Senin, 09 Mei 2022

HARGA MAHAL, (KATANYA) JANGAN MENGELUH !



Harga-harga kebutuhan pokok kini banyak yang meningkat (naik). Tentu keadaan ini sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Setelah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) hampir semua komoditas yang dibutuhkan sehari-hari ikut merangkak naik. Urusan minyak goreng sebenarnya belum selesai. Kini ditambah lagi dengan berbagai “urusan” yang memusingkan masyarakat.

Ada yang mengeluarkan pernyataan (tokoh nasional), katanya masyarakat jangan cengeng menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Hadapi saja, karena ini adalah situasi yang sebenarnya umum terjadi. Memang ada benarnya juga. Tapi kita juga harus “adil” dalam mengeluarkan pernyataan. Jangan hanya kita melihat sisi keluhannya saja, tapi harus bisa melihat permasalahan yang terjadi secara menyeluruh.

Dari sudut pandang produsen, kenaikan harga barang sebenarnya memang sangat diharapkan. Tapi dari sisi konsumen kenaikan harga barang-barang tentu memberatkan. Kita ambil contoh, bila harga sayur dan hasil pertanian meningkat, tentu itu menguntungkan petani. Begitu pula bila hasil peternakan mengalami kenaikan harga, para peternak akan mengalami kemakmuran.

Memang normal ketika harga kebutuhan pokok naik. Tapi kenaikan yang terjadi secara bersamaan menjadikan masyarakat kelimpungan juga. Iuran BPJS naik, pajak kendaraan naik, listrik naik, gas elpiji, begitu pula kebutuhan pokok. Lalu, kenaikan-kenaikan tadi tidak diimbangi dengan pendapatan masyarakat yang naik.

Bagaimana dengan bantuan tunai dari pemerintah?. Tentu semua itu belum memadai. Meski sangat membantu masyarakat ekonomi lemah, bantuan tunai hanya bersifat sementara yang seolah menjadi penghibur semata. Setelah itu masyarakat ekonomi lemah juga akan merasakan betapa sulitnya memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

 

Minggu, 08 Mei 2022

Puasa Ular, Atau Puasanya Ulat?

 



Selepas Ramadan, kita memasuki bulan Syawal yang sangat “sibuk”. Ia, masyarakat kita punya tradisi sillaturrahim pasca perayaan idulfitri. Sampai-sampai kita menganggap bulan Syawal adalah bulan meminta maaf dan waktu yang tepat untuk mengeratkan kembali hubungan antar saudara, kerabat, teman maupun dengan para tetangga.

Sebenarnya kita mengetahui, sillaturrahim seharusnya dilakukan tidak hanya pada bulan Syawal. Begitu pula meminta maaf kepada orang, tidak perlu menunggu datangnya bulan Syawal. Karena sudah menjadi tradisi yang telah berjalan lama, semua dirasa memang sangat pantas dan diterima secara luas. Idulfitri tanpa kunjung-mengunjungi serasa bukan perayaan hari besar. Buktinya selama dua tahun yang telah berlalu kita merayakan Idulfitri tanpa “gairah”, karena tidak ada mudik dan saling sillaturrahim.

Biarkan tradisi terus berjalan. Beginilah cara kita merayakan Idulfitri, yang tentunya berbeda dengan negara atau masyarakat lain. Tapi yang mesti kita perhatikan adalah ibadah kita pada bulan Syawal ini. Di saat bula Ramadan kita giat melaksanakan berbagai amalan wajib dan sunah, apakah di bulan Syawal kita masih dalam mode yang sama atau bahkan meningkat.

Bila ibadah di bulan Syawal semakin bagus, itu adalah tanda puasanya membawa dampak peningkatan ketaqwaan. Namun bila sebaliknya, ketika bulan Syawal kualitas ibadah kembali menurun seperti pada bulan-bulan sebelum Ramadan, sangat mungkin puasa Ramadan yang dikerjakan belum memberi “bekas” yang berarti. Puasa hanya sebatas ritual tahunan yang selalu diulang.

Yang benar, merayakan Idulfitri tidak hanya dengan baju yang baru. Namun dengan jati diri baru yang lebih baik. Seperti sebuah perumpamaan puasa ular dan kupu-kupu. Katanya, ketika hendak ganti kulit ular juga melakukan puasa. Tapi yang berganti hanya kulitnya saja, karena tabiat ular tidak berubah sama sekali. Sementara ulat, melakukan puasa untuk merubah dirinya secara total, karena bentuk tubuh hingga sifatnya berubah. Lalu, katagori puasa apa yang kita kerjakan?. Puasa ular atau puasanya ulat…….

 

Sabtu, 07 Mei 2022

MENULIS CERITA



Ada banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan seseorang, bisa saja itu adalah pengalaman hidup sendiri ataupun kisah orang lain yang kita ketahui. Jika kkita hendak menulis sesuatu, kita bisa mengamati keadaan sekitar, karena tanpa disadari ada banyak hal yang terjadi di sekitar kita yang bisa dijadikan inspirasi atau ide.

Mungkin saja apa yang kita lihat ataupun alami adalah hal sederhana yang tidak penting. Tapi jangan menganggap semua itu tidak perlu ditulis. Mungkin benar cerita yang kita tulis adalah kisah yang ringan, tapi sangat mungkin itu menjai sumber inspirasi bagi pembaca.

Lembaran-lembaran hidup kita semua akan tergambarkan dengan nyata, bila kita berkenan untuk selalu menulisnya. Memang benar, tidak semua harus ditulis. Ada sisi-sisi kehidupan kita yang harus menjadi privasi dan tidak perlu orang lain tahu.

Bila saja setiap hari kita mampu menulis satu halaman, maka dalam setahun kita mampu melahirkan tiga ratus lebih cerita. Sangat disayangkan bila cerita-cerita yang semestinya bisa kita bagi hanya menjadi dokumen pribadi yang terus disimpan. Ada masanya seseorang mengalami penurunan daya ingat. Bila semua cerita tadi belum sempat ditulis sudah pasti semua akan hilang dengan percuma.

Cobalah dan terus mencoba. Menulis menjadi pilihan yang realistis dan menyenangkan bila ditekuni dengan sungguh-sungguh. Seperti hobi-hobi yang lainnya, menulis juga akan mendatangkan kepuasan batin. Jangan memiliki anggapan yang salah. Menulis itu berat dan membosankan.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...