Jumat, 06 Mei 2022

Kembali ke Fitri, Kembali Membangun Pendidikan



Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022 tahun ini bertepatan dengan hari raya idulfitri 1443 Hijriyah. Dua peristiwa penting terjadi secara bersamaan. Dan ini menjadi momentum yang sangat baik untuk merefleksikan cita-cita luhur bangsa kita, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan menjadi hal elementer yang mesti mendapatkan perhatian yang serius. Pendidikan memiliki korelasi yang nyata dengan kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa yang dikatakan maju sementara pendidikannya tertinggal. Yang pasti setiap bangsa yang telah mencapai kemakmuran, pendidikannya pasti maju.

Perayaan idulfitri dimaknai sebagai kegembiraan pribadi muslim yang telah mampu melalui tugas mulia yakni melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Ada yang mengartikan ini sebagai proklamasi kemenangan. Menang dari godaan, menang dari nafsu dan menang dari keinginan-keinginan yang bertolakbelakang dari nilai ibadah di bulan suci.

Lalu, apakah kita pantas merayakan semua itu bila kita masih melihat dengan nyata bahwa pendidikan kita masih tertinggal. Jangankan “diadu” dengan negara-negara yang mapan pendidikannya. Dibandingkan dengan negara ASEAN saja seperti Singapura, Malasyia dan Thailand kita tidak lebih unggul.

Kembvali ke fitrah, seharusnya juga kembali memikirkan dan membangun pendidikan kita. Apa artinya kita memiliki infrastruktur yang serba mewah bila manusianya tidak memiliki pengetahuan yang tinggi. Tak guna kekayaan alam yang melimpah, bila kita tidak memiliki kemampuan mengolahnya dan terus bergantung dengan kekuatan asing.

 

 

 

 

 

Kamis, 05 Mei 2022

Kejamnya Real Madrid



Babak semifinal Liga Champion eropa UCL 2021/22 baru saja selesai (dini hari) tadi. Liverpool akhirnya bertemu dengan Real Madrid pada babak puncak (final) tahun ini. Bisa dikatakan ini merupakan final ideal, karena keduanya adalah klub yang banyak mengoleksi gelar liga champion.

Banyak pihak yang tidak terkejut bila Liverpool akan menjadi finalis tahun ini, karena yang dihadapi pada babak semifinal “hanya” Villareal. Namun hasil Real Madrid melawan Man City penuh dengan kejutan. Real Madrid memang kurang diunggulkan di leg kedua ini. Meski bermain di Santiago Barnebau, Los Blancos harus mengejar defisit satu gol usai kalah 4-3 di Etihad Stadium pada pekan lalu.

Namun Real Madrid tetaplah Real Madrid. Meski kalah pada pertemuan pertama dan tertinggal 1-0 pada pertemuan kedua hingga menit ke-90, tetap saja Real Madrid bisa membalikkan keadaan. Real Madrid kembali menunjukkan DNA mereka sebagai raja Eropa. Mereka berhasil meraih “epic comeback” dengan dramatis.

Pada menit ke-75 Riyad Mahrez berhasil mencetak gol untuk City. Real Madrid baru bisa membalasnya pada menit ke-90 melalui pemainnya Rodrygo. Skor berubah menjadi 1-1. Gol Rodrygo itu memantik semangat para pemain Real Madrid. Benar saja, dua menit berselang, Rodrygo kembali membobol gawang Ederson memanfaatkan umpan silang dari Carvajal. Skor berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Real Madrid.

Di masa injury time, intensitas pertandingan meningkat. Namun skor 2-1 tidak berubah sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak ekstra time. Petaka terjadi, Ruben Dias membuat kesalahan fatal. Ia melanggar Karim Benzema di dalam kotak penalti dan wasit langsung menunjuk titik putih. Benzema yang menjadi eksekutor penalti sukses mengelabuhi Ederson dengan tembakan mendatarnya. Gooll… skor berubah menjadi 3-1 untuk keunggulan Real Madrid.

Madrid memang kejam. Di saat Man City hampir merayakan kemenangan, para pemain Madrid sukses membalikkan keadaan. Begitulah sepak bola, terkadang hasilnya memang menyakitkan hati. Secara permainan, penguasaan bola dan peluang mencetak gol Man City sebenarnya lebih unggul. Tapi hasil akhir yang akan tetap dicatat oleh sejarah. Bravo Real Madrid….

 

 

 

Rabu, 04 Mei 2022

LUCUNYA TEMANKU #2



Bisa sekolah sampai tingkat lanjutan tsanawiyah ataupun aliyah di masa saya dulu (tahun 90-an) menjadi hal yang istimewa. Tidak semua anak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah menjadi hal yang biasa dan umum.

Anak-anak sekolah generasi saya jarang yang membawa uang saku. Hanya sebagaian siswa yang orang tuanya katagori mampu saja yang bisa jajan di sekolah setiap hari. Dan saya tergolong anak yang tidak biasa jajan, bukan karena hemat tapi karena memang tidak pernah dapat jatah uang saku.

Meski jarang membawa uanga saku, bukan berarti kami tidak pernah jajan di kantin atau warung yang ada di dekat sekolah. Sesekali ada saja teman yang “traktir” mengajak kami ke kantin. Ya, paling cuma semangkuk bakso atau sepiring nasi pecel. Itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri, karena semua gratis alias tanpa bayar.

Siang itu, waktu istirahat teman saya Roni sedang duduk di teras masjid dekat sekolah kami. Sesaat kemudian dua temannya datang sambil nyeletuk, “Yuk ke kantin makan bakso!”. Dengan sigap Roni menjawab, “Ayo”. Bagai mendapat durian runtuh, Roni bergegas dengan penuh semangat beserta dua temannya menuju kantin sekolah.

Tanpa basa-basi sesampai di kantin ketiganya memesan apa yang diinginkan masing-masing. Dengan lahap Roni dan kedua temannya menikmati makanan di kantin dan sesekali mereka melempar candaan.

Setelah semua selesai menikmati hidangan, tiba-tiba Roni merasa ada gelagat yang aneh. Mengapa kedua temannya tetap diam saja tidak segera membayar bon mereka. Justru mereka tampak seperti kebingungan dan saling pandang. Akhirnya Roni bertanya, “Ini siapa yang bayar?”. Kedua temannya tampak semakin gugup. Salah satu menjawab dengan terbata, “Kami tidak bawa uang”.

Ealah… rupanya kedua teman Roni yang mengajak ke warung bukannya mau mentraktir, justru minta ditraktir. Padahal saat itu Roni sedang tidak membawa uang, dan dia senang ketika diajak ke warung karena berpikir akan mendapat traktir dari kedua temannya itu. Walhasil, ketiganya makan tanpa ada yang membawa uang. Dengan sedikit menahan malu roni berkata kepada pemilik warung, “Bu, mohon maaf kami lupa bawa uang, jadi bayarnya besok saja”. He..he apesnya Roni…

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...