Senin, 28 Maret 2022

ZAMAN HURU-HARA





Apa benar saat ini kita di ambang huru-hara besar?. Memang di kampung kita, negeri kita tidak ada huru-hara, tapi saat ini ada beberapa peristiwa terjadi di belahan bumi yang lain yang menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan kita semua.

Perang sedang berlangsung, Rusia masih membombardir Ukraina. Beberapa negara terseret dalam konflik besar ini baik secara langsung maupun dari balik panggung. Belum juga ini berakhir kita juga dibuat was-was dengan situasi kawasan lain.

Taiwan bersiap-siap menghadapi invasi China. Sementara Korea Utara masih menebar ancaman dengan sering melakukan uji coba nuklirnya. Tentu yang merasa terancam adalah Korea selatan dan Jepang. Iran juga terus bersitegang dengan Israel. Kemudian yang terbaru India dan Pakisatan juga memanas hubungan bilateralnya. Dampak invasi Rusia menimbulkan situasi keamanan dunia menjadi rawan.

Mungkin ini yang digambarkan dalam jagad akan tiba sebuah masa (titi mongso) sulit dan gelap gulita dalam kehidupan. Masa gelap tersebut dinamakan dengan istilah goro-goro, yang ditandai dengan beberapa pertanda alam. Masa goro-goro atau zaman huru-hara dimulai dari prubahan alam dan hubungan sosial manusia.

Banyak hujan yang salah musim guntur dan guruh sambar menyambar, mengakibatkan gelap gulita tanpa cahaya. Hujan deras disertai dengan badai taufan serta banjir bandang di mana-mana. Gunung meletus yang disertai dengan gempa bumi, tanah-tanah keras pada rontok, tebing banyak yang longsor dan puting beliung beriringan.

Sementara gejala-gejala sosial juga bisa kita lihat sekarang. Orang-orang yang dituakan sudah tidak menjalankan fungsinya lagi sebagai pengayom sedangkan para ksatriya telah kehilangan jiwa patriotnya. Tua ataupun muda saling menghujat dan menghajar, saling berebut menjadi pemimpin terdepan. Telah lenyap peri kemanusiaan, kepribadian bangsa ditinggalkan, menjauhi kasih sayang antar sesama manusia. Tak pernah menghiraukan kesengsaraan orang lain, yang penting terwujud keinginan pribadinya.



 

 

Minggu, 27 Maret 2022

GEMBIRA MENYAMBUT RAMADAN



Ramadan 1433 Hijriyah hampir tiba, dan seakan “aroma” Ramadan telah kita rasakan kehadirannya. Ramadan selalu disambut gembira dengan berbagai tradisi masyarakat yang sudah turun-temurun. Salah satu tradisi menyambut bulan suci Ramadan adalah “megengan”, tentu ini sudah sangat akrab dengan masyarakat kita.

Megengan pada intinya adalah sedekah makanan. Berharap dengan sedekah yang diberikan kepada saudara dan tetangga sekitar, Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya berupa umur panjang dan kesehatan lahir batin sehingga mampu melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan.

Jangan sampai kita sedih ketika Ramadan tiba. Merasa ibadah puasa sebagai pengekang kebebasan, justru sebaliknya kita mesti gembira bersukaria menyongsong Ramadan. Gembira karena dapat berjumpa dengan bulan yang dinanti-nantikan.

Kita tidak bisa menjamin bahwa usia kita akan mengantarkan kita pada bulan penuh keberkahan ini, kecuali atas izin Allah semata. Banyak yang ingin berjumpa dengan bulan Ramadhan, tetapi Allah berkendak lain. Mereka lebih duluan menghadap Allah. Sehingga keinginan untuk berpuasa di bulan ramadhan tidak menjadi kenyataan.

Rasa gembira kita tentunya harus dilandasi dengan rasa syukur kepada Allah atas umur yang masih diberikan. Sehingga tidak ada waktu yang kita sia-siakan jika kesempatan ini diberikan oleh Allah. Masih ada kesempatan untuk mengisi Ramadhan dengan puasa untuk meraih Rida-Nya. Mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, iktikaf dan sujud panjang di tengah malam Ramadan yang penuh kemuliaan. Semoga Ramadhan tahun ini ibadah kita lebih sempurna, Amin…..

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...