkrak harga hingga viral dan timbul minat pada industri tersebut. Sehingga, masyarakat cenderung melihat industri NFT ini sebagai fenomena yang baru.

Efek dari foto Ghozali yang dijual dengan angka yang fantastis akan membuat minimal pencarian apa itu NFT akan meningkat. Orang akan jadi lebih mengenal NFT. NFT memiliki beberapa keungulan, salah satunya terkait tingkat keasliannya. Konsep NFT memungkinkan pembeli memiliki barang asli tanpa ada yang bisa menirunya. Tidak hanya itu, NFT juga menyertakan bukti kepemilikan dalam bentuk sertifikasi.

Fenomena Ghozali sebenarnya hampir sama dengan fenomena uang Cripto. Cryptocurrency atau uang kripto adalah mata uang yang tengah populer dalam beberapa tahun terakhir. Di dunia, ada banyak jenis uang kripto yang beredar salah satunya Bitcoin. Nilai uang Cripto dalam 10 tahun nilainya bisa meningkat menjadi puluhan ribu kali lipat. Ini menjadikan pemilik Cripto menjadi kaya mendadak, sama seperti Ghazali….

 

 

Minggu, 16 Januari 2022

HARUS BERANI BERUBAH



Dunia ini berputar terus. Waktu akan berganti dengan silih berganti sampai kelak kehidupan dunia ini berakhir. Berjalannya waktu akan selalu membawa perubahan dari masa ke masa. Tata cara kita bekerja dan jenis pekerjaan pasti berubah. Mode pakaian atau makanan juga mengalami perubahan. Dan semua yang menjadi tradisi masyarakat tak mungkin statis begitu-begitu saja, pastinya juga perlahan akan berubah.

Bertahan dari semua perubahan adalah sebuah kemustahilan. Karena secara pribadi maupun kelompok kita tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi komunikasi. Dunia kita hanya satu, dan tidak mungkin kita membuat sekat dari perubahan. Apa yang terjadi di belahan dunia sana, pasti akan berdampak pula sampai di tempat tinggal kita. Ya, karena kita bisa menyaksikan semua perubahan itu.

Bumi yang kita tempati ini milik bersama. Kita berbagi dengan miliaran orang yang memiliki adat dan cara hidup yang berbeda. Dan kita tidak bisa mencegah atau membatasi hal baru yang masuk ke tempat kita berpijak. Dan era digital semakin menjadikan bumi kita terasa kecil, semua serba cepat berubah. Apa yang terjadi di mana pun tempatnya dengan mudah akan memberi efek secara global.

Apa yang harus berubah biarlah berubah. Kita juga akan mengikuti tatanan baru selama hal yang esensial tidak kita rubah. Selama itu hanya urusan selera makan, selera berpakaian maupun urusan budaya dalam masyarakat tidak masalah berubah. Tapi urusan yang hakiki menyangkut keimanan dan syariat yang telah baku pantang untuk bergeser walau sejengkal.

Yang tidak kalah penting dari makna perubahan adalah perubahan dalam diri kita sendiri. Kita harus membuka diri dari perubahan selama itu positif dan menjadikan diri lebih baik dari pribadi sebelumnya. Sangat beruntung bila kita sudah mampu berbenah dan melakukan hal kecil yang baik kemudian dilakukan terus menerus. Karena itu bisa menutup kebiasaan buruk yang selama ini sulit dihilangkan.

 

 

Sabtu, 15 Januari 2022

FENOMENA “FLEXING” DI MEDSOS

 



Media sosial akhir-akhir ini seolah menjadi panggung untuk pamer harta. Muncul banyak anak-anak muda yang mengklaim sebagai orang kaya baru. Bahkan mereka tidak segan menyebut dirinya sebagai “sultan” atau “crazy rich”.

Untuk meyakinkan banyak orang (netizen) para “sultan baru” tadi tampil dengan gaya super mewahnya. Memkai pakaian yang serba mahal, asesoris bermerek terkenal dari luar negeri hingga memakai mobil sport yang pasti mahal harganya seperti Lamborgini, Ferrari dan Rolls Royce. Yang membuat kita heran, saldo rekening bank yang nominalnya 12 digit juga merek pamerkan.

Begitu bangganya mereka diakui sebagai orang yang sukses yang kaya raya. Rasa malu seakan tidak ada lagi. Padahal budaya luhur dan ajaran agama kita mengajarkan untuk rendah hati dan tidak sombong dengan apa yang dimiliki. Kita semua menyadari apa yang menjadi milik kita hari ini hanya sekadar titipan yang sewaktu-waktu pasti akan diambil oleh pemilik yang sebenarnya.

Umumnya mereka yang kaya mendadak adalah kalangan selebritis yang terjun di platform Youtube. Dengan modal ketenaran mereka tanpa kesulitan mendulang penonton dan subcriber di akun Youtube yang dikelola. Jadi meski konten yang “dijual” kurang bermutu tetap saja mereka mendapat penghasilan yang berlimpah.

Dunia digital merubah dengan cepat banyak hal dalam kehidupan masyarakat kita. Kalau zaman dahulu untuk menjadi kaya harus melalui kerja keras dan proses panjang, sekarang banyak orang bisa menjadi kaya dengan cara yang instan. Tidak perlu memiliki aset yang besar seperti pabrik dan perkebunan untuk menjadi kaya, karena dengan modal populer juga bisa menjadi kaya raya. Mungkin ini yang menjadikan orang pamer (flexing) kekayaan, karena secara mental mereka belum siap menjadi kaya.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...